Tia Aweni D.Paramitha
PEWARIS TUNGGAL
ILMU LOWO
Ada kucing hitam di atas genteng
rumahku. Itu terlihat pada malam Jumat Kliwon, 26 April 2013. “Kucing hitam itu
bukan kucing biasa, tapi kucing gaib,” desis Mbah Karsono, tetanggaku,
kepadaku. “Maksud Mbah Karsono kucing hitam itu kucing jejadian?” tanyaku,
penasaran. “Ya, kucing itu kucing jadi-jadian, kucing hitam yang datang dari
alam Ayunan Rakhman,” ungkapnya.
Penampakan kucing gaib warna hitam
total itu diyakini Mbah Karsono jelmaan Dukun Santet yang sudah mukswa ke
Ayunan Rakhman, artinya dukun yang sudah mati dan tinggal di alam Barzah.
“Kucing itu harus dapat kita tangkap malam ini, karena dia akan membunuh orang,
dia diberdayakan untuk santet,” imbuh Mbah Karsono, lelaki tua yang dikenal
menikah dengan 29 jin perempuan. Selain beristrikan puluhan jin, Mbah Karsono
dikenal pula sebagai dukun santet. Dia telah menyantet banyak pejabat, politikus,
artis dan kepala daerah.
Mbah Karsono sangat tertutup dan
hidup penuh rahasia. Dia jarang keluar siang dan jarang bergaul dengan
tetangga. Mbah Karsono hanya keluar tengah malam dan sendirian di lapangan
fasos fasum di dekat rumah kami. Di lapangan dia tafakur, meditasi dan sering
aku intip berbicara sendiri. Arkian, ternyata dia sedang bicara dengan para
istrinya dari bangsa gaib. Jin perempuan yang sudah ijab kobul dengannya, 29
jin cantik dari Timur Tengah Afrika dan Amerika Selatan. Bahkan, dari Indonesia
hanya satu jin yang jadi bininya, yaitu, Dewi Mutiara Ratu, jin cantik dari
Pulau Dili, Banten Selatan, di tengah Samudera Hindia.
Tidak ada orang yang tahu tentang
sepak terjang Mbah Karsono selain aku. Tidak ada yang tahu bahwa Mbah Karsono seorang
dukun yang mumpuni dan pakar dalam hal nyantet, guna-guna, teluh dan gendam.
Hanya aku yang tahu tentang kiprah dirinya, karena aku dijadikan murid
kesyangan. Sebab Mbah Karsono melihat aku berbakat mebnjadi dukun perempuan.
Sejak kecil aku indigo, mempunyai indera ke enam yang tajam. Mbah Karsono
memelihara aku sejak kecil. Maka itu, aku diangkatnya sebagai anak tatkala aku
masih berumur dua tahun.
Ayah kandungku meninggal akibat
sakit jantung pada tahun 2001. Ibuku terpaksa menjdi babu, buruh cuci pakaian
di rumah keluarga kaya, keluarga Haji Jamri Hanif, tetanggaku satu RW, kurang
lebih 260 meter dari rumahku.
Dengan susah payah ibuku membesarkan
aku dan kakak-kakakku. Apabila kakakku akan bayar uang sekolah, ibuku pinjam
dengan juragannya. Sehingga gaji ibuku setiap bulan tombok, kurang karena
dipotong hutang oleh Haji Jamri Hanif.
Karena kurang biaya dan kebutuhan
makan kami sekeluarga, ibuku terpaksa bekerja untuk tiga keluarga. Bila malam
hari, ibuku berjualan tempe mendoan khas Cilacap di Pasar Maribet. Usaha dagang
pinggir jalan pasar itu, dilakukan ibu hingga pukul 12.00 tengah malam.
Sesampainya di rumah, pukul 01.00,
ibuku membuat tempe mendoan mentah untuk dipersiapkan jualan ke esopkan
harinya. Persiapan itu dilakukan ibu hingga pukul 04.00. Setelah tidur satu
jam, ibuku bangun untuk melakukan sembahyang subuh. Usai sholat subuh, ibu
mempersiapkan sarapan kami, makan pagi anak-anak dan minuman suplemen energen
coklat untuk kesehatan kami.
Karena melihat kerjakeras ibuku ini,
maka Mbah Karsono, tetangga sebelah rumah, prihatin kepada ibu dan kasihan
melihat anak-anak, termasuk aku. Maka itu, ketika aku masih berumur dua tahun
aku dibiayai Mbah Karsono. Susu, makanan suplemen dan pakaianku ditanggung oleh
Mbah Karsono. Walaupun aku tidak tinggal di rumahnya, tapi aku selalu diurus
oleh Mbah Karsono. Bahkan, ibukupun, dianggapnya adiknya sendiri. Setiap
kebutuhan kami, setelah aku diangkat anak, dijamin oleh Mbah Karsono, duda tua
yang tidak punya anak. Mbah Putri, istri Mbah Karsono, pergi ke Suriname,
Amerika Latin ikut saudara lelakinya di negara kekuasan Belanda itu.
Mbah Karsono tidak ada pekerjaan
tetap. Tapi anehnya, duitnya banyak. Bahkan dia punya mobil paling mewah di
kompleks kami. Kendaraan roda empatnya itu merek BMW seri tujuh. Motornya,
motor besar merek Harley Davidson. Mobilnya berharga milyaran dan motornya pun
berharga ratusan juta.
Para warga kompleks bingung melihat
Mbah Karsono yang kaya raya, sementara pekerjaan tetap tidak ada. Bahkan ada
juga warga yang nyinyir, yang menggosipkan bahwa Mbah Karsono memiara tuyul,
babi ngepet dan pesugihan Ekor Merak. Tapi Mbah Karsono tidak bergeming dengan
gossip itu. Dia acuh tak acuh saja bahkan sangat nyantai.
Tentang pesugihan Ekor Merak, Mbah
Karsono tidak menyangkalnya. Kepada saya Mbah Karsono mengaku bahwa dia
melakukan pesugihan Ekor Merak di Goa Pacet, Pacitan, Jawa Timur. Bahkan Mbah
Karsono menerangkan tentang apa pesugihan Ekor Merak yang medatangkan kekayaan
gaib itu. Sebab uang Mbah Karsono datang dengan sendirinya di kamar gelap,
karma prakteknya di lantai atas rumahnya. Di balkon atas, ada kamar khusus
untuk Mbah Karsono bersemedi dan uang itu datang dibawa oleh 29 jin, jin jin
istrinya dari beberapa bank dan lembaga keuangan swasta dan pemerintah.
Tidak ada seorang pun yang boleh
masuk ke ruang gelap tanpa lampu Mbah Karsono, kecuali aku. Sebagai anaknya,
aku boleh masuk kamar angker itu. Tapi aku tidak berani. Aku takut karena kamar
itu wangi sekali, bau bunga melati dan bunga kemuning. Jika mendekat ke pintu
yang setengah terbuka, aku mendengar suara wanita tertawa cekikikan. Dan aku
yakin itulah suara jin-jin perempuan istri Mbah Karsono yang sakti mandraguna.
“Mbah, suara suara cekikikan itu
suara siapa Mbah?” tanyaku. “Di mana kamu dengar suara itu?” imbuh Mbah
Karsono. “Di kamar ritual Mbah,” kataku. “Oh itu suara Mbah Mbah Putri mu,”
tutur Mbah Karsono, sambil tertawa. Sejak itu, aku selalu mendengar suara
jin-jin istri Mbah Karsono. Bahkan terakhir, aku dapat melihat sosok jin jin
istri Mbah Karsono itu. Mereka semuanya cantik. Ada yang wajahnya mirip Agnes
Monica, ada yang mirip Sophia Lacuba, ada yang serupa dengan Pipik Dian Irawati
dan ada pula yang mirip Widyawati. Semuanya cantik dan badannya bagus-bagus. Ke
29 jin istri Mbah Karsono itu setia membawakan uang buat Mbah Karsono. Ketika
Mbah Karsono membutuhkan uang, sebesar apapun, dibawakan oleh para istri
gaibnya itu. Ke 20 jin itu membawa amplop yang semuanya bersisi uang pecahan
ratusan ribu rupiah. Mau beli mobil baru, duit dibawain. Mau beli tanah kebun
kelapa sawit di Lampung, langsung dibawain. Mau beli rumah, langsung dibawain
oelh 29 jin istri Mbah Karsono yang setia.
Mbah Karsono yang melakukan
pesugihan Ekor Merak, bertemu jin-jin dari Timur Tengah di Pacitan, Jawa Timur.
Semua jin istrinya itu datang ke goa tempat Mbah Karsono semedi dan minta
dinikahi. Jin dari Africa, Timur Tengah dan Amerika Selatan itu, semuanya
datang melalui laut Samudera Hindia di selatan Pulau Jawa.
“Nanti, jika kamu sudah besar, kamu
bias menikah dengan jin lelaki dari Timur Tengah, semuanya ganteng ganteng dan
mampu mendatangkan uang banyak bagi kamu, kamu mau kan?” Tanya Mbah Karsono,
kepadaku.
Aku tertawa lepas mendengar omongan
Mbah Karsono ini. “Aku enggak mau kawin sama jin Mbah, manusia masih banyak kok
menikah sama jin, ogah ogah Mbah,” kataku. “Lha, enak nikah sama jin, mau uang
berapa kamu dibawain. Kamu bias kaya raya nanti, mau kan ya?” bujuk Mbah
Karsono. “Enggak mau Mbah, biar saja hidup sederhana asal suamiku bangsa
manusia bukan bangsa jin. Mbah kan sudah tua, perempuan dari bangsa manusia
yang cantik tidak ada yang mau sama Mbah. Maka itu, hanya bangsa jin yang mau
menikah sama Mbah, jin-jin cantik itu,” kataku. Mbah tertawa terpingkal-pingkal
mendengar omonganku. Untuk itu, Mbah setuju dengan pendapatku, menikah dengan
bangsa manusia, walau sederhana dari segi kekayaan dan tidak tampan tampan
amat.
Kembali ke tengah malam jumat kliwon
dan kucing serba hitam, aku melihat mata kucing itu hijau metalik. Tajam
menatap kami. Santet, itu santet yang akan membunuh orang, kata Mbah Karsono,
kepadaku. Siapa yang akan dibunuh oleh kucing hitam itu Mbah? Tanyaku. “Mbah
lah yang akan dibunuh oleh kucing itu. Ada orang yang mengirim kucing itu untuk
membunuh Mbah, musuh Mbah lama, dukun santet yang pernah Mbah serang dulu
kala,” kataku. “Sekarang dukun itu sudah meninggal dan dialah yang mengirim
kucing serba hitam itu untuk Mbah!” ungkap Mbah Karsono.
Beberapa saat kemudian, Mbah Karsono
mengajak aku naik ke atap rumahku, sebelah rumahnya. Kucing itu duduk diam
dengan mata yang menyala-nyala. Dengan susah payah aku naik ke genteng bersama
Mbah. Begitu sudah di atas, Mbah Karsono membaca mantra. Mantra sakti linuwih
yang diperolehnya dari goa Pacitan. Mbah memegang tangan kananku dan aku
disemburnya dengan air mineral yang sudah dijampi-jampi agar aku kebal kepada
santet yang dibawa kucing hitam itu.
Setelah membaca mantra dan
menyembutkan air ke kepalaku, kucing itu berdiri akan menyerang Mbah Karsono
dan aku. “Diam engkau di situ, jangan maju. Jika maju, engkau akan mati hai
kucing hitam,” teriak Mbah Karsono, setengah marah.
Kucing itu diam di tempat. Mbah
mengajak aku maju, menginjak genteng rumah ke dekat kucing. Kucing hitam duduk
dan pasrah. Mbah lalu mengelus kepala kucing itu dan si kucing tertidur di
tangan Mbah Karsono.
Kucing hitam itu dipeluk Mbah lalu
kami turun dari atap. Kami membawa kucing itu ke kamar praktek Mbah Karsono,
sementara aku menunggu di luar kamar. Mbah Karsono menyerahkan kucing hitam itu
kepada 29 istri bangsa jinnya. Kucing hitam itu mengerang, beberapa saat
kemudian terdengar suara ledakan seperti bom. “Santet yang dibawa oleh kucing
hitam dari alam lain itu, sudah meledak ke langit. Santet itu kembali ke ayunan
rakhman,” kata Mbah Karsono, kepadaku.
“Kucing hitam itu hancur Mbah?”
tanyaku.”Tidak, kucing hitam itu menjadi lowo, kelelawar yang akan menghuni
kamar praktek Mbah, dan dia bisa menjadi alat santet. Namanya Santet Lowo.
Santet kelelawar. Maka itu, kalau kita mau mematikan orang, kita bisa perintahkan kelelawar itu menyantet,”
tutur Mbah Karsono.
“Kita, maksud Mbah kita itu dengan
saya artinya Mbah?” desakku. “Ya iyalah, kau sekarang bisa menyantet orang. Kau
bisa memerintahkan kelelawar itu pergi ke suatu tempat dan mematikan orang.
Tapi, agar tujuan santet tidak salah, harus tahu dulu, hari lahir, tanggal
lahir, bulan lahir dan tahun lahir sasaran. Tidak kalah penting adalah foto
calon korban,” ungkap Mbah Karsono.
Kini aku dibagi banyak ilmu
supramistik oleh Mbah Karsono. Aku sudah bisa menyantet, meneluh, mengguna-gunai
dan menggendam orang. Mbah Karsono ajarkan semua mantra-mantra sakti mandraguna
linuwih kepadaku yang masih begitu muda.
Tapi, aku tidak mau menyantet
sembarangan orang. Artinya, aku tidak mau memerintahkan Santet Kelelawar
mematikan sembarang orang. Jika ada orang yang begitu jahat, tidak mau bertobat
dan sadis, maka aku akan menyantetnya. Seorang bromocorah, perampok, pembunuh
dan pemerkosa yang jadi momok warga, Johnny Toyong, 45 tahun, aku santet dengan
memerintahkan kelelawar jadi-jadian, Johnny Toyong langsung mati. Jantungnya
hancur dan nafasnya terhenti. Matilah dia, penjahat yang sangat meresahkan
banyak orang itu.
Berkat bantuan Mbah Karsono, ibuku
kini menjadi pedagang besar. Menjadi bos tempe mendoan yang merambah beberapa
pasar besar di Indonesia. Modal uang dan mantra Mbah Karsono telah menjadikan
ibuku jutawan perempuan baru, yang dibicarakan di Koran-koran dan televisi.
Sementara itu, Mbah Karsono makin
berkibar sebagai paranormal dan suami 29 jin. uangnya makin banyak dan hartanya
berbentuk kebun, sawah, rumah dan mobil rental, menyebar di mana-mana di
Indonesia.
Minggu lalu, Mbah Karsono mengajak
aku ke Amerika Serikat. Kami mengobati pengusaha kaya asal Indonesia yang
bermukim di Hawai, Negara bagian ke 50 Amerika Serikat. Kami ke Hawai dan
Honolulu sambil bekerja mengobati dan santai di pulau pasir. Di Hawai aku
diajari Mbah Karsono terbang, menyelam dalam laut seperti ikan dan berjalan di
atas permukaan air.
Sepulangnya dari Hawai, pengusaha
kaya yang sakit parah dan divonis mati oleh dokter Hawai itu, sembuh total dan
segar lagi. Pengusaha bernama Hasan Murjito, 67 tahun itu sudah melepaskan
kursi roda dan bisa lari pagi.
Mbah Karsono berjanji akan
menjadikan kami semuanya mukswa. Aku, ibuku, semua kakak-kakakku, nanti akan
mukswa, menghilang dari dunia dan pindah kea lam gaib. Kami semua tidak mati
dengan bangkai atau jasad, tetapi menghilang, raib kea lam lain, yang disebut
Mbah Karsono sebagai alam Ayunan Rahim. Kesaktian Mbah Karsono sudah teruji.
Dia bukan orang biasa, tapi manusia luar biasa yang ditentukan oleh Allah Azza
Wajalla sebagai seorang yang sakti. Seorang yang mempunyai ilmu sangat tinggi
dan ilmu itu akan diwariskannya kepadaku. Aku akan menjadi pewaris tunggal ilmu
mumpuni Mbah Karsono, yang bisa terbang, masuk laut dan berjalan di atas
permukaan air. Semua sudah diajarkan Mbah Karsono kepadaku, tinggal ijazahnya
yang belum. Nanti, saat Mbah Karsono menjelang mukswa, aku akan diijazahi
olehnya dan akupun akan menjaga ilmu multirupa itu hingga aku pun mukswa kea
lam lain.****
(Kisah Nona Anna Kiwari, Tia Aweni
D.Paramitha menulis cerita itu untuk Misteri-Red)

Komentar
Posting Komentar