DIMAS
SUPRIYANTO WARTAWAN POS KOTA JAKARTA
BIDADARI
TURUN KE BUMI
Widyawati adalah bidadari yang turun ke bumi.
Bagi yang belum pernah berjumpa dengannya, sebaiknya percaya. Bagi yang sudah
bertemu, sebaiknya mengiyakan.
Maka, bayangkanlah. Betapa beruntung saya berkesempatan wawancara dan
ngobrol dengannya.
Kesempatan bertemu dengan bintang jelita era 1970-an, yang awet cantik di
usia senjanya itu berlangsung di rumahnya di Bintaro Jaya. Dan saat ada
kesempatan berdua-dua, saya tak sia-siakan.
Widyawati bertahan sebagai aktris papan atas selama lima dekade, sejak
1967. Awet cantik, dan tawaran main tak pernah sepi, namun tetap selektif.
Menjadi legenda hidup, dengan prestasi yang langka.
Meski beberapa kali ketemu pasangan abadi di Indonesia ini, sebagai
wartawan peliput film, saya ini lebih banyak ngobrol dengan Bung Sophan
Sophiaan, membahas perfilman nasional, PARFI, dan politik.
Pertemuan siang itu merupakan yang pertama setelah Widyawati sendiri, di
tengah kesibukannya menjelang mantu untuk putra keduanya, Roma. Setelah tak ada
Mas Sophan lagi di sisinya.
Resminya saya wawancara, bersama kru Sinema Indonesia, menjelang penayangan
(kembali) filmnya "Kemelut Hidup" (1977) yang dibintanginya - karya
sutradara alm. Drs. Asrul Sani yang diangkat dari novel sastrawan Ramadhan KH,
untuk peringatan “Hari Film Nasional” di TVRI, beberapa tahun lalu.
Sesudah wawancara, sambil menunggu crew berbenah perlengkapan sutingnya,
saya curhat padanya. Saya katakan padanya, dulu saya menonton filmnya,
“Perkawinan” (1972), numpang truk kopra milik Babah Thiam Sing, juragan kopra
dan pemilik toko emas, di perempatan kota kecil kami. Jarak rumah dan bioskop
12 Km. Cukup jauh untuk anak 10 tahun. Dan kami bertiga, bocah-bocah kampung
yang nekad, menceritakannya selama seminggu, tak habis-habisnya.
Lalu saya katakan saya nonton film “Pendekar Si Bongkok”, setelah di Jakarta,
dengan teve hitam putih 14 inchi, yang ditenagai Accu. Film ulangan, tapi
berkesan. Tentu juga beberapa judul yang saya ingat, seperti “Arini; Masih Ada
Kereta yang Lewat” bersama Rano Karno, yang memberikan piala Citra padanya pada
FFI 1987. Juga film “Suami” (1989) bersama Dewi Yull, setelah saya menjadi
wartawan film.
Widyawati senyum-senyum mendengar cerita culun saya. “Banyak saya dengar
cerita seperti itu, dari penggemar saya. Terutama dari daerah, “ katanya,
dengan suara lembut.
SAYA berbicara dengan Widayati pertama kali, ketika tanpa sengaja saya
melakukan kesalahan tulisan di majalah saya, “Prada”, saat mendapati dia
menjawab pertanyaan para wartawan yang mengerubunginya. Saya menulis di rubrik
kilasan “Pokok dan Tokoh”. Sampai tak lama kemudian, saya dapat kejutan.
“Pak, tolong telepon di angkat. Ada Ibu Widyawati, mau bicara, “ kata
sekretaris redaksi, dimana saya jadi Pemred-nya. Saya terkejut dan
berdebar-debar. “Siang Ibu Widya, saya Dimas. Ada yang bisa saya bantu?” sapa
saya, resmi. Lalu dia menanyakan tulisan itu, saya menjelaskannya, dan dia
meluruskannya.
“Kapan kami bisa wawancara eksklusif?” sambar saya, setelah menjanjikan
ralat.
“Silakan diatur saja waktunya, “ jawabnya, diplomatis.
Saya tak sempat mewawancarainya secara eksklusif untuk majalah. Tapi
setelah saya keluar dari majalah itu, saya ketemu produser Boy Rivai,
menawarkan jadi interviewer menyambut “Hari Film Nasional”, dan wawancara
dengan sejumlah insan film senior dan kenamaan. Saya langsung mengiyakan.
Di rumahnya yang sejuk itu, lalu Widya curhat, mengenai pengalamannya
menjadi istri politisi PDI-P, Sophan Sophian. Memang itulah yang saya tanyakan.
“Kalau saya nanya Mbak Widya sebagai istri aktor pasti basi, ya? Gimana
rasanya jadi istri politisi? Jadi keluarga partai Banteng? “ tanya saya.
Widyawati mendesah. Dia menyatakan, sesungguhnya dunia film adalah
rumahnya. Di film dia “at home”. Orang-orang film adalah keluarga, katanya.
Sebaliknya, di politik, justru dia pendatang, dan ternyata banyak sandiwara.
“Setelah Sophan dilantik, tiba-tiba teman-teman lama menelepon. Bahkan dulu
yang waktu sekolah dulu nggak pernah dekat, tiba-tiba suaranya begitu akrab, “
katanya.
Awalnya dia menerima sebagai kegembiraan. Namun setelah Sophan Sophian
mundur dari DPR RI, teman-teman yang dulu dekat pun menjauh.
“Sophan tetap Sophan. Di film di politik sama saja. Dia orangnya keras, “
katanya.
Sesaat saya pamit, saya sempat bicara padanya. “Mbak Wid, yang banyak
akting ternyata bukan hanya pemain film ya. Di politik lebih banyak aktingnya,
“ kata saya.
Dia tersenyum. “Iya. Memang begitu,”
jawabnya lembut. ***


Komentar
Posting Komentar