JIWO
DEKAT ULAMA TASAWUF
Budayawan Sujiwo Tejo tidak percaya pada ulama yang ke
Jokowi maupun yang nempel ke Prabowo. Ulama itu dalam bayangannya adalah kiyai
suluk. Kiyai yang memberikan jalan penerangan umat ke Tuhan, ke Allah Azza
Wajalla untuk umat. Bukan kiyai yang mendekat ke istana dan kiyai kiyai yang
memberikan dukungan politik pada capres cawapres untuk cari panggung dan
kekuasaan. Sujiwo hingga kini rajin keliling ke pesantren besar di Indonesia,
beraudiensi dengan kiyai kiyai besar yang tingkatannya ahli tasawuf.
"Apabila pandito, para alim ulama bergabung dan masuk dalam istana, itu
pertanda goro goro akan tiba. Kekacauan akan segera terjadi!" Jiwo sitir
pedagang nasi goreng judes yang laku keras di Surabaya. Kalau kita pesan, misalnya,
saya pake ayam dua. "Sudah tau, duduk aja jangan banyak omong!" Judes
dan mulutnya tajam. Lalu ada orang bank bisik ke Jiwo. "Mbah, jangan
bicara sama mereka apa strategi marketing dan trik pemasaran hingga nasi goreng
ini laku keras. Tapi tanya lah, siapa kiyai di belakang dia!" kata orang
bank itu pada Tejo. Artinya semua usaha lebih dipercayakan pada kiyai, ulama,
ahli tasawuf yang doanya langsung diizabah oleh Allah. Ki Narto Sabdo, dalang
wayang kulit di Jawa Tengah, seorang yang tasawuf. Ahli ibadah dan dicintai
yang maha kuada. Saat dia mainkan wayang kulit, wayangnya kelihatan, Ki Narto
Sabdonya raib. Ini gambaran orang yang sakti karena kedekatan dan dapat kasih
sayang Allah Azza Wajalla. Kiyai besar tasawuf, tidak pernah kerja cari uang.
Tapi kalau dia butuh uang, uamg selalu ada. Boleh percaya tidak pun boleh. Tapi
musikus, dalang, budayawan, wartawan, Sujiwo Tejo percaya itu dan dia telah
membuktikannya sendiri. Dia bertemu banyal ulama sepuh suluk yang punya
kemampuan lebih. Ulama itu ibarat tempayam. Dan umaroh itu gayung. Gayung yang
datangi tempayan, bukan tempayan yang datangi gayung.****
AKILA SARITA
AKILA SARITA

Komentar
Posting Komentar