MISTERI SEJATI: HENNY NAWANI
SANTET
PEGAT HANCURKAN
HARMONI
PERKAWINANKU
Gila,
tiba tiba suamiku mau menceraikan aku. Katanya dia bosan kepadaku dan dia mau
pergi jauh dari aku dan anak-anakku, anak kami. Suamiku mengaku bosan, karena melihat wajahku semakin tua, makin berkerut
dan tidak menarik lagi. Dia mau cari yang lebih segar, muda, cantik, seksi dan
menggairahkan, katanya. Dia membutuhkan semangat kerja baru, semangat hidup yang
baru, supporting karier yang baru, yaitu dengan menikahi gadis sensual, menawan
dan enerjik di ranjang. Katanya, aku sudah
keriput, sepuh, kering dan tidak
bertaji lagi ketika melakukan hubungan
intim. Oh Tuhan….
Astagfirullah, ucap
mulutku. Duh Gusti, bisik batinku kala
itu. Hanya karena alasan alamiah kewanitaan yang menua ini, maka aku dicerai. Untuk itu, aku yang naik
darah, emosi, lalu balas menantangnya. Harga diriku terusik dan gengsi seribu ton.
Oke, kataku, kita cerai. Silakan pergi jauh dan amit-amit, aku tidak akan
melihatmu lagi. Lepaskan kami, biarlah anak-anak semua bersamaku dan aku akan
membesarkan mereka hingga menjadi sesuatu ke depan nanti. Baik, kita cerai,
sekarang juga, bentaknya, penuh emosi.
“Ambil rumah, mobil dan tanah milikku, untukmu
dan anak-anak. Aku akan pergi jauh setelah bercerai dan jangan cari aku, juga
jangan mau tau di mana aku berada,” tantangnya. “Baik, aku bersumpah, tidak
akan mencarimu, tidak akan mencari tahu tentang dirimu dan tak akan mau tahu di
mana kamu berada. Sejak sekarang, nafsih-nafsih, sendiri-sendiri. Aku tak akan
melayat saat engkau mati, dan jangan melayat aku, jika aku duluan mati,”
tekanku.
Setelah tiga kali siding di
pengadilan Agama Jakarta Selatan, di Jalan Ampera Raya, Kemang, Jakarta
Selatan, kami diputuskan hakim ketua, bercerai. Langsung talak tiga sesuai
permintaan kami berdua. Dengan talak tiga, kami tidak boleh rujuk sebelum di
antara kami menikah dengan pasangan lain. Tapi jangan pikirkan rujuk, kita
bercerai selamanya. Ya, selama-lamanya, katanya, sambil mencibir kepadaku.
“Wanita tak berguna yang sudah mencari besi tua berkarat!” ejeknya, setleha
divonis cerai oleh hakim dan dicatat oleh panitera perdailan agama, Jakarta
Selatan, tak jauh dari rumah tinggal kami di Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta
Selatan.
Tiga anakku, hanya bisa
menangis. Rita, Endah dan Widya, yang semuanya wanita kanak-kanak duduk ke
kelas satu, dua dan tiga SD Mekarsari Petang, Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta
Selatan. Mereka bertanya mengapa kami bercerai. Aku hanya menangis mendengar pertanyaan
itu. Tapi gengsi, aku tidak mau menangis di mata mantan suamiku itu. Jika dia
tau aku menangis, berarti batinku, hatiku, jiwaku berat untuk bercerai
dengannya. Lagi pula aku tidak mau dihina lagi, dicacimaki dan dilecehkan
seperti itu. Sejak usahanya sukses dan kayaraya, suamiku yang dulunya anak
orang miskin, jadi jumawa, sombong dan riak.Aku dihina habis-habisan, dizolimi
habis-habisan dan dicampakkan seperti bukan manusia yang punya perasaan.
Biarlah aku dan anak-anak
hidup bersama selamanya, baik dalam suka maupun dalam duka. Anak-anak bagiku
adalah segala-galanya. Anak-anakku adalah harta yang paling berharga dan mereka
menjadi pendorong semangat hidupku yang terjatuh, tercampakkan oleh sifat jahat
suami, sifat serakah suami dan sifat egoisme suami. Batinku berkata, jangan
takut, ada Allah Azza Wajalla, dan Allah lah yang memutuskan keadaan ini. Walau
sakit, sangat sakit dan menyesakkan dadaku, tapi aku harus ikhlas, pasrah dan
besar hati menerima ini. Allah tak akan mencoba dengan penderitaan suatu kaum,
jika kaum itu tidak kuat menerima cobaan itu. Maka, karena Allah sayang
kepadaku, lalu diujilah aku, apakah aku akan kufir atau kafir kepada-Nya.
Tidak, aku tidak akan kufur apalagi kafir. Aku aku mengagungkan Tuhanku, All,ah
Jalla Jallalu. Allah ku yang Maha Pengasih dan Panyayang.
Setelah vonis cerai terjadi, hari
Senin Pon, 1 Nopember 2012, Kang Arbain Rambaika, 45 tahun, langsung
menghilang, raib entah ke mana. Dan aku tidak mau tau dia ke mana dan menikah
dengan siapa. Masa bodo dan acuh tak acuh. Bersama tiga anakku yang masih
kecil, aku pindah rumah ke Poris, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten. Sebuah
rumah sederhana aku beli untuk kami tempati. Rumah yang di Pasar Minggu aku
jual dan sekolah anak-anak, aku pindahkan ke Poris, Cipondoh, tidak jauh dari
terminal Poris Plawad, Kota Tangerang, Banten.
Di desa Setu Kangkung, aku
membeli semuah rumah sederhana dengan tanah luas. Selain tanah ladang
perkebunan, ada juga seribu meter tanah sawah. Sawah itu aku tanam padi dan
ternak ikan nila. Sementara kebun, aku Tanami duren montong. Aku mengajak
keponakan dari Lampung Tengah untuk tinggal bersamaku dan mengurus kebun, sawah
dan terbak ikanku. Belakangan, kami beternak ayam cemani, ayam serba hitam yang
harganya melambung. Hasil ternak ayam sangat menguntungkan, begitu juga dengan
ternak ikan nila dan kebun durian montong yang aku pasok ke supermarket.
Hingga awal November 2015,
tepat tiga tahun aku bercerai dengan Kang Arbain Rambaika, aku sama sekali
tidak melihat wajahnya. Jangankan bertemu, mendengar suanyapun, aku tidak
pernah lagi. Aku tidak mau lagi dan tidak akan mencari tahu di mana dia. Tapi,
ada saja kabar masuk ke kupingku, bahwa kata teman, dia bertemu Kang Arbain di
Puket, Muangthai, Thailand dan menikah dengan gadis Puket yang cantk jelita.
Dia menjadi warga Negara Thailand dan bisnis property di Puket dan punya banyak
restoring di Puket dan Pantai Pataya, Thailand.”Syukur deh kalau dia dapat
gadis Thailand yang cantik dan sensual serta muda dan segar,” kataku, sambil
mengalihkan omongan, saat Fauzi Amrullah, 46 tahun, teman bisnis lama Kang
Arbain, saat main ke rumahku di Poris dan ngobrol ngelantur soal segala macam.
Bahkan dia mengabarkan tentang Kang Arbain Rambaika pindah agama. Keluar dari
Islam lalu pindah agama kebanyakan di Muangthai. Lain dari itu Fauzi Amrullah
ngobrolin pula bagaimana jika aku menikah lagi, karena, katanya, sebagai wanita
normal aku membutuhkan seks dan biologis serta pendamping dengan cinta sejati.
“Tidak Kang, aku tidak akan menikah lagi. Aku tidak tertarik menikah lagi dan
aku benci kepada perkawinan. Cinta sejatiku adalah anak-anak dan selama tiga
tahun aku menjanda, aku telah kehilangan selera. Selera seks, selera cinta dan
selera berkasih-kasihan kepada lelaki.
rasa itu semua aku curahkan untuk anak-anakku dan usaha kami di bidang
peternakan, perkebunan dan persawahan. Sudahlah, maaf, jangan omongin itu lagi
ya. Jika masih semangat, maafkan saya bila saya tinggal kerja ke kebun dan Anda
saya usir dari rumah kami ini,” kataku, kasar.
Nampaknya, Fauzi Amrullah menyimpan maksud terpendam,
ingin menggoda aku untuk bercinta dengannya. Dia berusaha menebar pesona dengan
sejuta rayuan, bujukan serta angin surga
yang menyesatkan. Tapi aku tak akan terpengaruh, tak akan tergoda dan insya
Allah tidak akan tersesat di jalan yang terang benderang seperti ini. Tiba-tiba
aku menjadi wanita yang sangat kuat, tangguh dan kokoh dengan pendirianku
sebagai wanita. Aku terlalu dekat kepada
Allah, dan terlalu dalam menggantungkan hidupku kepada-Nya. Sifat dan sikap
berserah diriku sangat jauh dan hanya kepada Allah SWT aku aku mencinta,
bergantung dan pasrahkan kehidupanku. Baik sudah maupun senang, baik hitam
ataupun putih. Sembahyang dan ibadahku semakin deras, kencang dan tangguh,
kepada perintah Allah yang dianjurkan-Nya dan menjauh dari larangan-Nya yang diharamkan
oleh-Nya. Allah adalah segala-galanya bagiku. Allah adalah tempatku bertedu,
mengadu dan mengembangkan asa, harapan dan tujuan hidup. Anak-anakku, walau
masih kecil, Alhamdulillah, ibadah mereka semakin kuat, kental dan total
sebagaimana yang aku didik, kuajarkan kepada mereka bertiga. Bahkan di antara
tiga anakku, dua berkeinginan pindah pe pesantren dan mondok. Dia adalah Widya
Kartikasari dan Rita Mutiara Arumi. Sementara anakku yang bernama Endah Safitri,
ingin menjadi dokter, kelak. Dia ingin menolong sesama manusia dengam profesi
mulia itu. Maka itulah, Endah Safitri
akan tetap di sekolah umum.
Alhamdulillah, karena
pertolongan Allah, usaha kami makin berkibat. Lahan kelapa sawit di Long Kali,
Paser Penajam, Kalimantan Timur, aku jual dan aku belikan kebun di
Tulangbawang, Lampung, untuk berkebunan durian montong baru. Mobil lambhorgini
aku juga untuk membeli tanah di kaki Gunung Rinjani, Lombok Barat, Nusa
Tenggara Barat dan ditanami durian montong juga di sana. Aku dan anak-anak
setiap tiga bulan sekali menengok lahan-lahan kami di beberapa tempat itu
dengan naik pesawat. Selain melihat perkembangan usaha yang dititipkan kepada
orang dengan system bagi hasil, juga sambil jalan-jalan melepas kejenuhan hidup.
Jika melihat lahan perkebunan di kaki Gunung Rinjani, kami juga nyeberang ke
Selat Bali, nyantai di villa Gili Trawangan dan Gilimenok.
Sebaliknya, apabila pergi ke
Lampung, kami menginap di bungalow yang aku bangun di Tulangbawang. Sebuah
tempat peristirahatan dengan bentuk rumah panggung, yang berbentu rumah adat
Palembang, tempat asalku lahir dan hidupkui ketika kecil. Rumah limas dari kayu
jati yang anggun dengan dapur khas Palembang, ada tunggu tanah dan perapian
gaya tradisional Sumatera Selatan abad lampau.
Hidupku sekarang penuh gairah
walau tanpa lelaki. Bagiku, seks tidak akan menjadi masalah jika tidak
dipikirkan. Bagiku kebutuhan biologis tidak akan jadi problem jika tidak
diletakkan di angan-angan fantasia. Allah menjadi kekasih dan Allah menjadi
tempatku curhat, bertutur tentang hidup dan menyerahkan diri dan anak-anakku.
Jika Anda akan merasakan seperti yang aku rasakan kini, Anda barulah akan percaya dan
yakin, bahwa hanya Allah yang baik, maha baik dan maha memberi rahmat. Usaha ku
maju karena bantuan Allah, karena ridho Allah dan aku sangat yakin, bahkan hakkul
yakin bahwa Allah Azza Wajalla adalah segala-galanya, dan sebaik-baiknya tempat
mencurahkan hati. Sebaik-baiknya tempat meminta dan berserah diri.
Karena kebaikan Allah, dan aku
yakin benar itu adanya, tanggal 17 Nopember 2015 kemarin, hari Selasa Kliwon,
pukul 23.45 tengah malam, Kang Arbain Rambaika datang ke rumah. Dia baru saja
mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang dari Bangkok, Thailand.
Karena bukan suami lagi, maka, aku tidak mau menerima tamu asing tengah malam
datang. Aku meminta maaf aku mau tidur dan anak-anak sudah terlelap semuanya.
Dia tiarap mengambil kakiku dan mencium kakiku malam itu.
Dia menangis meminta maaf
sedalam-dalamnya karena telah melakukan kesalahan besar kepadaku. Dia mengaku
khilaf, lupa diri dan gila saat menceraikan aku. Dia menceritakan bahwa
istrinya di Thailand berkhianat kepadanya. Pacaran dengan aktor Thailand dan
menikah diam-diam secara hukum nikah negara. Semua harta bersama dikuasai dan
hukum setempat memenangkan istrinya, Kwacith Tamaraksanak, 24 tahun, berikut
perusahaan real estate dan lima restoran di Phuket dan Pataya. Bahkan rumah
pun, satupun tak diberikan kepada Arbain, mantan suamiku itu.
“Maaf Kang, tidak baik
bertamu tengah malam begini. Akang ke hotel saja. Di sebelah barat rumah ini,
hanya 400 meter, ada hotel, Hotel Allium namanya, itu hotel bandara, bintang
empat, Akang menginap saja di sana. besok pagi, sebelum anak sekolah, atau
siang setelah anak-anak pulang sekolah, Akang datang bertemu anak-anak,”
kataku, mengusirnya secara halus.
Kataku, citraku sangat baik
di mata warga. Jangan karena mantan suami datang tengah malam, apalagi
menginap, citra baikku itu rusak seketika. “Maaf, pergilah Akang ke hotel
Allium dan besok akan datang. Saya berjanji mempertemukan anak-anak kepada
Akang,” imbuhku.
Dengan airmata bercucuran,
mantanku itu menenteng kopernya lagi, lalu berjalan kaki menuju hotel bagus
yang aku tunjuk di barat rumahku. Karena 400 meter cukup jauh menenteng tas
berat, aku membangunkan keponakanku, Firmansyah Iskandar, 34 tahun, untuk
mengeluarkan mobil mengantarkan Kang Arbain ke hotel Allium, hotel unik berbangunan
miring yang menawan di tepi jalan Poris Plawat itu.
Mobil Trajet Hyundai buatan
Korea Selatan milikku itu melaju ke Allium dan Kang Arbaik masih menangis saat
diantar Firmkansyah Iskandar ke hotel mewah itu. Malam itu juga Firmansyah
Iskandar cerita, bahwa mantanku itu curhat kepadanya. Mereka ngobrol di
restoran Allium hingga pukul 03.00 WIB, setelah check in, ambil kamar di front
office. Kang Arbain mengajak Firmansyah Iskandar menginap, tetapi Firmansyah
Iskandar menolak dan hanya menemani makan enak di restoran Allium Hotel yang
kata Firmansyah sangat lezat.
Walau tidak punya rumah dan perusahaan
di Tahiland, tapi menurut penglihatan Firmansyah duit Kang Arbain masih banyak.
Dia membawa dolar Amerika ribuan dolar, uang Muangthai dan dolar Singapura.
Sementara uang rupiah di dalam tasnya, ada puluhan juta rupiah.
Besok pagi pagi sekali, sebelum
anak-anak berangkat sekolah, Kang Arbain sudah datang. Anak-anak yang sudah aku
ceritakan keadaan itu,. sangat bergembira bertemu ayah kandung mereka dan
ketiganya menangis berpelukan dengan Kang Arbain. Kang Arbain menciui ketiga
anak-anakku, dan anak-anak juga menciumi ayah mereka dengan syahdu. Hal itu
membuat aku luluh dan terharu. Pikirku, Kang Arbain adalah ayah kandung mereka
dan mereka sangat berbahagia bersama-sama.
“Ibu, jangan pisahkan kami
lagi dengan ayah,” cetus Widya yang diangguki kepala dan airmata oleh Endah dan
Rita. Jantungku berdetak hebat dan bulukudukku pun merinding seketika. Mereka
benar-benar saling merindukan dan salin menyayangi, mencinta dan saling
membutuhkan. Hari itu aku menelpon ke sekolah ketiga anakku untuk minta ijin.
Mereka absen dulu karena pertemuan itu sangat penting dan aku tidak mau
memutuskan kebahagiaan mereka itu.
Hari itu, dengan diantar oleh
Firmansyah Iskandar dengan mobil Trajetku, mereka jalan-jalan ke Ancol dan
Dunia Fantasi di Jakarta Utara. Mereka berenang dan menikmati pertemuan dengan
ayah mereka dengan bahagia. Demikian keterangan Firmansyah Iskandar setelah
mereka pulang. Aku tidak mau ikut karena sibuk mengurus peternakanku dan
perkebunanku.
Pada saat aku di kebun, teman
lamaku yang paranormal, Ratu Selatan, 52 tahun, datang bertamu. Dia berbisik
kepadaku dengan hati-hati. “Manmtan suamimu datang ya, kini jalan dengan
anak-anak ke Ancil kan?” katanya. Kok kamu tahu? Kataku. “Ada gambar seperti
video di mataku tadi pagi. Aku melihat Arbain datang dalam keadaan kusut dan
frustrasi,” sorongnya.
Dia seorang praktisi supramistika handal.
Dia punya ilmu linuwih dan waskito.
Seeorang sakti mandraguna dengan ilmu weruh sakdurunge winara. Seorang berilmu
gaib tinggi, mampu menerawang dengan indra ke enam yang sangat tajam.
“Arbain disantet orang ketika
bercerai denganmu tiga tahun lalu. Penyantetnya itu adalah teman baiknya yang
suka sama kamu. Dia mau menghancurkan keharmonisanmu dengan Arbain dan dia
ingin kalian cerai dan menikah denganmu. Penyantet kalian itu adalah Ki Setu
Pondoh. Raja santet yang mangkal di Setu Cipondoh, Kota Tangerang. Santetnya
bernama Santet Pegat, santet menceraikan keharmonisan perkawinan dan rumah
tangga. Santet itu berhasil membuat Kau dan Arbain emosi lalu cerai. Pokoknya,
Arbain jadi benci sama kamu, kamu juga jadi benci sama Arbain, hingga terjadi
perceraian itu. Kalian berdua yang harmonis dan hangat, tiba-tiba menjadi
saling benci dan bercerai. Santet pegat itu sangat marak belakangan ini di
Indonesia. Siapapun yang kelihatan harmonis, bisa hancur dan cerai seketika.
Rasa benci itu begitu cepat datangnya, dan desakan ingin cerai itu juga begitu
cepat hadir,” cerita Ratu Selatan, kepadaku.
Ratu Selatan lalu membuka
auraku, mukaku diusap dan dikembalikan kepada keadaan tiga tahun lalu sebelum
membenci Arbain. Arbain juga, dibukakan auranya, enerji negatifnya dan kembali
lagi sebelum Santet Pegat datang dan mengahncurkan perkawinan kami.
Singkat cerita, kini hatiku
luluh dan suka lagi kepada Arbain. Arbaik pun melamar aku dengan rasa sayang
dan cinta. Ditambah dengan dorongan anak-anakku, kami pun rujuk kembali, dua
hari lalu. Tentang siapa yang menyantet kemesraan kami, aku tanya kepada Ratu
Selatan dengan penasaran. Sungguh aku tersentak dan terkejut bukan alang kepalang.
Yang kirim Santet Pegat kepada kami, ternyata teman baik Kang Arbain selama
ini. Yaitu Fauazi Amrullah yang
berpenampilan ustad. Pria ini diam-diam sambuk, dan berusaha
menghancurkan aku dan Arbain karena dia ingin menikahi aku. Tapi sudahlah, aku
tak mempan dipengaruhi secara fisik maupun mistik olehnya, sehingga saat dia ke
rumahku melamar aku, aku usir dia dan aku tolak dengan halus. Inilah pagar
makan tanaman, teman memakan teman. Maka itu, aku akan jaka jarak dengannya,
juga meminta Kang Arbain untuk berhati-hati kepadanya. *****
(Kisah
Mama Widya yang disarikan oleh Henny Nawani untuk majalah Misteri-Red)

Komentar
Posting Komentar