HANTU JELITA
HANTU JELITA
Seorang pria separuh baya menelpon aku
dan minta bertemu. Karena baru kenal via telpon, aku bertanya detil kepadanya,
bertemu dengan aku ini untuk urusan apa?
“Saya akan memperagakan kepada Anda bagaimana
menyantet seseorang dengan kekuatan suara. Saya akan membuktikan mampu
menyantet orang lewat handphone!” ujarnya, mantap.
“Siapa
yang akan Anda santet?” tanyaku, penasaran. Sebab, kataku, bila mempraktekkan
santet suara itu, berdemo, pastilah ada sasaran santetnya. Dan kalau benar
ampuh, orang tersebut akan mati langsung. Menurutnya, mati dalam hitungan
detik, bukan lagi menit atau jam. Ah, apa iya sih?
Jujur
saja, aku agak takut bertemu dengan penelpon ini. Untuk itu aku meminta waktu
berfikir, menimbang-nimbang sebelum
memutuskan untuk bertemu. Jangan-jangan, pikirku, penelpon ini benar-benar
penyantet ulung dan aku sendiri bisa dihabisinya lewat keilmuan gaibnya itu.
Atau, bisa juga, penelpon ini seorang psikopat. Orang stress, gila atau
mengalami gangguan jiwa.
“Jangan
takut, saya orang waras. Jangan kuatir bahwa saya akan mencederai Anda. Saya
pengagum artikel-artikel Anda dan saya mau bersahabat dengan Anda sampai
kapanpun,” imbuhnya, datar.
Setelah
berulang kali dia menelpon dan serius akan berlaku baik kepada saya, saya
tertarik juga untuk bertemu dengannya. Tapi, pikirku, pertemuan itu haruslah di
tempat yang aman dan terbuka. Artinya pertemuan itu rahasia namun di tengah
banyak orang. Dengan begitu, aku merasa aman dan nyaman, tidak kuatir akan
dianiaya atau diperdayai oleh penelpon ini. Maka itu, restoran, menjadi
satu-satunya tempat yang layak untuk dipilih.
“Baik,
saya mau bertemu dengan Anda, tapi di restoran Padang, rumah makan Sedeshana di
Bumi Serpong Damai!” kataku.
Penelpon
yang mengaku bernama Kanjeng Gusti Anggodo ini tidak keberatan lokasi pertemuan
yang aku ajukan. Dia langsung setuju dan jam serta tanggal pertemuan pun, sudah
diatur.
“Anda
akan menggunakan baju apa nanti dan cirri-ciri khusus apa dari diri Anda
sehingga saya mudah mengenali. Sebab kita belum pernah bertemu selama ini,”
pancingku.
“Tenang
saja adinda, saya sudah mengenal Anda walau Anda sebenarnya tidak tahu bahwa
saya sudah tahu wajah Anda,” ungkapnya. “Bagaimana Anda bisa mengetahui wajah
saya, sementara saya paling tidak mau dan tidak pernah publikasi diri,”
sorongku.
“Wajah
Anda tirus, mata Anda bulat, tubuh Anda jangkung, langsing dan rambut Anda
pendek model youngen skop. Anda berpenampilan tomboy, selalu menggunakan celana
jean hitam dan kaos singlet ketat. Ya kan?” tebaknya.
Semua
yang dikatakannya adalah benar. Ciri-ciriku sudah diketahuinya persis dan dia pastilah
pernah jumpa denganku sebelum ini. “Di mana Anda bertemu saya Pak?” desakku.
“Maaf, saya tidak pernah bertemu secara
fisik dengan Anda, tapi saya melihat Anda di mana-mana, termasuk saat Anda
meliput kasus mistik di Pasar Itaewon, Seoul, Korea Selatan bulan lalu,”
tukasnya.
Batinku,
penelpon ini bukan orang sembarangan. Dia pastilah orang yang memiliki ilmu
kesaktian yang tinggi. Sebab sampai hal detil pun, saat aku berada di Itaewon,
Seoul, Korsel, dia melihatku. Baju apa yang aku gunakan saat liputan itu,
celana apa dan kamera apa yang aku tenteng. Semua dia bukan dan dia ketahui
dengan pasti. Sementara bila dia berada di sana, hal itu tidak mungkin terjadi,
karena perjalananku ke Korea itu sangat tertutup dan rahasia.
Pertemuan
itu terjadi pada hari jumat, pukul 13.40 di restoran Sederhana BSD, kota
Tangerang Selatan, Banten. Dia dating lebih awal dari pada aku dan aku tidak
tahu dia memilih duduk di mana. Aku melenggang masuk rumah makan dengan
perasaan galau, cemas dan sedikit tegang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi
dan siapa sebenarnya pria penelpon ini, satu-satunya penelpon yang pernah aku
temui. Selama ini, ribuan penelpon, tapi aku tidak pernah mau menjumpainya.
Tertarik tentang kesaktian orang ini untuk bahan liputan, akupun rela keluar
rumah untuk menjumpainya.
Namun
otakku membayangkan sosok pria ini. Dia pastilah bermur tua, berjenggot, pakai
baju hitam lusuh dan rambut beruban. Pikirku, orangnya pastilah terlihat jorok,
kodoi dan peot. Sebab semua dukun santet selama ini bentuk gambarannya seperti
itu. Bahkan berjalan emnduduk, bermata merah dan tangan selalu dilipat ke bawah
punggung.
Mataku
berputar mencari sosok itu dan aku menelpon. Sebelum sempat nada tersambung,
seseorang menepuk bahuku. “Kita duduk di ruang AC itu dan di sudut kanan, sepi
tapi aman untuk kita,” kejut seorang pria di belakangku, sambil melaju ke
daerah yang akan dituju. Jantungku berdetak cepat dan rasa kaget bergelayut
akrab dalam batinku. “Siapa Anda?” tanyaku. “Akulah Gusti Kanjeng Anggodo,
tukang santet suara yang tidak ada duanya di dunia!” hentaknya, tenang.
Rasa
terkejutku menjadi belipat ganda. Terkejut karena ditepuk dari belakang dan
terkejut melihat sosok pria yang kuduga tua dan jorok itu. Pria yang bernama
Gusti Kanjeng Anggodo ini masih sangat muda, berumur 39 tahun, tampan sekali,
berpakaian necis dan berdasi perlente. “Tidak masuk akal!” batinku.
Gusti
megajak aku duduk di truang AC dan tidak banyak orang makan siang itu. Atau,
mungkin karena sudah lewat jam makan siang, maka ruang AC dan terlarang merokok
itu, hanya terisi dua meja, tiga meja terhitung meja kami.
“Saya
tahu Anda perokok sejati. Bila mau merokok, silakan saja, sebab tidak ada
seorang pun yang bisa melihat rkok kita dan asap yang mengepul dai rokok itu.
Coba saja, biar Anda bisa membuktikan keajaiban itu!” tukasnya.
Dengan
didorong oleh rasa penasaran, juga ingin menguji kebenaran omongannya, maka aku
mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Benar saja, tidak ada seorang pun yang
menegur aku merokok dan tidak ada asap yang terlihat di ruang AC itu. Aku
sendiri, tidak menyaksikan asap yang muncul, tapi tenggorokanku merasakan
adanya beban asap sebagaimana apa yang kurasakan seperti biasanya.
“Kita
tidak perlu berlama-lama berbincang, intinya sudah Anda ketahui by phone.
Sekarang, beri nomor orang yang ingin Anda jadikan sebagai contoh, siapa yang
akan disantet dan Anda ingin agar dia mati?” bujuk Kanjeng Gusti, dengan suara
khas yang besar dan tebal. Suaranya bariton dan bass, mirip suara dubber
ternama Nugraha yang pelanggan pengisi suara film nasional.
Lam
aku berfikir tentang siapa yang akan dijadikan contoh. Tapi ada sorangf wanita
tetanggaku yang nyinyir, jahat, mulutnya kotor dan sering menyakiti hatiku.
Nama ibu itu Nyonya Srikiti, sebutlah begitu, tetangga yang dipisahkan dua
rumah sebelah barat rumahku. Aku sangat dibenci oleh wanita itu dan berulang
kali dia menyakiti hatiku, hingga aku jadi stress kaena gossip-gosipnya yang
diada-ada tentang aku. Bahkan, suami dan anak-anaknya juga ikutan memusuhi aku
dan aku sering diludahi bila melewati rumahnya yang jorok.
“Nyonya
Srikiti yang akan jadi contoh. Perempuan ini sangat jahat dan sebaiknya dia
mati saja karena sifatnya yang dibenci banyak warga. Dia jahat kepada banyak
orang dan paling menjadi musuhnya adalah aku,” ungkapku.
“Saat
ini dia dalam keadaan sehat walafiat kan? Segar dan tidak kurang suatu apa?
Jika dia sedang sakit, maka wajar kalau dia mati. Anda akan berkata bahwa dia
mati karena penyakitnya, bukan karena santet suara yang aku buat,” desisnya.
Setelah
mencatat nomor di handphone black berry nya, dia segera memencet nomor itu dan
menghubungi Srikiti. “Tapi tunggu dulu!” kataku. “Apa konpesasi yang ingin Anda
dapatkan dari saya bila santet ini berhasil?” tekanku. Arkian, pria itu
ternayata tidak menuntut apa-apa, hanya dia ingin dibuatkan artikel dengan
missi memperingatkan kepada manusia, semua pengguna HP, untuk tidak mudah
menerima telpon secara serampangan. Sebab ilmu yang dia punai, sudah
dibagi-bagi pada ratusan muridnya yang menyebar di antero jagat. Muridnya itu
sudah praktek mencari uang dari santet suara dan sebentar lagi akan banyak
orang mati karena ditelpon.
“Baik,
kalau begitiu silakan diteruskan!” katanya. Kanjeng Gusti kembali menekan nomor
handphone Srikiti dan diangkat. Dengan mengucapkan kata-kata santun dan penuh
hormat, Kanjeng Gusti menjalankan aksinya. Beberapa kata-kata kunci rahasia
diucapkannya setelah itu dan kata-kata berbau mantra ini dilarangnya untuk
dikutip di sini. Dia menelpon tidak sampai dua menit, lalu dia menutup telponnya dan BB
nya dimatikan cepat. Beberapa detik setelah itu, dia merenung dan menundukkan
kepalanya secara seksama. Setelah itu, kepala nya terangkat tiba-tiba dan
berkata kepadaku. “Srikiti itu sudah mati!” katanya.
Rasanya
aku masih ragu tentang kematian itu. Saat aku pergi melintasi rumah Srikiti,
dia terlihat sedang berdiri di pagar dengan mulut yang berkicau-kicau menyindir
aku. Dia seolah bicara kepada anaknya, tapi arahnya yang sesungguhnya kepadaku.
Tubuhnya segar bugar kala itu dan suaranya sangat langtang, menunjukkan bahwa
dia tidak sedang sakit sama sekali. “Setelah makan ini, pulanglah ke rumah dan
lihatlah, Srikiti sudah mati!” serunya.
Usai
makan siang itu, aku segera pamit kepadanya. Dia lalu memasukkan uang untuk
bayar taksi ke dalam tasku yang sedang terbuka. Sebuah amplop putih yang
kuambil lagi untuk dikembalikan kepadanya. Kataku, aku punya cukup uang untuk
taksi, bahkan naik pesawatpun, aku masih banyak uang. Gajiku cukup besar
sebagai reporter dan aku tidak kekurangan uang hingga terpaksa untuk
minta-minta ke narasumber. “Jangan ditolak, berbahaya. Ini rejekih, walau kita
tidak tahu rejekih ini halal atau tidak!” cetusnya.
Kami
berpamitan dan sama-sama ke halaman restoran. Aku dicarikan taksi olehnya dan
aku pun naik taksi. Tapi sebelum taksi berangkat, aku minta sopir taksi untuk
behenti lalu mundur beberapa meter. Oh Tuhan, pria ganteng itu memang kaya
raya. Mobilnya ternyata jaguar warna perak dan dia menyetir sendiri mobil
berharga delapan milyar itu.
Taksi
segera berangkat dan aku penasaran ingin melihat keadaan Srikiti. Duh Gusti,
jantungku berdetak hebat, di mana di rumah Srikiti sudah penuh orang dan
Srikiti sudah mati. Kata tetanggaku, dia tekena serangan jantung setelah
menerima telpon dan mati mendadak.
Kalau
dikacai, mungkin muka terlihat pucat dan aku ketakutan. Jantungku berdebar-benar
dan perasaan bersalah tiba-tiba begelayut hebat dalam batinku. Kanjeng Gusti
memang jagoan dan ilmunya sangatlah tinggi. Ilmu Santet Suara dan Ilmu gendam
via handphone yang megahebat yang mematikan dalam hitungan detik.
Polisi
segera melacak kasus kematian Srikiti. Rasa takut menyerangku dan aku segera minta
tugas liputan ke Australia. Boss ku menyetujui ususlku untuk membuat laporang
Peta Mistik kaum aborigin di hutan Pareakiang di dekat Darwin. Sekalian meliput
ilmu pawang buaya di daerah itu.
Sebelum
terbang malam ke Australia di bandara Soekarno-Hatta, tiga hari setelah
kematian Srikiti, aku menelpon Kanjeng Gusti Anggodo. Kanjeng Gusti
terpingkal-pingkal begitu kusebut bahwa aku ketakutan akan tertangkap polisi.
Sebab, kataku, santet sekarang ini sudah masuk hokum pidana dan bisa
diperkarakan bila terdapat bukti-bukti penting. Siapa yang menyantet dan siapa
yang megorder santet, akan dipenjarakan bila terdapat bukti material yang
mengarah kea rah itu.
“Bila
polisi dapat membuktikan santet itu, saya akan memotong kedua kaki saya. Tidak
mungkin, tidak mungkin polisi dapat menangkap tukang santet. Apalagi santet
suara yang yang akau lakukan pada Srikiti itu,” kata Kanjeng Gusti, sekali lagi
tertawa terbahak-bahak.
Batinku
mulai tenang. Jantungku berhenti berebar dan aku lebih nyaman meliput kalangan
aborogin di Darwin. Sebelum terbang, tapi sudah di dalam pesawat, aku membuka
amplop pemberian Kanjeng Gusti yang benar-benar lupa aku buka. Oh Tuhan, isi
amplop itu ternyata uang pecahan dolar Amerika seratusan dan berjumlah 20
lembar. Dengan begitu uang taksi itu begitu besar, jika dirupiahkan benilai 18
juta rupiah. Pikirku, lumayan untuk menampah uang saku ku selam seminggu di
Australia.
Selesai
tugas, aku segera pulang ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, aku langsung ke
kantor, tidak pulang ke rumah. Bu Tania, tetangga menelponku, bahwa aku
dicari-cari polisi Polsek. Aku dijadikan sebagai terperiksa kasus kematian
Srikiti. Polisi sudah memastikan bahwa Srikiti disantet dan aku sebagai
musuhnya, termasuk salah seorang yang dicurigai menyantet.
Telpon
Bu Sania ini membuat aku panik. Apa yang dikatakannya pastilah benar. Dia tidak
pernah bebohong dan polisi itu benar-benar mencari aku. Aku segera menelpon
Gusti Kanjeng. Tapi telponnya tidak aktif dan beberapa kali aku telpon dalam
waktu seharian, telponnya mati total. Jantungku berguncang hebat dan aku benar-benar
diselimuti rasa takut. Penjara, penjara, aku pastilah terpenjara oleh kematian
Srikiti. Sementara penyantetnya, Kanjeng Gusti, tidak dapat lagi dihubungi.
Rumahnya aku tidak tahu di mana dan tempar prakteknya pun, aku tidak tahu di
kota apa.
Karena
panic dicari polisi, aku minta tugas lagi ke luar negeri. Aku berangkat ke
Amerika Lain, meliput gain pegunungan Andes di Chili dan Peru. Sementara telpon
polisi, masuk ke kantor. Orang kantorku
menghubungiku, menyebut bahwa aku dicari polisi.
Bos
memerintahakn aku pulang, dikatakannya bahwa aku harus kooporatif kepada
polisi. Apa yang disangkakan kepadaku, tidak akan menjadikan aku terpenjara
bila aku tidak melakukannya. Aku bersumpah, bahwa aku tidak melakukannya.
Sumpah ini benar, karena yang menyantet bukanlah aku, tapi Kanjeng Gusti, pria
ganteng misterius yang aku sendiri tidak tahu identitas lengkapnya.
Karena
bujukan bos, aku pulang ke Indonesia dan menghadapi kasus itu. Aku dipanggil
Polsek dan di BAP. Dalam berita acara pemeriksaan yang dibuat polisi, aku
menyatakan bahwa aku tidak tahu menahu
kasus kematian Srikiti. Kepada polisi aku katakana bahwa srikiti memang tidak
punya hubungan baik padaku. Bahkan kunyatakan bahwa dia adalah musuhku. Tapi,
untuk membunuhnya, aku tidak punya kemampuan apa-apa. Bahkan kukatakan bahwa
aku tidak pernah berniat untuk membunuhnya. Batinku, santet yang aku lakukan
hanyalah untuk tast cas, uji keampuhan
ilmu kanjeng Gusti yang sombong itu. Ilmu itu ternyata benar dan Kanjeng Gusti
betul-betul saktimandraguna,
Karena
tidak cukup bukti aku membunuh, aku akhirnya dibebaskan tanpa ditahan
seharipun. Kasus kematian itu pun akhirnya tidak diusut lebih lanjut. Pelapor
utama, suami Srikiti, hanya mampu gigit jari melihat kenyataan bahwa aku
bukanlah pembunuh istrinya itu. Sementara dia, ingin aku dipenjarakan dan aku
mati dibunuh dalam tahanan oleh yteman-teman premannya. Semua uapayanya itu
gagal dan aku bebas meredka hingga sekarang.
Setelah
beberapa beberapa lama, di luar dugaan, tiag hari lalu Kanjeng Gusti telpon
aku. Kami bertemu lagi, kali ini Kanjeng Gusti mengundang aku ke rumahnya.
Rumahnya sunguh mewah dan besar. Memiliki kebun durian montong dan kolam ryang
besar. Di garasinya semua terlihat mobil mewah miliknya, ada jaguar, porche,
mercy sport dan audi pintu dua. Mobil berharga puluhan miluar itu tidak ada apa-apanya jika dianding dengan emas
batangannya berjumlah ribuan batang di gudangnya. Beberapa saat kami ngobrol di
taman, Kanjeng Gusti memaggilnya istrinya dan memperkenalkan aku. Oh Tuhan,
istrinya sangat cantik seperti bintang film India Heema Malini. Tubuhnya
jangkung, langsing, mancung, kuning langsat dan matanya seperti mata bidadari
dari kayangan. Aku yang selama ini dianggap cantik, jadi tidak ada apa-apanya
disbanding dia. Aku tiba-tiba menjadi kecil di hadapan wanita secantik itu,
ramah lagi, tutur kata-katanya lembut dan mendesah seperti artis Syahrini.
Setelah
istrinya pamit, tinggallah aku berdua Kanjeng Gusti di taman dekat kolam
renang. Kanjeng menyatakan bahwa aku
tidak akan terkena kasus peradilan. Nomor HP yang masuk ke Srikiti sudah hilang secara gaib dan usutan polisi
tidak akan sampai kepadanya. Jangankan ditangkap, dilihat saja dia tidak akan
bisa. Bahkan hari itu, aku dipagari gaib olehnya dengan aji-aji halimun jagat.
Ilmu menghilang dan tidak bisa terlihat oleh lawan maupun kawan.
Secara
pribadi, Kanjeng Gusti menggambarkan bahwa ilmu yang aku dapat darinya itu,
tidak boleh disalahgunakan. Artinya tidak boleh untuk mencuri atau merapok
harta orang dan harta negara. Tidak boleh pula memberikannya kepada orang lain.
Ilmu atu tidak diperkenankan untuk diijazahkan untuk oran-orang yang meminta.Walaupun
untuk saudara dekat dan teman-teman baik. “Jadikan ilmu ini rahasia pribadimu.
Dan hanya engkau dan aku yang tahu. Namun yang paling tahu lagi adalah Allah,
Sang Pencipta yang Maha Kuasa, penguasa alam semesta termasuk ilmu-ilmu gaib
yang menyebar di antero bumi ini,” tutur Kanjeng.
Di
luar dugaanku, istri Kenjeng Gusti, ternyata bukanlah manusia biasa. Istrinya
yang jelita itu, ternyata dari bangsa Kuntilanak, yang dinikahinya di hutan
Pagarnusa di Sumatera Selatan. Setiap satu tahun sekali, istrinya yang bernama
Ratu Anfina itu raib dan pulang ke Hutan Pagarnusa menemui orangtuanya. Di sana
hanya tiga hari tiga malam dan berubah wujud menjadi ular sanca. Setelah itu,
dia akan kembali ke Jawa dan cantik jelita seperti apa adanya. Hari itu juga, aku
diperlihatkan oleh Kanjeng Gusti tentang siapa istrinya itu. Aku dibawanya
masuk ke rumah dan di ruang music room nya, aku melihat ular sanca besar sekali
melilit di sofa. “Itulah Ratu Safina istriku, yang ujud aslinya adalah ular
sanca berkepala dua,” ungkap Gusti.
Jantungku
berdebar hebat dan hatiku tiba-tiba menjadi miris. Pikirku, Tuhan
memberikan banyak hal di dunia ini
kepada ciptaan-Nya. Ada yang nyata dan jelas-jelas terlihat, ada yang halus dan
gaib yang tidak pernah terjamah oleh akal. Hari itu, mata kepalaku menyaksikan
dengan nyata-nyata, bahwa ad perempuan yang begitu cantik yang sebenarnya bukan
manusia biasa. Tapi dia bangsa jin, ular gaib dari kaum Kuntilanak. Bangsa
Kuntilanak yang terkenal di sitana gaib Hutan Pagarnusa Sumatera Selatan. Oh
Tuhan!****
(Cerita ini dialami oleh Dita Anggia.
Tia Aweni D. Paramitha menulis kisah itu untuk Misteri Sejati-Red)
Komentar
Posting Komentar