KAPAL HANTU


KAPAL HANTU
            Ombak bergemuruh. Sungai Mahakam dihuni HANTU!

Angin dari selatan bertiup hebat. Ranting-ranting kayu angsana patah, tumbang ke permukaan air. Perahuku berputar karena gelombang yang tidak menentu. Ke kanan dan ke kiri mengikuti hembusan Sang Bayu. Puting beliung bergemuruh  menggusur biduk. Terguncang di antara hamparan kiambang dan rerumputan onak.
            “Tuhan, selamatkan aku dan anakku dari bencana ini, kami ingin segera sampai  di Tenung Gambang, bertemu papa mereka yang sedang sakit di sana,” bisikku, meminta kepada Allah Azza Wajalla.
            Aku terus mengemudi perahu kami. Anakku, Dian Anggraeni dan Susi Susanti, aku selimuti dengan kain terpal dan mereka tidak boleh terkena air hujan. Mereka mudah sakit dan langsung terkena sakit demam bila tertetes air hujan. Sementara aku menggunakan caping bertali, terus mengayuh ke seberang menuju  Tenung Gambang, kampung seberang yang masuk wilayah Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.
            Pada tanggal 6 Februari 2017, hari Senin Pahing, kami pindah ke Sanga-Sanga. Kami tinggal di Kampung Bandar Anjungan, kecamatan Pendingin, kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Kami membuka warung makan khas Jawa Barat di Sanga-Sanga. Rumah makan berbentuk saung dengan kolam ikan dan danau kecil di sekitarnya. Kami pindah dari Bandung ke daerah Kalimantan Timur pelosok ini berdasarkan rekomendasi Kang Sutisna, kakak iparku, yang bekerja sebagai pegawai PT.Expan, anak perusahaan Pertamina yang berkedudukan di Kalimantan Timur, sepuluh kilometer dari Kota Samarinda.
            Pada bulan Desember tahun 2016, suamiku yang terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaan tekstiel sebagai kepala personalia di pabrik Indo Barometer di Ciwidey,  melakukan perjalanan dengan pesawat herkules Pertamina dari bandara Halim Perdanakusuma, menuju Balikpapan terus ke Sanga-Sanga sepanjang 100 kilometer. Setelah melakukan survey, riset dan penyelidikan menyeluruh, akhirnya didapatkan lokasi untuk membuka rumah makan Sunda bentuk saung di Sanga-Sanga, tak jauh dari kantor pusat PT.Expan. Itu dilakukan sejak tanggal 1 Desember 2016 hingga 10 Desember 2016. Tanggal 15 Desember, rumah saung dibangun dan selesai tanggal 28 Desember 2016. Mempersiapkan alat-alat rumah makan dan rekrut pegawai, selesat tanggal 29 Desember 2016. Malam tahun Baru 2017, rumah makan langsung lounching dan mengusung band The Samba’s dengan tiga artis Bandung beken dan membuat heboh karena sukses melibatkan banyak penguynjung. Rumah makan kami sukses dan langsung terkenal di antero Kutai Kertanegara.
            Selanjutnya kesuksesan kami terima. Dalam waktu yang sangat singkat usaha kuliner ini meledak. Pelanggan begitu banyak dan keuntungan hampir 200 persen dalam satu bulan.
            Namun di luar dugaan kami, diam-diam ternyata ada satu organisasi preman  di sekitar Sanga-Sanga yang marah dan merasa tidak nyaman dengan kemajuan rumah kuliner kami. Rombongan preman berjumlah 13 orang  menyerang usaha kami pada suatu malam, Minggu Pahing, 2 April 2017  dan membakarnya. Suamiku yang melakukan perlawanan terkena sabetan mandau dan terluka parah. Aku dan dua ankku diungsikan ke rumah kakak iparku, sedangkan Kang Sutisna, suamiku dirawat di rumah sakit Tenung Gambang, seberang rumah kami di tepi Sungai Mahakam. Kang Sutisna melarang aku dan dua anakku keluar rumah untuk melihat suami di tenung Gambang. Sebab nyawa aku dan anakku juga terancam karena terbukti menjadi target pembunuhan oleh para preman.
            Namun karena ingin melihat keadaan Kang Sutisna di tenung gambang, dua anakku juga ingin melihat ayahnya di seberang, maka diam-diam aku mengeluarkan  perahu kami pada Malam Selasa Wage, 4 April 2017 pukul 23.45 WIT menyusuri Sungai Mahakam. Namun malapetaka terjadi, Sungai Mahakam yang tadinya tenang tiba-tiba digoyang petir dan angin puting beliung. Perrahu dib awa arus sungai yang bergolak dan perahu kami terbawa ke laut Selat Makasar.
            Kami terapung di tengah laut. Angin puting beliung terus mendorong perahu kami dengan kecepatan tinggi. Ombak laut juga masuk ke perahu namun aku terus berzikir, berdoa meminta pertolongan Allah agar aku dan dua anakku selamat tidak tenggelam.
            Kegaiban terjadi. Allah Azza Wajalla menolong kami. Sebuah kapal besar menyelamatkan kami. Saat itu jam menunjukkan pukul 03.00 dinihari. Seorang nakhoda menarik perahu kami dan kami dimasukkan ke dalam kapal kurang lebih bertonase 10 ton itu. Semua anak kapal menolong kami, perahu di tambatkan ke kapal mereka.
            Di dalam kapal kami diberi minum teh hangat. Aku diberi selimut dan dua anakku diberi jaket saat mereka menggigil kedinginan. Mereka diberi minum dan makanan oleh anak buah kapal yang di dinding kapal aku lihat tulisan Kapal Motor KM Mentari. Kru kapal kami lihat semuanya berwajah mirip. Kulit  mereka putih semua dan mata mereka besar dengan kup;ing yang semuanya agak panjang.
            Kami diturunkan di dermaga Satimpo, Anggasana, Samarinda. Dari laut Selat Makasar, kapal masuk ke Sungai Mahakam kembali dan berlabuh di Dermaga Satimpo Samarinda. Kami diturunkan di situ dan kami diberi uang untuk naik taksi pagi hari menuju Rumah Sakit Tenung Gambang, Kutai Kertangera.
            Setelah kami turun dari kapal KM Mentari, kami melihat ke belakang, menengok kapal itu. Syahdan, ternyata kapal itu sudah tidak ada. Kapal Motor Mentari raib tiba-tioba dan tak ada satu kapal pun ada di dermaga Satimpo pagi itu. Aku menghambur ke atas termaga, melihat ke arah sungai ke seluruhan. Ternyata memang tak ada kapal itu.
            Kemarin aku menyelidiki kapal KM Mentari. Arkian ternyata kapal Mentari itu adalah kapal yang tenggelam 39 tahun lalu di Selat Makasar. Semua awak meninggal dan kapal itu tenggelam di dasar laut Anggana, laut Selat Makasar, Malam Jumat Kliwon, tanggal 4 April tahun 1969. Kapal Mentari sering maujud di Selata Makasar dan ditemukan banyak nelayan. Bahkan KM Mentari itu menjadi momok masyarakat nelayan setempat. Sebagai kapal hantu yang sering menolong nelayan.
            Jantungku berdetak hebat, dua anakku aku peluk dengan tangis dan airmata. Allah Azza Wajalla telah menolong kami dengan mengirim kapal dengan anak buah puluhan, yang telah meninggal semua pada April tahun 1969 yang sudah lama berlalu.
            Tidak mau hanyut dengan kejadian super misterius ini, aku segera memanggil taksi dan membawa anakku ke rumah sakit di mana Kang Sutisna sedang dirawat. Sesampainya di Rumah Sakit Tenung gambang aku dan dua anakku terus ke kamar rawat inap Kang Sutisna dan Kang Sutisna memeluk kami. Dan kami semua berpelukan dengan Kang Sutisna. Bahkan yang membuat kami bahagia, kesehatan Kang Sutisna cepat membaik dan dokter sudah memperbolehkan pulang.
            Namun, karena usaha kami semua sudah terbakar dan hancur, kami meutuskan untuk kembali ke Bandung. Kami akan memberikan pesangon kepada karyawan dan menutup usaha di sanga-Sanga dan merencanakan buka usaha di Parung, Kota Tangerang Selatan, Banten. Ada tanah danau yang berukuran 10.000 meter yang akan dihibahkan kepada kami oleh Kiyai Haji Maksun Sofyan untuk dijadikan lahan usaha kuliner masakan Sunda.
            Kini, di penghujung April 2017 kami sudah memulai pembangunan di Setu Gempol, Kota Tangerang Selatan untuk usaha rumah makan baru. Kami sudah tinggal di perumahan Lambata, Bumi Serpong Damai, di rumah kosong milik Pak Kiyai Haji Maksun Sofyan. Kiyai juga membodali bangunan itu dan siap seribu persen untuk menopang usaha kami. Dengan rekomendasi Pak Kiyai Haji Sofyan kami meminta dititual gaib supramistik oleh Bunda Dewi Matahari, dukun sakti mandraguna ahli usaha kuliner di Depok. Bunda Dewi Matahari datang ke lokasi usaha dan dia yakinkan 1000 persen bahwa usaha kami akan maju pesat. Aamiin yaa robbal aalaamiin.
            Bunda Dewi Matahari yang saya ceritakan tentang kejadian mistik di Selat Makasar, Kalimantan Timur, di mana kami diselamatkan oleh kapal hantu, Bunda Dewi Matahri langsung menghubungi para arwah nakhoda kapal. Dengan minyak Zaparonga, kembang tujuh taman dan air laut Samudera Hindia, Bunda Dewi Matahari memanggil semua arwah kapal motor KM Mentari di dasar laut Selat Makasar yang tenggelam tahun 1969 lalu.
            Semua arwah datang dan menangis di depan Bunda Dewi Matahari. Mereka meminta roh mereka disempurnakan. Minta didoakan dan ditahlilkan oleh kami yuang pernah diselamatkannya. Maka itu, Bunda Dewi Matahari langsung meminta aku dan Kang Sutisna membuar sedekahan anak yatim, sedekahan orang miskin dan tahlilan untuk arwah para kru Kapal Motor Mentari di Kalimantan Timur.
            Kapten Kapal, orang Bugis, bernama Puang Ridwan Mutholib datang kepada Bunda Dewi Matahari. Dia menceritakan tentang kejadian tenggelamnya Kapal Motor Mentari pada tanggal 4 April 1969 malam jumat kliwon. Saat itu kapal terkena angin puting beliung dan oleng. Gelombang sangat tinggi ketika angin barat, tinggi gelombang itu lima meter dan angin berkecepatan 85 kilometer perjam. “Sebagai kapten kapal saya telah melakukan apapun untuk menyelamatkan kapal, namun tidak mampu. Anjungan patah dan kapal menabrak karang karena terseret hgelombang laut dengan angin  berputar 145 derajat,” tuturnya.
            Tentang menolong aku saat perahuku masuk ke laut dari Sungai Mahakam, Sang kapten kapal, Puang Ridwan Mutholib merasakan ada ;perintah dari Malaikat bahwa dia dan anak buah kapalnya, harus membantu ibu dengan dua anak yang sedang terancam mati. Nyawa ketigan ya harus diselamatkan dan dibawa ke Samarinda. Lalu berdasarkan perintah para gaib, Malaikat penolong manusia, aku bangkitkan bangkai kapal dan bangkai semua kru untuk membawa ibu dengan dua anak gadis kecilnya ke dermaga Satimpo, Samarinda.
            Karena kemampuan supranatural yang hebat dari Bunda Dewi Matahari, maka aku dapat melihat sosok Kapten kapal KM mentari, Puang Ridwan Mutholib dengan jelas. Sosoknya majud dengan pakaian kapten, putih putih dan ornamen kepangkatan yang tertera di dadanya. Puang kelihatan segara dan tampan. Dia menceritakan bukan seperti arwah, tapi maujud sebagai manujsia biasa. Kang Sutisna juga terkagum melihat keadaan ini. Di mana dia belum p;ernah tahu sebelumnya, bahwa arwah bias dibuat maujud oleh kemampuan supramistika seorang dukun wanita sekelas Bunda Dewi Matahari.
            Yang membuat Kang Sutisna terdiam, dia tidak menyangka bahwa kami terancam mati  saat pergi dari rumah abangnya di sanga-sanga untuk melihjat dirinya terbaring sakit. Dia tidak menyangka pula bahwa perahu yang kami kendarai untuk menjenguk dirinya di m alam hari, terkena angin puting beliung hebat dan terdorong ke laut lepas. Keluar dari Sungai Mahakam lalu masuk ke samudera Selat Makasar.
            Selain arwah kapten Kapal KM Mentari, Puang Ridwan Mutholib, maujud pula sepuluh nakhoda kapal KM Mentari itu di Serpong, Banten, lokasi rumah makan kami di danau Setu Gempol, Kota Tangerang Selatan. Kami berjanji akan membuat pengajian, tahl,il setiap sebulan sekali ke depan nanti, untuk p;ara arwa Kapal Motor Mentari yang terkubur di dasar laut Selat Makasar di Samarinda, Kalimantan Timur. Kami akan menyediakan dana khsus untuk mengirim doa para anak yatim untuk arwah semua nakhoda kapal KM Mentari pada setiap malam jumat kliwon setiap bulan. Kiyai Haji Sofyan sangat setuju bahkan dia akan mendanai pen ganjian anak yatim khusus tiap malam jumat kliwon setiap bulan untuk kesempurnaan arwah para pelaut KM Mentari perut laut Selat Makasar di Kalimantan timur. Alhamdulillahirrobbilaalamiin.****
(Kisah Nyonya Sutisna yang dicatat Dewi Kalamukti untuk majalah Portal-MYSTERY-Red)
             

           

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAJI BULGANON HASBULLAH AMIR ORANG KAYA RAYA YANG DERMAWAN..

Dunia Supramistika Tia Aweni D.Paramitha

Pengalaman Abang Bulganon Amir Mursyid Spriritual Tangguh Yang Dapat Bisikan Masuk Neraka