KUCING KERAMAT


KUCING KERAMAT
              Setiap malam menjelang  dinihari, aku melihat sosok wanita muda menggendong bayi di bawah jembatan Musi Satu. Dia berdiri di dekat dermaga perahu motor penyeberangan sungai. Wanita itu memakai kerudung hitam dan baju kebaya warna biru muda. Pada wajahnya mencuat kesan duka dan nampak sekali dia sedang gundah gulana. Sementara bayi yang digendongnya, tertidur pulas dalam gendongan kain yang menggantung di dadanya. Wanita itu berkulit putih, hidung mancung dan cantik jelita.
Sejak dibangun oleh Bung Karno tahun 1963, jembatan Musi Satu yang dikenal dengan nama jembatan Ampera ini dikenal angker. Banyak makhluk gaib yang sering dilihat oleh warga Palembang, terutama masyarakat yang biasa melakukan aktifitas di kolong jembatan itu. Jembatan Musi Satu, merupakan jembatan yang menghubungkan kota Palembang ulu dan kota Palembang ilir.
Sebagaimana namanya, jembatan Musi Satu, jembatan ini melintasi Sungai Musi, sungai terpanjang yang ada di Indonesia ini. Selain air, di bawah jembatan juga ada bagian tanah, lahan luas yang digunakan pemerintah daerah sebagai terminal angkutan umum  dan toko-toko  usaha kelontong dan rumah makan.  Untuk itulah, hingga menjelang tengah malam, kawasan tujuh ulu laut, di bawah jembatan Musi Satu seberang ulu ini, nampak selalu ada kehidupan, walau tidak seramai siang hari.
Wanita cantik menggendong bayi itu selalu aku lihat di sebuah bangku beton yang menghadap dermaga. Dia selalu termenung sambil mengusap-usap kepala bayinya yang sedang tertidur pulas. Hingga malam jumat kliwon, Januari 2010 itu, aku sudah ke empat kali melihat wanita itu di bibir Sungai Musi Satu. Daerah di mana selalu aku lalui saat aku pulang memancing ikan patin di Sungai Musi.
Didorong oleh rasa penasaran yang teramat besar, malam itu aku memberanikan diri mengajaknya bicara. Dengan hati-hati sekali, aku membuka kata-kataku kepadanya, mengucapkan salam lalu permisi meminta duduk di sebelahnya.
“Assalamualaikum Yuk!” pancingku, memberi  salam hormat kepadanya. Di kota Palembang, bila kita baru mengenal perempuan, utamanya agak muda, kita harus terbiasa memanggil ayuk. Ayuk itu berarti kakak, panggilan sopan santun dan hormat kepada orang yang baru dikenal. Maka itu, aku memanggil wanita berkerudung hitam misterius ini dengan pangilan ayuk.
Sayang, salamku ini diabaikannya. Wanita itu tetap diam membisu, sambil menatap ke arah sungai, melihat lalu lalang perahu tongkang  yang hilir mudik di sungai musi. Karena acuh tak acuh, maka aku mencoba mengulangi salamku lagi. Kali ini aku mengucapkan salam “selamat malam”, bukan lagi salamlekum.  Sapaan kedua inipun, ternyata tetap diabaikannya dan dia tetap tidak menganggap aku ada dan  sedang duduk di sebelahnya.
Karena tetap tidak dianggap, walau aku berulang menyapa, maka aku pun menjadi malu. Rasa minder tiba-tiba menyerang batinku dan aku berusaha buru-buru pergi. “Karena salamku tidak ditanggapi, maka aku lebih baik pergi dari sini. Permisi yuk?’ desisku, sambil berdiri dan pamit pergi.
Setelah kurang lebih dua puluh langkah kakiku meninggalkannya, aku membalikkan kepalaku untuk melihat kembali ke arah wanita itu. Duh Gusti, perempuan itu ternyata tidak lagi berada di sana. Dia tiba-tiba raib dalam hitungan detik entah ke mana. Karena dia menghilang, maka aku pun berbalik lagi ke tempat duduk beton pingir dermaga itu. “Yuk, Ayuk? Ke mana Ayuk?” teriakku, tengah malam buta itu.
Aku segera mendekati titian dermaga dan mataku melihat ke arus sungai. Jangan-jangan, pikirku, wanita yang  membawa bayi itu jatuh ke sungai lalu hanyut terbawa arus air pasang surut yang deras itu. “Yu, Ayuk di mana?” pekikku lagi, di malam yang sepi dan hanya aku yang ada di situ, sementara tukang perahu motor semuanya sudah menambatkan kendaraan air itu dan mereka semua telah masuk ke dalam rumah rakit di bibir sungai musi.
“Ayuk, Ayuk di mana?” panggilku lagi. Wanita itu tidak menjawabku dan tidak ada seorang pun yang menjawab aku di tengah malam yang sunyi tersebut.  Dengan langkah setengah berlari, aku mencari kea rah timur, di dermaga sebelah, yang mungkin saja di aberada di sana. Tapi saying, di situ pun aku tidak menemukan perempuan dan bayi itu. “Ke mana dia?” pikirku, penasaran.
Jujur saja, wanita itu sangatlah cantik dan aku menyukai wajahnya. Tapi yang membuat aku kepingin membantunya, adalah karena dia membawa bayi yang masih merah, yang tentu saja sangat kedinginan tengah malam itu. Mengapa wanita itu selalu duduk di situ dan selalu membawa bayinya menjelang tengah malam yang sepi. “Mengapa hal itu dilakukannya? Siapa dia, dari mana dia dan di mana rumahnya?” sergah batinku, bertubi-tubi.
Karena terdesak ingin menyelamatkannya, maka aku terus mencari ke beberapa arah pinggiran sungai musi itu. Aku ingin bertanya kepada orang-orang yang ada, tapi tengah malam itu tidak kutemukan seorang pun di bawah jembatan Musi Satu. “Ke mana dia?” pikirku, terus menerus.
Pada sebuah rumah rakit yang reot, yang sudah ditinggalkan penghuni sejak lama, aku mencoba masuk. Pintu rumah rakit itu tidak terkunci dan aku masuk ke dalamnya. Saat aku menyenteri sebuah pojok ruang rumah yang mriip gubuk itu, aku menemukan seekor kucing hitam sedang menyusui  seekor anaknya yang masih kecil. Mata kucing itu berkedip-kedip  melihat sinar senterku. Kucing itu tetap duduk di lantai papan, tidak bergeming akan kehadiranku, sementara anak bayinya terus
menyusu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAJI BULGANON HASBULLAH AMIR ORANG KAYA RAYA YANG DERMAWAN..

Dunia Supramistika Tia Aweni D.Paramitha

Pengalaman Abang Bulganon Amir Mursyid Spriritual Tangguh Yang Dapat Bisikan Masuk Neraka