Mistery Story: Henny Nawani
MAMA JANGAN MENANGIS…
        Baru saja kami pulang makan bersama di Texas Fried Chicken mal di Alam Sutra, Kota Tangerang Selatan. Santi, suaminya, Hendro Kartiko, aku, mamanya Santi dan suamiku, papanya Santi,  Mas Dimas Untung Waluyo. Tiga cucu kami, anak-anak Santi yang masih kecil, semuanya dibawa serta. Nenden Ola yang baru berumur tiga tahun, Nuning Asmara yang baru berumur satu setengah tahun dan si bungsu, Anita Ruswita yang baru berumur tiga bulan. Masih bayi dan digendong santi. Untuk mengirit bahan bakar dan biaya parkir mal yang mahal, kami membawa satu mobil toyota kijang inova milik Mas Dimas Untung Waluyo, dan semuanya masuk di dalam satu mobil.
        Dari kompleks Buana Gardenia, Pinang, rumah kami, menantuku yang menyetir. Aku dan Mas Dimas duduk di tengah sambil memegang cucu, sementara Santi dan Anita, duduk di depan dengan gendongannya.
        Namun aneh, hari itu ketiga anak Santi nibta duduk di depan semuanya di dekat mama mereka. Semua ngotot dan jadi menangis ingin di depan. Maka itu, karena masih kecil, maka ketia anka bersama sandi. Sementara yang menyetir, Hendro Kartiko, menantu kami, menempatkan Nuning Asmara, anak kedunya di sebelah versneling namun aman.
        Setelah makan di Texas kami jalan-jalan melihat mainan anak-anak. Cucu minta mainan boneka listrik sementara Santi, mamanya mau beli baju blazer warna hitam untuk kerja. Kakeknya, Mas Dimas Untung Waluyo dibelikan kaos untuk pimping. Aku dibelikan Santi jilbab warna hitam yang dipilihkan khusus olehnya. Jilbab yang bagus dan akan mix jika aku pakai untuk pengajian di kompleks, dengan bajuku yang batik kehitam-hitaman.
        Setelah keliling hingga menjelang ashar, kami pulang ke rumah. Sesampainya di kompleks kami langsung sholat ashar. Mas Dimas Untung Waluyo bersama Hendro Kartiko sembahyang berjemaah di mesjid Baiturrahman, tidak jauh dari rumah kami.
        Usai sembahyang isya, Santi berbaring dan ketiduran. Anak-anaknya yang juga mengantuk, aku ajak tidur sekasur dengan Santi. Karena tidurnya di tengah, Santi kuminta bergeser ke oinggir agar dua anaknya bisa tidur di sebelahnya. Sementara yang tua, umur tiga tahun, berbaring di pojok. AC kamar dinyalakan dan dia sudah mengambil tempat duluan.
        Saat aku menggoyang-goyang tubuh Santi, anakku tertua itu diam saja. Dia tidak bergeming dan matanya terus terpejam tidak bangun. Namun, aku mencandainya, kukitik-kitik kakinya dengan harapan agar dia bangun. Namun saying, Santi tidak terbangun juga. Karena penasaran, maka aku lebih keras menggelitik perutnya, eh dia diam juga. Bahkan badannya sangat kaku sekali, tidak seperti biasanya yang lemas dan lentur.”Santi, Santi, bangun Nak, anak-anakmu mau tidur nih di dekatmu,” teriakku.
        Santi tidak terbangun juga dan aku akhirnya melihat detak nadi dan matanya. Arkian ternyata Santi sudah tidak bernafas lagi dan anak sulungku itu meninggal dunia. Kami segera memanggil dokter untuk memastika apakah anakku sudah meninggal. Dokter Elon Anhar, datang ke rumah dan memeriksa denyut nadi Santi dan jantungnya. Dengan lemas, dokter Elon menyatakan bahwa anakku itu sudah meninggal dunia. Hal itu sudah berjalan selam kurang lebih satu jam yang lalu. Artinya, ketika dia pamit untuk tidur dengan omongan bahwa kepalanya berat, Santi kala itu sudah meninggal. Dia menderita gagal jantung dan menghembuskan nafas terakhir di pembaringan.
        “Duh Gusti, anakku mati begitu tenang, seperti tidur dan tidak menderita sakit apapun sebelum itu,” bisikku, kepada Allah Azza Wajalla, di kamra tidurku, sambil menangis sedih. Siapa sih, ibu mana sih yang tidak sedih mengetahu anaknya meninggal di usia yang begitu muda. Santi diambil Isroil ketika dia baru berumur 29 tahun, begitu muda, walau anaknya sudah tiga.
        Sebagai orangtua yang taat ibadah, aku dan suamiku Mas Dimas Untung Waluyo cukup tenang menghadapi kenyataan sedih ini. Kami ikhlas melepaskan anak kiami ke alam kemtian, karena itu sudah takdir, suratan dari Allah Subhanauwatallah. Namun, Hendro Kartiko, menantuku, suami almarhumah Santi, tidak bisa menerima kenyataan ini. Dia menangis keras dan bolak balik tidak sadarkan diri. Pingsan dan digotong tertangga. Diurut, diberi air putih, dipijit pakai balsem dan diberi obat minum supaya tenang. Namun, tetap saja dia pingsan hingga saat pemakaman di kuburan.
        Menantuku sangat berat ditinggal istrinya. Apalagi melihat anak bungsunya yang masih berumur tiga bulan. Masih meminum ASI, air susu ibunya, belum diajari minum susu kemasan. Hendro Kartiko menyebut nama anak-anaknya dan dia minta maaf tidak bisa mengurus ibu mereka hingga meninggal dunia.
        Karena masih kecil-kecil, anak-anak santi tidak terlihat sedih karena mereka belum tahu bahwa ibu mereka pergi selamanya dan takkan kembali lagi. Hanya yang umur tiga tahun, Si Sulung bertanya kepadaku, Mbah Putri, kenapa Mama tidur terus enggak bangun-bangun. Kenapa mamaku diselimuti kain dan tidak bergerak lagi Mbah?” tanyanya.
        Saat dia bertanya begitu  aku mengambil tubuhnya lalu memeluk dan menciumnya. Kutak bisa bicara apapaun selain mengusapa kepalanya yang berkeringat dan mencium keningnya dengan lembut. Kupeluk erat tubuh cucu pertamaku ini dan aku besarkan hatinya, bahwa mamany akan menghadap Tuhan dan masuk ke surge Allah Yang Indah. “Mama duluan pergi, lalu setelah itu, kita semua menyusul dan bertemu Mama di dalam surga,” bisikku.
        “Oh..Mama pergi duluan Mbah Putri ya? Pergi ke dalam surga, lalu setelah itu kita akan menyusul, masuk ke dalam surga pula, bertemu mama di sana ya Mbah?” tanyanya. Aku katakan  iya, maka itu harus beriman kepada Allah, ibadah kepada-Nya dan  harus saling kasih menagsihi sesama manusia seperti mamamu. Mamamu bukan hanya berhubungan baik kepada Allah, tapi juga berhubungan baik kepada sesama manusia ciptaan Allah, juga makhluk-makhluk kesayangan Allah, seperti kucing kucing, di mana mama sangat memperhatikan kucing dan menyayanginya,”kataku.
        Memang Santi sangat sayang kepada hewan piaraan. Dia bukan hanya suka member makan yang sehat, kucing-kucing kurang sehat di jalanan dia mabil dia bawa pulang diobati dan diberi makan. Banyak sekali kucing terlantar di jalan, ada yang tidak bisa jalan karena ditabrak mobil, ada yang kurus karena tidak ada makanan dan ada yang setengah mati karena suatu peyakit. Santi ambil dan pungut kucing begitu dan dirawatnya, di rumahnya yang besar tidak jauh dari rumah kami. Namun, karena sementara rumahnya direnovasi, Santi, suami dan tiga anaknya untuk sementara tinggal di rumah kami. Namun semua kucing itu di dalam mereka yang sedang dibangun, dan tiga kali sehari santi datang member makan dan merawat piaraannya yang berjumlah 15 ekor kucing itu.
         
       
       
       

       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAJI BULGANON HASBULLAH AMIR ORANG KAYA RAYA YANG DERMAWAN..

Dunia Supramistika Tia Aweni D.Paramitha

Pengalaman Abang Bulganon Amir Mursyid Spriritual Tangguh Yang Dapat Bisikan Masuk Neraka