Kisah Nyata Mystery Ristie Ananda. Saat Terakhir Lihat Dua Anakku....
KALI YANG TERAKHIR MELIHAT
DUA ANAKKU...
Panik menghadapi hutang piutang yang
bertumpuk, aku kabur ke Hutan Arjuna, Kalimantan Utara. Kutitipkan dua anakku
yang masih kecil kepada adik bungsuku Hernita Effendy, pegawai negeri sipil,
PNS, Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang tinggal di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Hutan Arjuna adalah hutan angker yang
menjadi pusat kerajaan jin Amargo, jin
penguasa hutan Kalimantan Utara.
Ketika Mas Janu masih hidup, kami membuka
beberapa usaha rumah makan dan bisnis properti. Semua usaha itu hancur total begitu
suamiku meninggal dunia. Semua aset yang ada aku jual dan beberapa usaha
diambil over oleh orang lain. Karena tidak bisa mengelola uang, akhirnya aku
malah banyak berhutan. Baik itu kepada bank maupun kepada perorangan.
Hutang-hutang itu menumpuk dan akhirnya menjadi masalah besar. Aku didatangi
penagih hutan, debt collector dan menyita mobil, motor serta barang-barang
berharga yang tersisa. Akhirnya, aku tidak punya apa-apa lagi dan anakku jadi
terlantar.
Tidak tahan terus-terusan di teror oleh
penagih hutang, aku pun lalu pergi meninggalkan rumah. Anak-anak aku titipkan
di adikku dan aku mengembara, menjelajah dunia mistik dan terdampar di
Kalimantan Utara. Aku terpaksa ke hutan angker itu untuk menemui Arjuna, Raja
Jin yang bisa memberikan uang kepadaku untuk membayar hutan-hutangku.
Setelah berjalan sepanjang 40 kilometer di
kedalaman hutan, hari ke tujuh aku di hutan lebat itu, barulah aku dapat
bertemu dengan Arjuna, jin tampan yang banyak menyimpan emas batangan tersebut.
Arjuna berada di blok Ursel, tengah hutan di antara kayukayu ulin tua dengan
gundukan tanah setinggi 200 meter. Aku diterima langsung ke istananya dan
Arjuna langsung menikahiku.
Malam pertamaku bersama Arjuna, tidak
begitu mulus. Sebab Arjuna mempunyai banyak istri bangsa jin sendiri dan aku
dicemburui oleh istri-istri bangsa jin
tersebut. Seorang wanita bangsa jin yang paling ganas adalah Mariska, jin dari
Bosnia Herzegovina, yang cantik jelita. Mariska menempeeng pipiku dan pipiku langsung
bengkak dan berdarah. Namun, karena keinginan besarku untuk mendapatkan emas
batangan, maka aku menahan rasa sakit itu hingga aku dapat berhubungan intim
dengan Arjuna.
Pada malam kedua, barulah aku dapat mulus
bersama Arjuna di ranjangnya. Malam itu juga, Arjuna memberikan 30 keping emas
batangan dan aku langsung masukkan ke karung yang sudah aku persiapkan dari
Jakarta, lalu aku kabur subuh hari. Dengan berlari aku menuju kota terdekat,
lalu naik perahu melalui Sungai Kahran menuju bandara dan terbang ke
Balikpapan. Dari Balikpapan aku ke Jakarta dengan membawa tiga puluh batang
emas 24 karat.
Aku beruntung, pada saat pemeriksaan X
Ray, benda mulia itu tidak terdeteksi. Aku mulus terbang ke bandara
Soekarno-Hatta dan naik taksi ke rumahku di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Aku ke
rumah adikku dan menemui dua anakku. Keesokan harinya, anak-anak kubawa ke
apartemen sewaaan di Anggrek, Slipi, dan kami tinggal di situ. Sebagai emas
yang terjual, 14 batang, dapat melunasi semua utang piutangku dan aku terbebas
dari tuntutan hukum apapun.
Sebagian emas yang lain, aku jual seharga
Rp 15 milyar dan kusimpan di bank. Sebagian uang itu, aku investasikan ke Gold
Finance dan setiap bulan menghasilkan uang yang cukup besar untuk kami hidup.
Aku juga bermain di busan index di Bapepam Jakarta dan karena bantuan Arjuna,
aku mampu menebak pergerakan busa dengan baik. Hasil bisnis ku itu luar biasa
dan aku mampu membeli beberapa apartemen sekaligus dan aku sewakan.
Kini aku sudah keluar dari kesulitan
keuangan, namun sayang, aku menemukan kesulitan baru. Arkian, ternyata aku
hamil dari Arjuna dan aku mengandung anak jin. Setelah diperiksa kepada dokter
kandungan, aku dinyatakan hamil empat bulan. Janin ku terus membesarkan dan
pada saat difoto USG, anakku itu berbentuk aneh. Bukan mirip janis bayi pada
umumnya, tapi mirip anak tikus. Mukanya panjang dan kelihatan ada ekornya. Duh
Gusti!
Agar tidak menghebohkan, aku nekad
untuk membuang janin calon anakku itu.
Aku segera melakukan aborsi di daerah Tanah Merah, Jakarta Pusat dan seorang dokter, sebutlah bernama
dokter Sukirman, bersedia menguret
anakku walau sudah empat bulan kandungan. Setelah melalukan oborsi kepadaku,
hari itu juga dokter kandungan ini meninggal. Arjuna marah dan dokter itu
dibunuhnya. Tengah malam Arjuna datang darui Kalimantan Utara, terbang ke
apartemenku dan dia mengakui bahwa dialah yang membunuh dokter Sukirman. “Dia
yang membunuh anakku di janinmu, maka aku memlasa kematian anakku itu secara
tunai,” kata Arjuna, yang jjuga marah besar kepadaku, mengapa aku tidak minta
ijin kepadanya untuk menggugurkan anaknya di rahimku. “Kau telah melakukan
kesalahan besar dengan membuang anak kita itu. Anak itu, jika lahir, akan
memberimu banyak emas dan uang. Dia akan mendorongmu menjadi orang kaya raya di
dunia,” kata Arjuna, dengan nada tinggi kepadaku.
“Maaf Arjuna, aku terpaksa menggugurkan
anak kita karena bentuk fisiknya yang tidak sempurna. Kepalanya seperti kepala
tikus dan dia berekor begitu dilakukan pemotretan USG. Daripada dia lahir
membuat kita malu, maka pertimbanganku, akan lebih baik aku gugurkan Arjuna,” imbuhku.
Arjuna menerangkan, bahwa, anak dari hasil
hubungan biologis kami itu bila lahir akan sempurna. Jika dia lahir sebagai
perempuan, dia akan cantik jelita. Bila dia lahir sebagai laki-laki, dia akan
tampan sejagat. Lagi pula, dialah yang akan mengangkat harta dan martabat saya
setelah dia lahir. “Kau telah salah besar menggugurkan anak itu dan seumur
hidup, kau tidak akan lagi mendapatkannya. Kau tidak akan bisa hamil lagi
karena rahimmu menjadi rusak dan kandungan mu tidak akan subur lagi hingga
akhir hayatmu,” terang Arjuna, masih bernada marah. Hati-hati, jika kau lalai
menjaga kesehatan rahimmu, kau akan menderita kanker rahim. Tambahnya.
Aku tersentak mendengar ungkapan Arjuna.
Kata-katanya kuterima bagaikan ledakan petir di siang bolong. Ungkapannya itu
benar-benar memukul batinku dan aku menyesal sekali melakukan hal itu. Namun,
aku persalahkan dia. Mengapa dia tidak datang pada saat aku merencanakan ke
dokter Sukirman dan membuang anak kami itu. Sebelum melakukan kuret, aku mempunyai
banyak waktu, tapi mengapa dia tidak datang untuk memperingatkanku lebih dini.
Syahdan, ternyata Arjuna banyak urusan.
Dia sedang ke luar negeri untuk mengurus istri bangsa jin nya di Rusia, Eropah
Timur. Pada saat aku akan menggugurkan kandungan, dia tidak dapat terbang ke
Jakarta untuk menengokku. Tapi, dia tahu bahwa aku merencanakan pengguran
kandungan itu. Bahkan, pada saat aku melakukan pemotretan USG pun, dia
mengetahui tapi dia tidak dapat segera terbang karena posisinya di benua yang
berbeda. Dia di benua Eropa, sementara aku di Asia Tenggara. Di Jakarta,
Indonesia.
Walau aku setengah mengemis meminta Arjuna
membuat janin lagi untukku, namun Arjuna menolak. Bahkan menjamah ku
sedikitpun, tidak dia lakukan malam itu. Pagi-pagi buta, pukul 04.30 WIB, dia
keluar jendela apartemenku dan terbang kembali ke Kalimantan Utara. Aku melihat
dia terbang di langit dan menghilang dalam hitungan detik. Sejak malam itu,
hingga kini Arjuna tidak datang lagi. Malah, pada saat aku kembali ke
kerajaannya, dia tidak menampakkan diri dan aku ditoloknya. Bahkan saat aku
datang itu, aku ceraikannya. Jin yang menjadi ajudannya, Kalangka, mengatakan
hal itu dan aku diminta segera meninggalkan hutan kerajaan Arjuna itu.
Daripada nyawaku terancam, maka aku
buru-buru meninggalkan daerah kerajaan jin di Kalimantan Utara itu dan kembali
ke Jakarta. Sesampainya di apartemenku, aku tersentak dan jantungku berdebar
hebat. Dua anakku yang dijaga oleh baby sitter, meninggal mendadak. Suster ku
pun, Rigayah, sakit panas dan dua hari kemudian, meninggal juga. “Anakmu telah
menjadi tumbal Jin Arjuna di Kalimanta Utara itu dan kau harus mengkihlaskannya
karena kau telah melakukan pesugihan Jin Arjuna itu,” kata seorang paranormal
mumpuni, Kanjeng Gusti Ampar, kepadaku.
Kanjeng Gusti Ampar memang seorang dukun
pesugihan mumpuni. Sudah ratusan pelaku pesugihan yang ditanganinya dan semua
menjadi kaya raya. Termasuk aku. Pada saat aku kabur meninggalkan dua anakku
karena dikejar-kejar penagih hutan, aku mendatangi rumah Kanjeng Gusti Ampar di
pinggiran Jakarta Barat. Kanjeng memberikan jalan keluar kepadaku agar aku
melakukan pesugihan. Cuma saja, salahnya, Kanjeng Gusti Ampat tidak memeberi
tahu ada tumbal. Dia hanya menyuruh aku menikah dengan Jin Arjuna di Kalimantan
Utara, tanpa menyebut sama sekali soal tumbal. Kalau saja dikatakannya sejak
awal ada tumbal dua anakku, pastilah aku menolak. Mending aku memilih hidup
miskin bersama dua anakku daripada kaya tapi dua anak tercintaku diambil
sebagai tumbal.
Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur,
aku terlamabat untuk membatalkan hal itu. Dua anakku sudah meninggal, diambil
Arjuna untuk dimakan jantung dan darahnya. Berikut baby sitter ku, yang juga
diambil dalam waktu yang hampir bersamaan. “Tidak ada persugihan tanpa tumbal.
Semua pesugihan itu ada tumbalnya. Terutama anak yang dincintai atau siapapun
yang kita sayangi, pastilah akan diambil,” ungkap Kanjeng Gusti Ampar,
kepadaku.
“Tapi mengapa dari awal Kanjeng Gusti tidak
memberi tahu bahwa pesugihan Jin Arjuna itu ada tumbalnya? Kalau sejak awal
saya tahu, saya pasti tidak mau, apalagi yang diambilnya adalah dua anak ku
yang sangat aku cintai, harapanku selama aku hidup. Sekarang semuanya sudah
terlambat. Jin Arjuna katakan bahwa aku tidak akan bisa hamil lagi, rahimku
sudah rusak bahkan aku dikatakannya terancam menderita penyakit berat kanker
rahim,” desakku.
Kanjeng Gusti tertawa ngakak. Dikatakannya
bahwa dia melihat persoalan kehidupanku begitu berat. Bahkan soal hutangku yang
begitu banyak kala itu, akan mengancam
nyawaku. Hutangku, katanya, akan membuat
nyawaku melayang. Untuk itu lah, dicarikannya
jalan cepat yang instan untuk cepat kaya, membayar hutang piutang secara tunai.
Caranya adalah dengan pesugihan Jin Arjuna, nikah dengan Arjuna dan membuahi
anaknya. Sudah 34 orang pasiennya menikah dengan Jin Arjuna dan semua merelakan
tumbal anak yang disayangi.
“Kau pasienku yang ke 35 yang kunikahkan
dengan Jin Arjuna dan menjadi kaya mendadak. Sayangnya, kau tidak konsultasi
kepadaku saat kau menggugurkan anak yang katamu mirip tikus itu. Jika anakku
itu tidak digugurkan, sampai engkau lahirkan, kekayaanmu akan melimpah ruah dan
kau akan emnjadi milyarder ke 35 yang menguasai perekonomian dunia. Beberapa
orang kongllomerat perempuan Asia, semunya melakukan pesugihan Jin Arjuna dan
akulah dukunnya,” imbuh Kanjeng Gusti Ampar, agak jumawa.
Karena sudah 35 pasiennya yang sukses
menapaki pesugihan Jin Arjuna, maka Kanjeng Gusti pun kecipratan menjadi kaya
raya. Dia dibagi uang yang sangat banyak oleh pasiennya yang telah sukses. Maka
itu, kekayaan Kanjeng Gusti melimpah ruah. Kristal di rumahnya begitu mewah
berharga ratusan milyar. Begitu juga dengan kendaraan mewah seperti
lambhorgini, porche, ferrari dan jaguar. Semua mobil mewah dia punya memenuhi
garasinya yang luas. Sementara istrinya, ada sembilan orang. Semuanya muda,
cantik-cantik dan berkulit putih. Satu istri tertuanya, Mbok Suminah, menjadi
bos, kepala dan pemimpin dari delapan istri Kanjeng Gusti Ampar yang lain.
Ganjeng Gusti Ampar seorang pengamal ilmu
gaib mumpuni dari Hutan Kalimantan Utara. Dia berasal dari Pulau Jawa namun
sejak usia muda melanglang buana ke Kalimantan Utara. Merantau ke hutan
Kalimanan Borneo untuk mendalami ilmu jin. Maka itu, setelah 23 tahun memasak
ilmu di hutan Kalimantan Utara, dia bertemu dengen Jin Arjuna dan membuat
perjanjian gaib untuk menolong siapapun yang mau kaya raya dan bersedia
menumbalkan anak-anak kesayangannya.
Kini semua sudah terlambat. Sikap
penyesalanku tidak berguna lagi. Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Aku telah
kehilangan dua anak yang kucintai, Dua mata air kehidupan yang menjadi sumber
kebahagiaanku selama ini. Hanya gara-gara mau melunasi hutang, semuanya hancur.
Yang hancur bukan saja imanku, keyakinanku, tapi juga anak-anak kesayanganku.
Kini aku hidup sendiri, mengambang seperti
serabut di laut. Terapung mengikuti arah angin. Angin ke barat, aku
terapung-apung ke barat. Angin ke timur, aku terapung-apung ke timur. Angin ke
selatan, aku hanyut ke selatan, angin ke utara, aku hanyut ke utara. Sampai
kapan aku akan mengapung, aku tidak tahu. Yang jelas, hari ini, saya bertobat.
Saya sudah melakukan tobat Nasuhah. Tobat yang mendalam kepada Allah Azza
Wajalla, untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa ini.
Aku mengubur diriku dalam tanah kuburan
dan menganggap diriku telah meninggal. Dengan cara itu, aku bertobat, dan aku
yakin Tuhan mengampuni aku. Namun, di dalam kuburan, aku bertemu dua anakku dan
aku menengais memeluk mereka. Dua anakku berlari di padang hijau yang mega
luas, mereka berdua tertawa bahagia dan aku sangat terhibur melihat mereka. Aku
yakin, kedua anakku yang tidak berdosa itu, ada dalam alam sorga-Nya Allah.
Paling tidak, mereka berada di alam barzah tanpa siksa kubur. Mereka yang tidak
bersalah, tidak tahu apa-apa berada dalam lindungan Allah dan kasih sayang
Allah yang Maha Pengasih.
Setelah aku memeluk mereka berdua dengan
tangis, mereka mengahpus airmataku dan memintaku berhenti menangis. “Tertawalah
Mama, tertawlah, La Tahzan, Mama jangan bersedih, jangan menangis,” kata
keduanya. Setelah itu, mereka berlari meninggalkan aku. Melambaikan tangan
mereka dengan ceria kepadaku. Walau batinku berat, namun aku berusaha tertawa,
sebagai mana yang mereka harapkan dariku. Aku melepaskan mereka dengan senyum
ikhlas, senyum bahagia sebisanya. Selamat jalan anakku, Mama berdoa semoga
kalian berdua berada dalam sorga Allah yang abadi dan superindah. Aamiin yaa
robbal aalamiin.****
(Kisah yang dialami oleh Ristie
Ananda, Tia Aweni D. Paramitha menulis untuk Portal-Mystery.Blogspot.Com

Komentar
Posting Komentar