MANTRA SAKTI MANDRAGUNA DARI ALAM KEMATIAN
Prihatin banyaknya orang miskin di Indonesia. Maka aku, Alimudin Muhamad Istiqori, 54 tahun, ditugaskan
untuk menolong sesama manusia.
Utamanya yang punya problem hidup. Dari kabar batin yang aku terima dari arwah
istriku, aku diperintahkan dari alam astral, untuk menyebarkan mantra-mantra cepat
kaya kepada para pasienku. Bila sudah berhasil, aku boleh tinggalkan mereka dan
mereka harus berjalan sendiri tanpa aku. Namun, jika belum berhasil, aku ditugaskan
untuk menolong siapapun yang minta
bantuan, hingga sukses.
Orang yang datang dengan masalah soal
hutang piutang, bermasalah dengan penagih hutang debt collector dan soal perusahaan bangkrut, dagangan tak
laku, pekerja yang dipecat dan di pehaka tempat kerja dan
macam-macam masalah berat, aku harus tolong dan bantu.
Mantra
itu, aku petik dari doa-doa Nabi Sulaiman
Alaihissalam. Nabi yang mampu memerintahkan jin dan unggas untuk memindahkan
istana Siti Balqis ke sebelah istananya dengan hitungan detik. Karena mantra
sakti mandraguna Kanjeng Nasi Sulaiman, maka hampir semua pasienku, bisa keluar
dari kesulitan hutang piutang. Bahkan sebagain besar sukses menjadi orang kaya. Bayangkan, seorang satpam
kompleks, bisa punya mobil mewah furtuner dan Pajero Sport.
Keistimewaan
Nabi Sulaiman adalah kaya raya. Bukan hanya karena bisa mengendalikan jin dan
memerintahnya saja. Akan tetapi, karena hartanya yang berlimpah ruah, maka
Kanjeng Nabi Sulaiman AS dinobatkan menjadi manusia terkaya di jamannya. Kanjeng Nabi kaya raya karena ditolong Allah
Azza Wajalla melalui kehebatan jin-jin yang dikenadlikan Kanjeng Nabi.
Ternaknya banyak dan sehat, gemuk. Emas, intan dan berliannya juga banyak
karena ridha Allah setelah Kanjeng Nabi memerintahkan piaraan gaibnya, jin-jin
dan unggas sakti mandraguna.
Ada
unggas yang datang dari surga. Bentuknya mirip burung cenderawasih yang warna
warni dan berbulu cantik. Ekor burung cantik itu, panjang dan bisa menari.
Nurung itu diperintahkan Kanjeng Nabi Sulaiman AS, atas ijin Allah Azza
Wajalla, mampu membawa mutiara indah dari laut. Dan mutiara itulah yang membuat
Kanjeng Nabi Sulaiman sangat kaya.
Tidak
pernah aku rencanakan, tiba-tiba aku dapatkan bisikan gaib. Diturunkan wisik dari langit, yang mendorong aku untuk
menjadi dukun. Istilah kerennya, seorang paranormal. Atau istilah yang lebih
moderen, seorang supramistika dan cenayang. Tapi, aku lebih memilih istilah
mukasasffah, kassaf, karena datangnya dari Allah dan untuk membantu sesama
manusia di dunia.
Bisikan
itu datang di saat aku ditinggal mati istriku yang sangat aku cintai. Karena
berat menemui perpisahan dengan kekasih
hatiku, maka setiap usai sembahyang isya hingga subuh dinihari, aku selalu
melakukan tahlilan dan berdoa di makam istriku, di kuburan Taman Beringin,
Parungenclek, Kabupaten Tangerang. Sebuah kuburan di tengah hutan lebat di atas
Sungai Cisadane yang angker. Karena tidak ada listrik dan ditumbuhi ratusan
pohon beringin tua, maka lokasi kuburan itu sangat gelap dan wingit.
Istriku,
Ratu Safitri Juwitasari, 47 tahun, wafat Hari Jumat Wage, 1 Januari 2010 pukul
08.00 pagi. Saat itu masih suasana tahun baru, di mana pada malamnya banyak
pesta kembang api di dekat rumahku, kompleks Harjamukti Persada, Parungpanjang,
Kabupaten Tangerang, Banten. Ratu Safitri Juwitasari memang punya riwayat sakit
jantung dan darah tinggi. Maka itu, ketika terjadi stress berat tanggal 1 pagi,
dalam keadaan tidur usai subuh, istriku sudah tidak bernyawa lagi.
Atas
permintaanku sendiri, pagi itu langsung dimandikan di dislotkan, sholat jenazah
di rumah kami. Karena terbentur Hari Jumat, harus sembahyang Jumat di mesjid
Baitul Muslimin, maka istriku langsung dimandikan, dikagfani, disolatkan dan
langsung dikubur ke Taman Seribu Beringin. Usai pemakaman, pas waktu ke mesjid
dan saya pergi sholat Jumat ke mesjid Baitul Muslimin.
Besok
malamnya, kami lakukan tahlilan di rumah, begitu juga lusa malam dan hari ke
tiga. Namun pada hari ke empat kemtain sitriku, aku sendirian usai sembahyang
isya ke Pemakaman Taman Seribu Beringin. Tanggal 3 Januari 2010 Malam Minggu
Legi. Aku membaca Surat Yasin dan 130 Al Fatihah untuk almarhumah hingga subuh.
Malam itu tidak ada tanda apapun dan aku tertidur di tikar sebelah pusara istriku.
Begitu
juga pada malam selanjutnya, Hari Senin Pahing, tanggal 4 Januari 2010, juga
tidak ada tanda-tanda khusus kudapatkan saat tidur hingga pagi di pusara Ratu
Safitri Juwitasari, istriku. Demikian pada Hari Selasa Pon, 5 Januari 2010,
tidak juga ada tanda-tanda aneh aku dapatkan. Namun, pada Malam Jumat Legi, tanggal 8 Januari, pukul 02.00 dinihari, aku dibangunkan oleh
Ratu Safitri Juwitasari, istriku yang sudah wafat di dalam pusara Blok G,
Pemakaman Taman Seribu Beringin, saat aku terlelap usai baca Surat Yasin.
“Yang,
bangun Yang, aku mendapatkan pesan dari alam kubur dari Kanjeng Nabi Sulaiman
Alaihissalam, agar Yayang hafalkan mantra-mantra sukses kaya raya dan pagar
bisnis gemilang yang dituliskan di daun lontar ini,” kata almarhumah istriku.
Aku terhenyak dan bangun mengangkat punggunggu dari terlentang di tikar. “Mama,
Mama kan sudah meninggal? Kenapa Mama hidup lagi?” tanyaku, penasaran, juga
kaget sekali. Kala itu istriku menggunakan baju putih yang biasanya
dikenakannya saat resepsi bersamaku,putih jenis baju gamis dengan jilbab warna
hitam. Baju itu biasa dikenakannya dan sekarang masih ada di lemari di kamar
kami, aku simpan baik-baik sebagai kenangan.
“Yayang
jangan banyak pertanyaan, bawalah aksara mantra di daun lontar ini, jangan
hilang dan simpanlah baik baik di kamar kita. Nanti, Yayang akan jadi pemimpin
para jin yang diserahkan Kanjeng Nabi Sulaiman, semuanya berjumlah 118, dan
jin-jin itu akan membantu pekerjaan Yayang begitu jadi dukun. Tapi ingat Yang,
Kanjeng Nabi pesan, agar Yayang benar-benar menolong pasien yang miskin dan
kesulitan. Jangan sampai menolak pasien dari orang miskin, kalau orang kaya,
boleh Yayang tolak,” ungkap istriku. Setelah menyetahkan lima lembar daun
lontar kepadaku, istriku lalu menghilang bagikan angin, raib lagi entah ke mana. Apakah
mungkin kembali ke a lam kubur atau kembali ke alam barzah, aku tidak
tahu.
Setelah
berdoa untuk istriku beberapa saat, aku segera berdiri dan pamit kepada istriku
untuk pulang ke rumah. Kubawa daun ;ontar beraksara mantra-mantra itu untuk
kubaca di rumah setelah sembahyang subuh.
Setelah
sembahyang berjemaah subuh di mesjid Baitul Muslimin, aku kembali ke kamarku
dan menyalakan lampu baca. Aku membaca surat bertulisan Arab Gundul dan aku
amalkan langsung. Untunglah aku bisa baca aksara Arab Gundul karena saat aku
enam tahun di perguruan agama Islam, pesantren Nurul Huda di Tanjung Batu, Ogan
Ilir, Sumatera Selatan, ketika aku remaja hingga perguruan tinggi.
Setelah
membaca mantra hingga pukul 09.00 pagi, tiba-tiba suara bergemuruh di atas
loteng rumahku. Suara seperti orang berlarian dan saling kejar. Arkian,
ternyata suara gemuruh itu adalah suara 118 jin yang menghuni aksara Daun
Lontar yang aku baca. Aku dapat melihat mereka bagaikan kurcaci, kecil kecil
namun ada yang cantik dan ada yang berkumis seperti lelaki Arab atau Turki di
Timur Tengah.
Terdengar
suara istriku dari Alam Kubur, mengatakan bahwa 118 jin itu sudah bersamaku dan
dia diperintahkan apapun asal untuk kebaikan. Semuanya jin muslim dan muslimah.
Perempuan berjumlah 59 yang semuanya muslimah, sementara jin lelaki jumlah 59
dan semuanya muslim. Kedua jenis jin itu boleh disuruh ke mana saja, asal untuk
kebaikan.
Dari
seratus delapan belas jin itu, sebagai datang dari Timur Tengah dan sebagai
datang dari Banten Selatan, Samudera Hindia. Dari dua pulau di Banten Kidul,
yaitu Pulau Dili dan Pulau Tinjil. Dua di antaranya, datang dari Ujung Kulon,
yaitu penghuni Pulau Peucang.
“Yayang
boleh perintah apapun, tapi Yayang dilarang menikahi mereka. Ini pantangan,
walau Yayang akan terkagum dengan kecantikan mereka yang mirip Bintang Film
India, Mumtaz dan Heema Malini,” kata istriku. Kenapa tidak boleh? Karena
perjanjian gaib istriku dengan Kanjeng Nabi Sulaiman Alaisissalam, suamiku
tidak boleh menikahi jin yang cantik-cantik itu karena istrinya hanya aku, Ratu
Safitri Juwitasari,” cerita istriku. Tahulah aku, aku dilarang nikah dengan
njin cantik karena istriku cemburu. Sejak dia masih hidup, memang da cemburuan
dan sangat over protective kepadaku soal wanita.
Namun
anehnya, aku diperbolehkan menikahkan jin-jin ku itu kepada orang lain. Boleh
menikahkan jin wanita untuk manusia berjenis kelamin lelaki, dan menikahkan jin
lelaki untuk manusia berjenis kelamin wanita. “Karena Yayang pemilik dan
berkuasa atas jin jin itu, maka Yayang lah yang menikahkan mereka dengan
manusia,” ungkap istriku.
Setelah
dengan tekun aku menghafal mantra sakti mandraguna Kanjeng Nabi Sulaiman AS di
daun lontar, tanggal 14 Juli 2010, Hari Rabu Pon pukul 24.00 tengah malam,
istriku membawa pesan Kanjeng Nabi Sulaiman lagi. Katanya, aku susdah bisa
menolong orang, baik mengobati penyakit maupun untuk kerejekian, kesuksesan
usaha dan kekayaan harta. Tapi, ada
piranti khusus yang disebut, yaitu jenis usaha, lokasi usaha dan modal usaha
untuk menuju sukses. Semua itu disampaikan secara lisan oleh istri yang
datangnya dari Kanjeng Nabi Sulaiman Alaihissalam.
Besok
harinya, Kamis tanggal 15 Juli 2010, hari Kamis Wage, aku mendatangi tetanggaku yang baru di pecat perusahaan
tempatnya bekerja dan baru saja ditinggalkan istri dan anak-anaknya ke luar
negeri. Istri dan dua anaknya bekerja di Hongkong dan tetangga ini sendirian
stress di rumahnya di beberapa blok dari rumah saya.
Diceritakannya,
bahwa istrinya tidak tahan hidup tanpa uang sejak dia dipecat dari perusahaan
Medzo Oil Company di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Istrinya tanpa minta
ijin darinya, diam diam berhubungan
dengan biro penyalur tenaga kerja ke Hongkong dan dia kerja di Hongkong,
membawa dua anak gadisnya sekaligus.
Rasa risau dan galau ditinggal istri dan anak-anak, membuat Dafri Jamiun, 53
tahun, sebutlah begitu, depresi berat. Bahkan stress mendalam juga risau dan
sangat galau. Berdasarkan petunjuk gaib
dari arwah istriku, aku disuruhnya menolong
Dafri Jamiun, yang dulu terkaya di kompleks kami dengan lima mobil mewah
dan tanah yang banyak. Semua hbarta itu terjual sejak dia dipecat hingga untuk
makanpun, susah, bangkrut total.
“Kamu
mau mendengarkan saran gaib yang kudapatkan untukmu tadi malam? Aku akan
menolongmu dengan kunci alam astral, kau akan sukses, kaya raya dan hidup
normal. Lalu, setelah itu, kau jemut istri dan dua anakmu untuk pulang, kumpul
lagi bersamamu!” cetusku. “Ah yang benar ni? Serius enggak? Aku mau, mau, mau!”
teriaknya. Dafri Jamiun lalu kuperintahkan ambil wuduh dan kuajak bicara empat
mata di rumahku. Dia ambil wudhu lalu ikut aku ke kamar praktekku, sebuah
kamarr tidur, gelap gulita yang kujadikan tempat untuk menolong orang.
“Sekarang
kau punya ide apa Dafran Jamiun, maksudku, ide untuk mencari uang. Dagang, bekerja
atau begerak di bidang jasa, mana yang kau pilih?” tanyaku. “Aduh Bos, aku tidak punya gagasan dan idea pa-apa, pikiranku
buntu, lemot dan katrok lah sekarang. Aku tidak mencari uang apa apa, kecuali
menerima pemberian adik perempuanku uang untuk makan per-bulan. Adikkulah yang
menolong aku untuk makan,” kisah Dafran Jamiun, serius.
“Lha,
kok mau Kau dibantu adikmu untuk makan? Malu dong? Gengsi, kau harus bekerja,
kerja, kan tubuhmu masih sehat, kau masih bisa main sepeda setiap minggu,
ayolah, kerja, apa gagasanmu, mau usaha apa gitu?” desakku. Untuk menolong
Dafran Jamiun, tidak bisa sejadar memberikan jin, menikahkan dia dengan salah
satu jin perempuanku. Dia harus bekerja,
berdagang atau menjual jasa. Dengan cara
itulah jin ku bisa menolongnya, dibikin dia maju pesat dan jadi kaya raya.
“Oke,
bagaimana kalau aku menjadi pemasok pasir ke material atau ke usaha
pembangunan. Sebab aku tahu caranya membeli pasir dari pengrajin pasir di
Sungai Cisadane dan memasarkannya,” katanya, sungguh-sungguh, sambil melototkan
matanya, tanda serius.
“Nah
itu bagus kawan, kau mulailah mencari pasir di pengrajin, kumpulkan dan jual ke
truk-truk material yang datang, atau kau pasarkan sendiri ke pembangunan Real Estate di Tangerang Raya ini,” kataku.
Jangan takut, kau akan maju dan kau harus yakin, engkau akan sukses. Sukses
karena Allah Azza Wajalla membantumu, memberikan rejeki untukmu dan menolongmu
sampai engkau mati. Tapi, kau harus sembahyang yang benar, berdoa yang serius
dan baca mantra pemberianku dari Kanjeng Nabi Sulaiman AS dengan
sungguh-sungguh. Kataku, kepadanya. Dia mengangguk dan bersumpah untuk
sembahyang, sementara selama ini, dia tinggalkan Allah dan tinggal sembahyang
karena galau, bahkan nyaris gila karena ditinggal istri dan anak-anaknya.
Dalam
waktu tiga bulan, usaha pasir Dafran sukses besar. Dia sudfah punya pangkalan
dan punya lading pasir di beberapa perusahaan real setate. Dia sangat terpakai
dan dicintai oleh mitra usahanya. Tahun 2012 Dafran kaya raya. Mobilnya enam
belas jenis truk dan mboik sedan bagus,
lima unit produksi terbaru. Hampir sepanjang Sungai Cisadane dari Bogor ke
Mauk, Laut Utara, dikuasainya. Semua pasir dikelola oleh jaringan usahanya dan
dia jadi Bos Pasir tersukses di Banten. Namun, dia sangat bahagia dengan jin
perempuan cantik dari Samudera Hindia pemberianku. Istri yang tak terlihat dan
tidak kasat mata. Namun dia sangat merasakan bahwa ada istrinya itu dan aktif berkomunikasi dalam
usaha pasir yang dikelolanya. Kini, istri sungguhan Dasfran dan dua anaknya,
telah kembali ke pangkuan Dafran. Mereka tidak mau ke Hongkong lagi karena
Dafran, suami dan ayah anak-anaknya, sudah kaya raya. Sudah memenui kebutuhan
hidup layak dan normal.
Hingga
tahun 2016 ini sudah banyak aku berikhtiar, menolong orang miskin menjadi
cukup. Menolong orang berkecukupan
menjadi tambah kaya raya. Namun, sebagi perjanjian gaib yang ditandatangi
darah, aku tidak boleh kaya. Aku harus tetap sederhana, bersahaja dan hidup
secara apa adanya. Tidak boleh naik mobil mewah, tidak boleh di kamar AC dan
tidak boleh amakn enak. Makananku setiap makan harus dengan nasi dan garap.
Sementara minumanku, harus kopi pahit tanpa gula. Filsafatnya, adalah, asin,
manis, pahit dan asam kehidupan, harus aku pegang dengan ihklas dan kuhadapi
dengan hati luas, lapang dada hingga aku wafat menysul istriku di alam
Barzah.*****
(Kisah nyata dialami
Alimudin Muhamad Istiqori. Yudhistira Manaf menulis cerita gaib itu untuk
Majalah Online Mystery-Red)

Komentar
Posting Komentar