GANTI USTAD
SOMAD DENGAN TGB
Terang terangan Abdul
Somad menolak. Lha, gantilah dengan TGB....
Nama Ustad Somad yang bersinar terang sebagai da’i tiba tiba
heboh karena direkomendasi jadi cawapres Prabowo Subiyanto. Syukur
alhamdulillah Ustad Abdul Somad menolak. Ulama lulusan Al Azhar Kairo, Mesir
ini ogah jadi pejabat. Dia menghargai ijtima ulama dan dukungan ribuan santri
kepadanya. Terima kasih, katanya. Tapi bidang itu bukan bidang keahliannya.
Lantas Ustad Somad mengutip hadis Nabi Muhamad SAW yang berbunyi: apabila
seseorang duduk di suatu jabatan yang tidak sesuai dengan bidang keahliannya, maka
tunggulah kehancurannya.
Artinya apa? Artinya Ustad Somad bukan
seorang yang ambisius dan main hantam kromo. main terima tawaran demi ambisi dan keserakahan hidup. Bukan ahli tapi karena silau
jabatan tinggi, silau uang besar, maka main sikat walau itu disadari bukan
bidang keahliannya. “Saya berterima kasih pada orang yang mendukung saya.
Terima kasih! Namun saya mohon doa semuanya agar saya tetap menjadi ustad
sampai mati,” kata Ustad Somad di beberapa satisun televisi dan medsos.
Mula-mula yang heboh menyebut nama Ustad
Somad dipasangkan dengan Prabowo adalah Amien Rais. Amien Rais seorang King
Maker yang jago membuat terobosan baru di kancah kepemimpinan nasional. Ingat
tahun 1999 saat di mana Amien Rais memunculkan nama Gus Dur sebagai capres di
MPR. Saat itu dukungan rakyat deras kepada Megawati Soekarnoputri. Tapi suara MPR terpecah. Satu barisan yang
mendukung Megawati walau wanita, yang lain anti pada pemimpin wanita. Tidak
mau presiden Indonesia seorang wanita. Seperti disamakan dengan kedudukan imam
sholat. Kepala negara ini dianggap imam sholat. Seorang imam shola haruslah
pria tidak boleh wanita.
Maka terjadilah pemungutan suara di MPR.
Kiyai Haji Abdurrahman Wahid mendapatkan suara yang lebih banyak dari Megawati
Soekarnoputri. Untuk itu Gus Dur terpilih sebagai presiden dan Megawati sebagai
wakil.
Setelah satu tahun menjabat, Gus Dur
diturunkan pula oleh Sidang Istimewa MPR. Otak penurunan itu adalah Amien Rais
juga. Yang dituduh Gus Dur bersama-sama dengan Megawati yang menusuknya dari
belakang. Lihat pengakuan Gus Dur dalam wawancara dengan Kirk Andy, Metro TV.
Saya tidak dendam dan tidak marah pada Amien Rais dan Megawati, kata Gus
Dur. Buat apa marah, buat apa dendam? “Tapi lupa sih tidak!” desis Gus Dur.
Di sini saya mau berbicara tentang
skenario Amien Rais. Amien memang pandai menjadi King Maker, termasuk mendorong
kemenangan Anies Baswedan lawan Ahok di pilgub DKI. Ahok yang kebetulan punya
masalah penistaan Al Maidah 51, dimanfaatkan oleh Amien Rais cs membawa kasus
sensitif dan tepat. Ahok kalah dan juga terhukum dua tahun melalui keputusan
pengadilan sebagai terdakwah penistaan agama.
Kini, Amien Rais nampaknya gagal
menyeting kemenangan Prabowo Subiyanto. Amien yang anti Jokowi dan ikut gerakan
Tagar 2019 Ganti Presiden, bahkan turut
menyanyi rekaman bersama tim anti Jokowi dua periode, buat skenario
cerdas. Nama Ustad Somad yang lagi melambung dipadukan dengan Prabowo dan
Parabowo mau. Bahkan mendengar Abdul Somad menolak, Prabowo berusaha menemui
Abdul Somad dan mau membujuk pendakwah itu agar mau menerima. Sementara Ustad
Somad menghindari pertemuan itu. Dia sibuk ke sana ke sini untuk tausiyah.
Amien Rais adalah tokoh reformis yang
berani. Saat kekuasaan dan kekuatan Pak Harto begitu menggigit, Amien sudah
berani lawan Pak Harto hingga bisa ditunkan oleh mahasiswa dan rakyat tahun
1998. Semua orang menghargai Amien Rais sebagai bapak reformasi. Hanya Adian
Napitupulu saja yang ogah hargai Amien Rais karena ketua Forkot itu jibaku
taruhan nyawa untuk turunkan Soeharto. Mereka yang bergerak keras dan gigih,
bukan Amien Rais. Demikian Adian Napitupulu
yang kini petinggi partai PDIP.
Amien Rais sendiri pernah menyatakan mau
nyapres lawan Jokowi. Namun kurang dapat sambutan. Untuk itulah dia berbalik
pandang lagi pada Prabowo. Bahkan kini menjagokan Ustda Somad,
Usaha untuk membujuk Ustad Somad segala
cara dilakukan. Termasuk rekaman video dan suara teman baik Ustad Somad sesama
da’i, yaitu KH.Arifin Ilham. Bahkan Arifin Ilham menasehati agar Ustad Somad
mau meniru Kanjeng Nabi Muhamad SAW yang dua hal dilakukan sekaligus. Baik
sebagai ulama maupun sebagai umaroh. Sebagai mahaguru agama Islam dan juga
pemimpin masyarakat sebagai khalifah. Namun jaman berbeda, era berganti. Saat
kepemimpinan Kanjeng Rasulullah adalah era di mana menyebarkan agama Islam yang
diperangi banyak musuh. Maka itu Rasulullah di garda terdepan. Sambil
penyebarkan agama Allah, Islam, juga memimpin ummat dalam kehidupan sosial dan
peperangan.
Kini Indoensia bukan jaman perang. Juga
mayoritas beragama Islam. Ustad Somad bukan bawa misi dan visi mengislamkan
yang belum Islam, tapi menjadikan yang beragama Islam benar benar islam.
Artinya mengerti agama secara mendalam, bukan hanya Islam di KTP.
Salut dan tabik kepada Ustad Somad yang
punya sikap hidup yang jelas. Bukan seorang yang ambisius dan serakah akan
jabatan dan uang. Bayangkan, bila menang dan menjadi cawapres, gajinya akan
besar dan dapat dana tunjangan operasional wapres juga sangat besar. Yang lebih
dahsyat, sebagai RI 2, akan mendapat banyak fasilitas dan keistimewaan hidup.
Dapat penjagaan pasukan, dapat pengawalan ketat dan sangat dihargai. Baik oleh
rakyat sendiri maupun oleh negara lain yang berhubungan bilateral dan
multilateral.
Ustad Somad yang bertubuh kurus
kerempeng, kulit kehitaman dan tidak tampan, hanya tertawa soal tawaran
cawapres. Bahkan jadi bahan percandaan segar yang keluar dari mulutnya. Saat
menjajal kacama putih, seorang tanya pada ustad Somad yang memakai kacamata
putih itu. Bagaimana rasanya, memakai kacamata putih Ustad? “Rasa wapres!”
canda Ustad Somad yang disambut tawa segar orang sekitarnya.
Dengan mengapungnya nama Ustad Somad yang
bukan berlatarbelakang birokrat, menunjukkan bahwa tim Prabowo panik. Yang
ditarik jadi cawapres bukan orang yang mampu, tapi menunjuk orang yang punya
massa. Ini bertanda cawarpes akan dijadikan lumbung pencetak pemilih Islam.
Maklum saat ini penggemar Ustad Somad puluhan juta. Ustad Somad sering pula
bercanda. “Dai sejuta umat? Bukan saya itu. Itu trad marknya KH Zainudin MZ,
da’i sejuta ummat. Kalau Ustad Somad, sebutlah da’i sejuta viewers,” katanya,
sambil tertawa. Memang, ustad Somad ngorbit bukan dari koran dan televisi, tapi
negtop karena video tausiyahnya yang menyentuh di media sosial youtube.
Sebenar ada kiyai haji yang ahli tafsir
Al Qur’an dan hafiz Qur’an 30 juz tapi juga pengalaman birokrasi pimpin NTB dua
periode, yaitu Tuan Guru Bajang. Muhamad Zaenul Majdi, memang berpengalaman dan
memimpin rakyat adalah bidang kehaliannya dan berpengalaman. Ustad Somad dari
awal menjagokan Tuan Guru Bajang sebagai calon presiden. Hal itu secara resmi
disampaikan Ustad Somad bersama-sama organisasi alumni Al Azhar, Kairo di
Indonesia.
“Tuan Guru Bajang dua hal yang dia kuasai
sempurna. Baik sebagai ulama yang mumpuni maupun sebagai birokrat, pemimpin
daerah NTB yang sukses. TGB berhasil menjadikan NTB lumbung pangan, surplus
jagung, surplus beras dan sukses bersama
presiden Jokowi membangun kawasan investasi perekonomian di Lombok Tengah.
Seharusnya tim Prabowo cq Amien Rais
mengalihkan pandangan kepada Tuan Guru Bajang. Jika tidak dan terlambat TGB
akan diambil oleh Jokowi dan Jokowi akan makiin kuat dan kokoh memenangkan
pilpres 2019. Maaf, jika Jokowi ambil KH Makruf Amin atau Moeldoko, berat. KH
Makruf Amien sama dengan ustad Somad, tidak punya pengalaman birokrat dan
seharusnya KH Makruf Amin menolak juga. Menuru Ustad Somad yang menyadari betul
bahwa bidang pemerintahan bukanlah bidang dirinya. Yang paling mungkin, Jokowi
gandeng Mahfud MD, dari kalangan santri yang juga pengalaman sebagai menteri
dan ketua Mahkamah Konstitusi. Jokowi mau menarik TGB sebagai cawapres, Jokowi
tau betul TGB mampu memimpin dan mampu membendung suara Islam. Tapi maukah
Megawati menyerahkan kepada TGB, karena akan menitip karpet merah pilpres 2024.
TGB bila jadi cawapres Jokowi, otomatis hal itu karpet merah tahun 2014 sebagai
presiden. Namun jika semua kita berfikir sebagai negarawan, bukan keluarga dan
KKN, maka kita pilihlah orang yang tepat di tempat yang pas. Jokowi – TGB akan
sangat kuat dan kokoh bagi pemenangan pilpres 2019-2024. Hakkulyakin dan
ainulyakin.****
Oleh: Tia Aweni D.Paramitha
Oleh: Tia Aweni D.Paramitha

Komentar
Posting Komentar