KEPERGOK HANTU MULUT LEBAR
Misteri
Sejati: Henny Nawani
KEPERGOK
HANTU
MULUT LEBAR
Aku dan Bang Azhar Fuady sama-sama
asal Sumatera Selatan. Aku berasal dari Ogan Ilir sementara Bang Azhar Fuady
berasal dari Pagaralam, Kabupaten Lahat. Kami sama-sama kuliah di fakultas
hukum Universitas Sriwijaya. Kala itu kampus Unsri ini masih berada di Bukit
Besar, Jalan Jaksa Agung R.Soeprapto, Palembang. Kini kampus Unsri sudah pindah
ke Inderalaya, tidak jauh dari rumah orangtuaku di Muara Penimbung, Ogan Ilir.
Kami saling jatuh cinta ketika kami
baru masuk fakultas hukum. Bang Azhar Fuady langsung “menembak” saya dan
menyatakan jatuh cinta. Mulanya aku menghindar. Tapi karena kegigihannya,
sering ke rumah dan mendekati ibu dan ayahku, lama-lama aku suka juga padanya.
Dan kami jadian setelah setahun kami di fakultas hukum.
Setelah empat tahun kuliah, orangtua
Bang Azhar Fuady pindah tugas ke Jakarta. Otomatis kekasihku itu ikut pindah
pula ke Jakarta. Dia pindah kuliah ke Universitas Jayabaya, cempaka Putih,
Jakarta Timur, juga tetap di fakultas hukum.
Perpisahan itu sangatlah berat. Bang
Azhar Fuady dan aku nyaris tidak siap. Tapi karena keadaan memaksa, karena
ayahnya mendapatkan tugas sebagai hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur,
maka mau tidak mau aku harus merelakannya pergi. Mulanya, Bang Azhar Fuady
ngotot akan tetap di Unsri dan minta indekost. Tapi ayahnya yang keras dan
pemarah, tidak memperkenannya tetap di Palembang. Maka itu dia pindah ke
Jakarta dengan tangis dan airmata.
Tiga tahun kami berpisah, ada
sebelas kali Bang Azhar mengunjungiku di Palembang. Diam-diam dia pergi tanpa
sepengetahuan orangtuanya untuk menjengukku di rumahku. Ayah dan ibuku pun,
sangat suka kedatangan Bang Azhar Fuady. Bahkan ibuku sudah menganggap Bang
Azhar sebagai anaknya sendiri.
Tahun ke empat tinggal di Jakarta,
Bang Azhar menjadi sarjana hukum. Dia magang sebagai pengacara di kantor advokat Temmy
Hendrawan SH. Bang Azhar Fuady belajar menangani kasus dan membela klien di
pengadilan. Setelah tiga kali menangani klien sebagai wakil dari Temmy Hendrawan
SH, Bang Azhar pun resmi menjadi pengacara. Dia mendapatkan sertifikat
kepengacaraan dan membuka kantor sendiri.
Sementara itu, aku yang juga sudah
sarjana hokum, tetap tinggal di Palembang dan bekerja sebagai karyawan
Pemerintah Kota Madya Palembang di divisi hukum. Kami telpon-telponan secara intensif
dan terkadang di sela kesibukannya, Bang Azhar Fuady datang pula ke rumah
menemui kami sekeluarga.
Karena banyak menangani kasus besar
dan berat, maka nama Bang Azhar Fuady sebagai advokat cepat melesat. Apalagi
banyak perkara yang dimenangkannya. Hukuman kliennya yang seharusnya berat,
jadi ringan karena kecerdikan Bang Azhar membela klien. Malah ada klien yang
bebas murni, akibat pembelaan yang jitu dari Bang Azhar Fuady.
Seiring nama besarnya, rejeki Bang
Azhar Fuady pun mengikuti. Dia menjadi pengacara termahal dan menangguk banyak
kekayaan harta dan uang. Setelah aku selidiki, bagaimana kekasihku itu bisa
kaya raya sebagai pengacara. Tarip bayarannya mahal dank lien tidak segan
membayar jumlah yang besar karena kemampuannya yang prima sebagai penasehat
hukum.
Pada saat menanjak begitu, baik nama
maupun keuangan, Bang Azhar Fuady melamarku. Dia dating bersama ayah dan ibunya
meminang aku di Palembang. Dan kamipun menikah. Resepsi dibuat di Hotel
Sanjaya, Jalan Kapten A.Rivai dan sangat meriah.
Sebagai istri, aku diboyong ke
Jakarta. Orngatuaku memperbolehkanku iktu suami dan aku pun siap untuk
keputusan itu. Sejak itu aku berhenti bekerja di pemda Kota Madya Palembang dan
ikut bekerja di kantor suamiku. Bang Azhar Fuady membesakan aku di Jakarta.
Terserah memilih, mau bekerja atau mau menjadi ibu rumah tangga total diam di
rumah. Namun, karena biasa sibuk kerja, maka aku memilih bekerja. Untuk
kebaikan bersama, Bang Azhar memutuskan aku bekerja di kantornya, sebagai
sekretaris dan pendamping saat dia berperkara di peradilan memebela klien.
Setelah tiga puluh tahun usia
pernikahan kami, tidak terasa kami punya anak empat. Tiga wanita dan satu
lelaki. Anak pertama kami, Rasya, ke dua
Tia, ke tiga Erma dan ke empat kelaki, Rasyidin. Tidak berapa lama, Rasya
menikah dengan pilihannya sendiri dan punya anak setelah setahun menikah.
Sementara itu, usaha kami sebagai advokat menurun. Kami kurang klien dan
bayaran pun turun drastis karena persaingan yang ketat di kalangan sesama
pengacara.
Setelah semua anak menikah dan
mempunyai pekerjaan tetap, kami berniat pensiun. Pekerjaan benar-benar turun
dan pasaran menjadi sepi sunyi. Kami lalu sepakat untuk kembali ke Palembang,
kampung halaman kami. Sisa uang di deposito kami jadikan tanah perkebunan durian
montong di Ogan Ilir, kampung asalku. Kami membuat rumah sederhana tetapi
dengan kebun luas, 34 hektar. Selain
durian montong, kami menanam mangga, jeruk siam, pisang dan tambak udang.
Namun di laur dugaan kami, ternyata
tanah tempat bangunan rumah kami, adalah tanah keramat. Ternyata ada makam di
bawah rumah kami. Makam seorang pembunuh. Tentara Jepang yang sadis dan
membantai banyak pribumi pada tahun 1943 lalu. Saat Jepang berkuasa di
Indonesia. Tanah wilayah Desa Keminang, Ogan Ilir itu, terkenal sebagai daerah
angker. Di mana semua warga tetua adat setempat, mengetahui bahwa ada makam
keramat di situ dan hantu Jepang sering maujud dan memakan korban nyawa warga.
Sayang sekali hal ini baru kami
ketahui setelah rumah kami jadi dan kamu sudah tempati. Sebelumnya tidak ada
seorang pun warga, termasuk kepala desa, pak camat dan tokoh adat setempat.
Mereka kami undang setika sdekahan dan tak seorangpun yang menceritakan keadaan
itu.
Pertama kali aku bertemu hantu
mengerikan itu pada Malam Jumat Kliwon tanggal 31 Januari 2014. Malam itu
adalah Malam Tahun Baru Imlek dan suasana daerah kami sangat sepi dan wingit.
Biasanya pada malam tahun baru imlek di Jakarta, kami biasa pesta di rumah
relasi suamiku yang keturunan Tionghoa. Mereka merayakan malam tahun baru Imlek
dengan makan-makan enak dan pesta minuman khas Tiongkok. Berikut hiasan jeruk
kuning kecil yang indah dan memenuhi ruang rumah.
Pada malam Jumat Kliwon, 31 Januari
2014 itu, sekitar pukul 23.00, rumah kami diketuk. Malam itu hanya kami berdua
di rumah. Pekerja perkebunan sedang pulang ke rumah mereka, semuanya cuti
karena malam tanggal merah. Malam hari besar, Hari Raya Imlek yang sejak jaman
presiden Gus Dur, diliburkan secara nasional.
Begitu diketuk, aku langsung
memanggil suamiku yang sedang menonton berita di televise. Bang Azhar Fuady
langsung bangun dan menghambur ke pintu depan. Kami mengira karyawan perkebunan
yang dating. Soalnya biasa, mereka mengetuk malam hari jika anak mereka sakit.
Selain pinjam uang juga pinjam mobil untuk pergi membawa anak ke rumah sakit.
Bang Azhar Fuady berjalan di depan
aku di belakangnya mengikuti. Kepingin tahu siapa yang mengetuk pada waktu
menjelang tengah malam tersebut. Apalagi, di sekitar rumah kami hutan
perkebunan luas, tanpa ada tetangga dan jauh dari warga yang lain.
Dengan langkah pasti, Bang Azhar
membuka kunci pintu depan dan melihat ke luar. Jantung ku berdetak hebat ketika
melihat sosok perempuan rambut panjang, mata sipit dan berkulit kuning langsat
berdiri di depan.
“Maaf, siapa Anda dan dating dari
mana?” Tanya Bang Azhar, lugas, kepada wanita misterius itu. Wanita itu
menyibak rambutnya dan melototkan matanya yang ke biru-biruan.
“Saya wanita asli Jepang, nama saya
Kucihi Sakke Onna. Saya hanya mau Tanya kepada kalian berdua, apakah saya cantik?”
kata wanita itu, sambil menutup mulutnya.
Dengan agak gugup, aku justru yang
menjawab pertanyaan wanita itu. “Anda cantik, ya sangat cantik,” kataku.
Suamiku melirik kepadaku dan mengangguk. “Ya..ya, Anda cantik,” kata suamiku
juga. Memang, karena dia Nampak cantik, maka kamipun harus mengatakan apa
adanya. Menjawab pertanyaannya, dan kami menyebut: bahwa dia memang cantik.
“Cantik kata kalian? Meski mulutku
begini?” katanya, sambil membuka tangannya yang tadi menutup mulutnya itu. Duh
Gusti, jantungku terasa mau copot melihat wajah gadis yang tadinya cantik itu.
Ternyata, mulutnya sangat lebar karena sobek di kiri dan kanan mulutnya.
“Cantik seperti ini?” bentaknya, dengan nada marah besar.
“Ayo katakana, saya cantik dalam
keadaan mulut seprti ini?” desaknya. “Tidak, tidak, tidak cantik,” imbuh Bnag
Azhar. “Hei, kamu, perempuan, apakah saya cantik dengan mulut sobek seperti
ini?” tekannya. “Ya, ya, tidak cantik, seram,” kataku, jujur.
Saat itu matanya menyala semakin
biru dan mulutnya menganga, persis seperti mulut ikan mas kepanasan. Beberapa
saat kemudian, dalam hitungan detik, tangan kanannya mengambil pedang samurai
dan langsung menyabet suamiku dan setelah itu mengejar aku. Samurai itu menyabet
punggungku dan kami berdua bersimba darah.
Untunglah nyawa kami dapat
diselamatkan. Rumah sakit Inderalaya membantu kami dari pendarahan hebat dan
seminggu kemudian kami berdua diperbolehkan pulang. Setelah menyabet kami,
wanita bermulat lebar itu menghilang entah ke mana.
Belakangan kami mendengar, ternyata
Kucihi Sakki Onna itu ternyata hantu Jepang yang bergentayangan di daerah kami.
Kenapa hantu Jepang itu ada di daerah kami, karena Raja Samurai, makam di bawah
rumah kami, adalah makam kakek Kucihi Sakki Onna. Tentara Jepang yang ahli
samurai dan membunuh ratusan orang Indonesia di tahun 42-43, jaman
pra-kemerdekaan Indonesia.
Sejak tahun 43 lalu, hantu perempuan
Jepang ini sudah bergentayangan di daerah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.
Selama dia bergentayangan, dia mendatangi siapapun yang perlu didatangi untuk
dijadikan korban. Membacok mulut korban dengan samurainya. Maka itu, warga
setempat menyebut namanya sebagai Hantu Samurai. Atau, hantu perempuan bermulut
lebar.
Sejak tahun 70-an, seorang kiyai
ahli supranatural mengusir hantu samurai itu. Dan makam di bawah rumah kami itu
juga dibersihkan dari hantu-hantu berbahaya. Maka itu, sejak tahun 76, hantu
itu tidak muncul lagi. Warga setempat meyakini bahwa makhluk gaib itu terbang kembali
ke Kyoto, Jepang, kampung halamannya.
Warga menceritakan bahwa sudah lama
Hantu Samurai itu tidak maujud. Bahkan puluhan tahun tidak memakan korban.
Namun, awal tahun 2014, pada saat kami membangun rumah di atas tanah Raja
Samurai, arwah hantu Jepang itu kembali lagi. Dan kami lah orang pertama yang
menjadi korban.
Tanah pemakaman Raja Samurai,
kakeknya Sakki Onna, dipasang tiang besi dan menancam tulang belulang tentara
Samurai Jepang dan sadis itu. Arwah marah lalu memanggol cucunya di Kyoto untuk
kembali ke Sumatera Selatan.
Hantu mulut lebar Sakki Onna terus
bergentayangan. Dia menemui semua orang yang dapat ditemuinya dan bertanya.
“Apakah saya cantik? Jika orang menjawab cantik, dia akan membuka tangannya dan
memperlihatkan mulutnya yang lebar. Cantik walaupun mulut saya seperti ini?
Sambil memperlihatkan mulutnya yang sobek panjang. Karena orang akan menjawab
tidak cantik, seram, maka dia akan mengeluarkan Samurai dari punggungnya dan
membacok mulut korban.
Belakangan diketahui dari dukun
setempat bahwa, bila bertemu hantu Sakki Onna, harus mengatakan “cantk” walau
apapun yang terjadi. Sang Dukun, Faisol Masdi, 45 tahun, ketika bertemu Hantu
Samurai itu menyatakan, cantik, walau setelah melihat mulut Sakki Onna lebar
seperti mulut ikan mas.
“Apakah saya cantik?” kata Sakki
Onna kepada Faisol Masdi. “Cantik sekali.” Jawan Faisol, suatu malam yang sepi
di Jalan Timbangan, Ogan Ilir. “Saya cantik katamu? Walau mulut saya lebar
seperti ini?” tanyanya lagi. Faisol Masdi menjawab. “Tetap cantik bahkan kamu
sangat cantik dengan mulut seperti itu,” desis Faisol Masdi.
Hantu itu tertawa gembira dan
bahagia mendengarkan ungkapan Faisol Masdi. Karena saking gembiranya, Hantu
Samurai memberikan tumpukan uang Jepang, yen, kepadanya. Tumpukan uang itu
setelah ditukar ke money changer di Palembang, berjumlah Rp 500 juta dan Faisol
Masdi langsung membeli mobil dan membangun rumah, tanah dan membeli sawah di
Ogan Ilir. Kini Faisol Masdi menjadi orang kaya di daerahnya karena beberapa
kali bertemu Sakki Onna dan meminta uang gaib dari Jepang itu.
Pada Malam Jumat Kliwon, 20 Juni
2014 pukul 24.00, Sakki Onna mengetuk lagi rumah kami. Aku dan Bang Azhar
membukakan pintu untuknya. Begitu terbuka, dia berdiri dengan kimono Jepang
khasnya di depan kami. Dengan menutup mulutnya, dia bertanya lagi kepada kami.
“Apakah aku cantik?” tanyanya. “Cantik, cantik sekali,” jawab suamiku. “Walau
mulutku seperti ini?” tambahnya. Suamiku, Bang Azhar malah bersemangat. “Makin
cantik, bahkan sangat cantik dengan mulut lebar seperti itu,” imbuh suamiku.
Sakki Onna tertawa lalu mengeluarkan uang dari punggungnya. Uang yen yang
setelah ditukar berjumlah Rp 600 juta.
Hantu Samurai, atau Hantu Mulut
Lebar, atau Hantu Sakki Onna itu, dalam cerita legenda Jepang diketahui oleh kami
dari relasi suamiku warga Kyoto, Jepang. Ternyata semasa hidupnya, dia istri
seorang Raja Samurai yang tersohor karena kaya raya di Jepang. Sakki Onma istri
Raja Samurai yang cantik jelita tetapi berhianat tidur dengan lelaki lain,
staff kerajaan yang tampan.
Raja Samurai menjadi murka. Raja
marah besar lalu menyabetkan samurai ke wajah Sakki Onna. Mulut Sakki Onna
sobek panjang, hingga dari telinga kiri menembus telinga kanannya. Sakki Onna
meninggal dan bangkit dari kuburnya. Dia bangkit dengan memakai kimono terakhir
yang digunakan, kimono Jepang kembang merah bermotif bunga sakura. Setiap malam
Jumat Kliwon yang seram, Sakki Onna bergentayangan mencari orang untuk meminta
pendapat. Jika orang menyatakan dia seram dan menakutkan, maka dia akan marah
dan membacok orang yang ditanyainya itu. Jika orang menyatakan baik-baik, bahwa
dia tetap cantik dengan mulut lebar seperti itu, maka Sakke akan senang dan
memberi uang yang banyak. Uang itu sangat banyak dan disimpan dipunggungnya.
Uang dari suaminya, Raja Samurai yang kaya raya.
Hingga Januari 2015 ini, hantu Sakke Onna tidak muncul lagi.
Walau banyak anak-anak muda yang bertualang untuk bertemu dengannya. Faisol
Masdi, Sang Dukun, dengan ilmunya, mengunci Sakki Onna untuk tidak kelayapan lagi.
Tidak dimanfaatkan orang lain untuk mencari kekayaan dari gaib. Tapi, Faisol
Masdi, hingga sekarang menghilang. Kabarnya dia pindah ke Jakarta dan memiara
Sakki Onna di tepi Sungai Angke, Jakarta Barat. Sawah, rumah dan tanahnya
diberikan kepada istri dan anak-anaknya di kampung.
Hingga sekarang, Faisol Masdi tidak
ditemukan. Paranormal Palembang yang investigasi supramistik menyangkut Faisol
menyebut bahwa lelaki ayah dua anak itu, mukswa, masuk ke alam gaib. Dia tidak
hidup tidak juga mati. Dia dikatakan hidup dengan Sakki Onna di alam gaib tepi
Sungai Angke dan bisa melihat orang banyak tapi dia tak dapat dilihat lagi.
Istrinya, Maimunah Hamid, ikut bersama saya membangun usaha pertanian. Dia
investasi bersamaku untuk menanam bibit pohon karet di tanah 40 hektar di
Burai, Ogan Ilir. Kami selalu mengharapkan untuk bertemu lagi Sakki Onna, tapi
hantu mulut lebar itu tidak lagi maujud, hingga detik ini.*****
(Kisah Mama Rasya, Henny Nawani
menulis untuk majalah Misteri-Red)

Komentar
Posting Komentar