Ganasnya Guna-Guna Kain Jenazah.....
GUNA-GUNA
KAIN MAYAT
Begitu
namanya terkenal se-Indonesia, Rien Santika, 24 tahun, sebutlah begitu, lupa
diri. Dia sangat angkuh kepada siapapun. Bahkan, kepada famili dekatpun, dia
sombong. Padahal selama ini, sebelum lagunya menjadi hit, masuk jajaran Top Ten
selama berbulan-bulan, dia sangat sederhana dan bersahaja. Bahkan pada saat dia
duduk di bangku SMA Negeri Enam Bulungan, Jakarta Selatan, dia cenderung
minderan. Maklumlah, ayahnya hanya seorang pedagang barang-barang bekas di
Pasar Senen, jualan sound system seken di Jalan Kenanga, depan proyek Senen,
dekat under pass menuju Jalan Letjen Soeprapto.
Sementara
itu, rumah mereka di Jalan Bendi, Tanah Kusir, sangat sederhana. Separuh
dinding rumahnya dari papan bekas dan lantai dasar rumahnya hanya diplester
dengan semen dan pasir. Tidak mampu membeli keramik. Bahkan atap rumah separuh
genteng separuh asbes bekas, yang jika hujan deras, bocor di mana-mana. Karena
kemiskinan itulah, maka Rien jadi rendah diri. Dia minder dengan teman-teman
SMA Enam IPA, baik perempuan maupun kepada laki-laki. Termasuk kepadaku, teman
baiknya, yang boleh dikatakan sudah berpacaran.
Karena
aku selalu membesarkan hatinya, untuk tidak minder, maka aku diterima baik olehnya.
Bahkan diterima baik oleh ayah dan ibunya. Aku selalu datang ke Jalan Bendi,
rumah mereka untuk apel di malam minggu. Dengan ijin kepada keluarga, aku biasa
ngajak Rien keluar, nonton film di bioskop 21 di Mal Pondok Indah, atau makan
sate ayam kesukaan Rien. Sate Ayam Mang Ujang diperempatan Jalan Natuna Raya.
Karena
sering menunggak yuran dan biaya beli buku di sekolah, tidak jarang aku
membayarkan yuran Rien. Bahkan aku membelikan buku untuknya. Beruntung,
orangtuaku orang kaya, pejabat tinggi di Departemen Pembangunan Abadi, bukan
nama sebenarnya, eselon satu, direktur jenderal, dirjen, yang berposisi “basah”, banyak makanan dan
ayahku kaya raya. Orang belum punya mobil BMW Seri Tujuh, ayahku sudah punya.
Bahkan untuk aku kendarai, ayahku membelikan aku mobil mewah Jeep Mercy
terbaru. Dengan jeep prestisius tu pulalah, aku mengajak Rien jalan-jalan ke
Puncak Pass, ke Anyer, bahkan ke Pengandaran dan menginap.
Mungkin
karena ayahku kaya, maka orangtua Rien memberikan kebebasan kepadaku membawa
Rien pergi jauh. Ibarat kata, bila terjadi apa-apa, Rien pasti akan aku nikahi
dan mereka punya besan kaya raya. Ayah dan buku yang puya kekayaan ratusan
milyar rupiah. Belakangan, aku malah membangun rumah mereka yang kumuh. Aku
ganti atap yang bagus, lantai keramik dan isi perabotan bermerek buatan Italia
yang cantik. Orangtua Rien senang sekali akan usahaku ini. Bahkan, Rien mengaku
sangat berhutang budi kepadaku. Tidak kurang Rp 100 juta aku gelontorkan untuk
keluarga Rien. Termasuk sewa kios ayahnya di Jalan Kenanga, yang menunggak dan
diancam akan dikeluarkan dari situ.
Berjualan
barang bekas jenis sound system di situ, tidak menentu. Artinya, penghasilannya
pasang surut. Jika lagi ada pembeli mixer, power atau speaker yang berani beli
mahal barang bekas, bapaknya Rien dapat uang. Namun jika seti pembeli, dia
tidak dapat mengantongi uang sedikitpun. Bahkan untuk beli bensin motornya pun,
tak punya uang. Untuk itulah, ketika dia curhat kepadaku, aku memberikan
sejumlah uang kepadanya. Selain untuk beli bensin, juga untuk makan dan
jajannya selama berjualan di Jalan Kenanga itu.
Sejak
SMP, Rien emmang pandai menyanyi. Suaranya sanat merdu dan dia biasa manggung
di Taman Impian Jaya Ancol, bersanma band Binaria, yang personalnya teman dari
ibunya, Ibu Anggun Safitri. Ibu Anggun Safitri, ibu Rien, dulunya juga
penyanyi. Namun tidak sampai rekaman sudah disunting oleh Pak Daud Singgai,
ayah Rien yang tadinya juga pemain band. Karena mantan pemain band itulah, maka
Pak Daud Singgai berhubungan dengan alat pendukung band, yaitu sound system. Sang
Anakpun, ibarat pepatah buah jatuh takkan jauh dari pohonnya, ikutan menjadi
penyanyi. Sejak dari kecil Rien diajari tampil di panggung hiburan, walau hanya
membawakan satu atau dua lagu dengan sifat malu-malu kucing.
Karena
terasah sejak dini, maka Rien trampil menyanyi. Syaranya bagus, punya vibrasi,
dengungnya merdu dan memiliki tehnik vocal yang ciamik. Tak aneh, jika di SMA
VI Bulungan, Rien selalu didaulat guru dan teman-temannya menyanyi. Dia juga
ikut teater pimpinan Toto Prawoto di Teater Bulungan, sebagai pengobat rasa
minder dan membangkitkan rasa percaya dirinya dengan berakting di pentas lomba
teater remaja se-Jakarta.
Di luar
dugaan, karena bermain total, maka Rien mendapatkan gelar juara satu, pemian
terbaik teater se-SLTA Jakarta, dengan mendapatkan hadiah uang dari Diknas dan
tiket ke Bali pesawat Tiana Air.
Tiket
itu kutambah tiga, ibu, ayahnya dan aku, kami erangkat ke Bali dan
bersenang-senang di Pulau Dewata ingga ke Senggih Beach, Lombok, dan pulau
kecil Gili Trawangan di Selat Nusa Tenggara Barat.
Saat
itulah kegadisan Rien terenggut. Aku katakana bahwa aku akan bertanggungjawab
dan siap menikahinya. Aku sudah punya deposito pemerian ayahku Rp 4 milyar,
rumah mewah di Bintaro Ujung dan 5 hektar tanah berkebunan karet di Lampung
Barat. Nanti, jika kita menikah, kita tetap kuliah dan depositoku cukup untuk
biaya pendidikan dan biaya hidup per-bulan. Rien senang mendengar janjiku ini
dan dia siap untuk menikah walau usia kami masih begitu muda.
Tentang
ayahku, ayahku kuketahui punya tiga istri simpanan dan semua aku kenal. Ibuku
tidak tahu hal itu dan aku merahasiakan kasus ini kepada ibuku. Maka tak aneh,
bila ayahku memanjakanku, harapannya, agar aku tidak buka mulut. Tahan rahasia
dengan ketat hingga pernikahannya dengan ibu kandungku, aman-aman saja hingga
kiamat.
“Bila
kau tahan mulut, tetap merahasiakan tentang perempuan simpanan Papa, maka
depositomu akan Papa isi terus dan Papa akan penuhi apa yang kau mau, baik itu
rumah, mobil, tanah dan intan berlian. Bahkan jika kau mau menikahpun, Papa
akan nikahkan,” begitu kata ayahku, kepadaku, di tempat rahasia, hotel bintang
lima di Jakarta Barat, berjanji suci. Namun, bila aku buka mulut kepada ibuku,
maka semua akan dicabut, bahkan aku akan dibuangnya ke Papua Barat, dikirim ke
Omku yang ada di Sorong, bekerja sebagai kontraktor bangunan di Raja Ampat.
Begitu
menjelang ujian akhir SMA Negeri Enam, Rien masuk dapur rekaman. Soundering
Record mengontraknya di luar pengetahuanku. Koh Acau, bos Sundering Record,
mendatangi Rien di teater dan melakukan konrak kerja di Teater Bulungan. Namun,
setelah teken kontrak itu, Rien menghilang dariku. Telponku tidak diangkat dan
dia tak pernah menelponku lagi. Jangankan menghubungiku lewat mobile phone, SMS
pun, tidak dilakukannya. Saat aku datang ke rumahnya, kedua orangtuanya minta
maaf, karena mereka tidak tahu di mana Rien dan apa yang sedang dilakukannya.
Arkian, ternyata kepada kedua orangtunya pun, Rien tidak menghubungi.
Setelah
menemui Mas Toto Prawoto, pimpinan teater, aku mendapatkan info bahwa Rien
masuk studio rekaman. Bahkan dia sudah teken kontrak untuk lima album. Selain
album rekaman, juga jadwal show keliling Indonesia. Tour show ke 56 kota besar
di Indonesia. Karena jadwal padat, maka Rien berkitrim surat minta cuti
sekolah. Bahkan dia tidak bisa ikut ujian akhir dan berkonsentrasi total untuk
rekaman lima album dan tour show.
Setelah
aku menapatkan alamat studio rekamannya di daerah Pluit, Jakarta Utara, aku
datangi studio itu dengan Jeep Mercy ku. Di sana aku menemukan Rien sedang
rekaman dalam studio dan aku dilarang masuk. Koh Acui, boss rekaman
mempertanyakan kedatanganku dan dia berang, tidak nyaman akan kehadiranku di
situ. Dan dia sudah tahu bahwa aku adalah kekasih Rien. Pria terdekat dirinya
yang telah merenggut kegadisannya di Bali dan Lombok.
Koh
Acui mengusir aku dan aku dilarang untuk menemui Rien sampai kapanpun. Karena
Rien sudah di bawah kekuasaannya dan akan diorbitkan sebagai penyanyi dunia,
yang Go International. Bila kau masih datang, akibatnya tanggung sendiri, itu,
lelaki betubuh kekar tiga orang itu, bodyguard Rien dan pengawal pribadi saya.
Kau akan babak belur dihajar mereka jika ngotot menemui Rien. “Rien sudah
menjadi milikku. Selain penyanyiku, dia juga bakal menjadi istriku, aku akan
menikahinya,” kata Koh Acui, enteng.
Jantungku
berdetak hebat. Kepalaku terasa mau pecah karena kaget. Apalagi setelah diakuinya
bahwa Rien sudah tidur berulang kali dengannya dan akan menikahi Rien dalam
waktu dekat. Walau nikah di bawah tangan. “Jangan coba-coba berbicara dengan
Rien dan jangan menghubungi Rien hingga akhir jaman,” tegasnya, dengan mata
melotot. Matanya yang sipit karena China, dilotot-lototin dan tidak juga
membuat aku takut.
Tiba-tiba
Rien keluar studio dan datang ke beranda studio mewah tempat aku dan Koh Acui
berdiri. Ajaib sekali kejadian itu. Rien ternyata acuh tak acuh kepadaku. Dia
speti tidak mengenal aku dan aku dianggapnya sebagai sampah yang tak berharga.
Dia menghambur ke pelukn Koh Acui dan Koh mencium pipinya dengan mesra di depab
mata kepalaku, kekasih Rien yang memiliki cinta sejati. “Siapa itu Pi?” Tanya
Rien, yang sudah memanggi Koh Acui dengan sebutan papi.
Hatiku
sangat terguncang dan jantungku berdetak hebat. “Rien? Kamu tidak inat Abang
ni? Abang Rico Mahendra Rien? Abang ini?” tanyaku kepada Rien. Syahdan, Rien
tidak bergeming dan Koh Acui lalu merangkul dan membimbingnya untuk masuk ke
dalam ruang kanor studio yang mewah. “Pergilah kau, sebelum tiga lelaki
bertubuh ekkar itu menghancurkan wajahmu,” bentak Koh Acui, meminta aku pergi.
DEngan
langkah lemas, lesu, galau, aku berjalan ke parkiran mobilku. Aku starter
kendaraan mewahku itu keluar pekarangan studio Pluit dan aku tidak atu harus ke
mana. Kutelpon Rien dan tetap seperti beberapa hari belakangan, mobile phonenya
benada sambung, namun tidak diangkat olehnya. Dengan nomor lainpun, telponku
tidak juga diangkat oleh Rien. Telpon genggamnya di-silent dan dia acuhkan
semua nomor kecuali telpon dari Koh Acui. Pria Tionghoa bos rekaman top yang
dianggapnya Malaikat penyelamat kariernya itu.
Pikiranku
kacau dan otakku terputar-putar tidak karuan. Batinku, jangan-jagan Rien
digendam, diguna-gunai oleh Koh Acui hingga dia lupa diri dan lupa kepadaku,
kekasihnya yang telah menolongnya selama ini, kekasih juga yang sangat
mencintainya. Cinta mati dan cinta sejati.
Malam
itu aku pergi ke bar di Gedung Jaya. Aku ke Jaya Pub, café milik Rima Melati
dan minum sepuluh picer bir hitam dan akui mabok berat. Aku tidak ingat apa-apa
lagi dan tau-tau sudah berada di rumah, diantarkan oleh pegawai Jaya Pub
bersama penyanyi Papua Feix Sun yang bersuara dahsyat. Berdasarkan KTP, aku
diantarkan ke alamat dan mobilku disterikan oleh Herman, pegawai Jaya Pub,
sementara Felix Sun membawa mobil pribadinya yang kemudian bersama Herman
kembali ke Jaya Pub di jalan Thamrin, Jakarta Pusat.
Karena
ada kerusakan lambung, maka setelah itu aku dirawat di rumah sakit. Ibu
kandungku emnjagaku dengan setia dan ayahku berkomunikasi dengan telpon. Belum
sekalipun menbezuk aku di rumah sakit Dokter Karsidi, Jakarta Selatan.
Di
rumah sakit, aku melihat televise dan menonton Rien tampil menyanyikan lagu
rekamannya barunya. Dia kelihatan berubah total, baik dari make up, penampilan,
busana dan kecantikannya. Rien Nampak makin cantik dan dia keliahatan sumringah
di televisi. Lagunya sangat bagus dan dianyakikannya dengan baik.
Setelah
seminggu dirawat di rumah sakit, ayah dan ibu Rien datang membezuk. Mereka
minta maaf atas perlakuan Rien dan Rien sudah tinggal di apartemen mewah
bersama Koh Acui. Sejak itu hubunganku dengan keluarga Rien merenggang dan kami
tidak bertemu lagi hingga kini. Sementara Rien, tour show ke mana-mana dan
namanya melambung, popular se-nuasantara. Lagunya jadi top hit dan Koran,
majalah, televisi sibuk mewawanarinya dan memberitakan Rien, sebagai penyanyi
pendatang yang potensial dan mengeggerkan dunia hiburan. Aku menonton dengan
gigit jari, sedih, gundah gulana dan terpuruk hingga ke dasar hidup paling
menderita. Batinku tersiksa karena aku sangat mencintai Rien dan
sungguh-sungguh mencintainya.
Sejak
itu aku jauh bahkan sangat jauh dari Rien. Rien tiba-tiba berubah tabiat. Dia
jadi sombong, jumawa dan acuh kepada smeua orang, temasuk ke family dan
teman-teman SMA Bulungan dan tetangga. Dia hidup dari hotel ke hotekl
berbintang, apartemen dan tak pulang lagi ke Jalan Bendi, Tanah Kusir, Jakarta
Selatan.
JIka
cinta ditolak, dukun bertindak. Demikian sebuah artikel di majalah supranatural
aku lihat. Kebetulan majala itu ditawarkan pedagang saat mboilku terjebak kemacetan
di Jakarta Timur. Aku membeli majalah itu dan membaca artikel guna-guna Sungai
Ogan. Guna-guna ampuh dari seorang dukun santet bernama Mbah Lim. Aku tertarik
utnuk mengunakan jasa Mbah Lim untuk mengguna-gunai kekasihku Rien agar kembali
kepadaku. Bahkan kalau bisa, mencari aku dan berlutut ingin kembali kepadaku.
Tidak jadi menikah dengan Koh Acui yang zalim kepadku itu.
Dengan
kendaraan motor Honda Tigerku, aku ke rumah Mbah Lim. Mbah yang rumahnya di
gang sempit dan kumuh di daerah Banten. Mbah Lim menerima aku di ruang tamunya
dan bertanya siapa yang akan aku guna-gunai. Dia mintan tanggal lahit, hari
lahir, bulan lahir dan tahun lahirnya Rien. Berikut sebuah foto profil dan
wajah jelas dari Rien yang sedang popular. “Bukankah dia ini penyanyi terkenal
yang sering di teve itu?” Tanya Mbah Lim. Setelah aku cerita bahwa dia
kekasihku dan sudah pernah akan kunikahi dan gagal, sekarang jatuh ke tangan
bos rekaman, Mbah Lim langsung tertawa. Dia ngakak dan terpingkal-pingkal
mendengar ceritaku. “Gambang, Mbah nanti ritualin tengah malam dan besok,
paling lambat lusa dia akan menarimu dan minta dinikahi,” kata Mbah Lim.
Nanti,
kata Mbah Lim, aka nada jin utusannya ke rumah Rien dan merubah otak serta
perasaan Rien untuk merindukan aku, Rico sang ekkasih yang dihianatinya. Mbah
Lim tidak mminta mahar banyak. Dia tidakm komersial tapi aku memberinay uang Rp
40 juta. Jika berhasil, aku berjanji akan memberinya Rp 100 juta.
Benar
saja, ajian Mbah Lim paten seribu persen. Guna-guna Sungai Ogan telah menyulap
Rien untuk kabur dari tangan Koh Acui dan menemuiku di rumahku baru di Bintaro
Ujung. Aku snedirian di sana dan tersentak lihat Rien datang dengan sedan kaca
gelap. Sebuah Ferrari warna merah darah dan masuk ke halaman rumahku. Aku
segera menyamutnya dan kami melepas rindu di ranjang.
Sesaui
petunjuk dan perintah Mbah Lim, Rien aku bawa dengan mobilku ke bandara
Soekarno-Hatta dan kami terbang ke Lampung, lalu pergi ke rumahku di perkebunan
tengah hutan, kebukn Karet Way Lengan dan kami menikah siri. Kami tinggal di
sana hingga Koran heboh, teve heboh mencari Rien. Koh Acui mengerahkan semua
begundal, bodyguardnya untuk membunhku. Namun, Rien bersamaku dan jadi istriku
di tengah hutan belantara Way Lengan.
Kami
beli mobil tua dan menyamar. MUka Rien dipermak hingga terlihat seperti orang
kampong dan tidak dikenali polisi dan warga penonton teve. Kami membeli sembako
untuk tiga bulan, perlengkapan masak, bumbu dapur dan mie instan, telur dan
beras untuk tiga bulan selama pelarian. Setelah tiga bulan bersembunyi, Rien
hamil dan aku periksa, anak dari janinnya adalah anakku. Dan aku berencana akan
pindah keluar negeri, di rumah kami di Chrismast Island dan mukim di Australia.
Rien siap berhenti menyanyi dn siap menjadi bu rumah tangga sejati mengikuti ke
mana aqku pergi. Rien mengakui sangat emncintaiku dann aku mencintainya.
Arkian, Mbah Lim bilang, bahwa Rien juga terkena Ilmu Sirep Kain Mayat, oleh
dukunnya Koh Acui, hingga dia lupa kepadaku dan melupakanku. Kini, Mbah Lim
sudah mengunci Rien, dan dukun manapun, akan mati bila berusaha merebut Rien
dari tanganku dan dari kekuasaan tangan sakti Mbah Lim. ****
(Kisah sejati Rico yang
diwawancara Yana Yuliani Malimping untuk portal-mystery.blogspot.com)

Komentar
Posting Komentar