Hantu Mulut Lebar...Hantu bukan hayalan buat menakuti. Hantu ada dan nyata...


HANTU
   MULUT LEBAR
          Setelah suamiku pensiun, kami pindah dari Jakarta ke Palembang. Rumah di Jakarta ditempati Rasya, anak tertuaku yang sudah menikah dan punya dua anak. Statusnya mereka pinjam. Nanti setelah mereka punya uang untuk beli rumah, mereka siap pindah. Kediaman kami di Jalan kembang VII, Senen, Jakarta Pusat itu akan kami jual. Uangnya untuk membangun perkebunan karet di kampung kami, tempat di mana kami tinggal setelah pensiun.
          Aku dan Bang Azhar Fuady sama-sama asal Sumatera Selatan. Aku berasal dari Ogan Ilir sementara Bang Azhar Fuady berasal dari Pagaralam, Kabupaten Lahat. Kami sama-sama kuliah di fakultas hukum Universitas Sriwijaya. Kala itu kampus Unsri ini masih berada di Bukit Besar, Jalan Jaksa Agung R.Soeprapto, Palembang. Kini kampus Unsri sudah pindah ke Inderalaya, tidak jauh dari rumah orangtuaku di Muara Penimbung, Ogan Ilir.
          Kami saling jatuh cinta ketika kami baru masuk fakultas hukum. Bang Azhar Fuady langsung “menembak” saya dan menyatakan jatuh cinta. Mulanya aku menghindar. Tapi karena kegigihannya, sering ke rumah dan mendekati ibu dan ayahku, lama-lama aku suka juga padanya. Dan kami jadian setelah setahun kami di fakultas hukum.
          Setelah empat tahun kuliah, orangtua Bang Azhar Fuady pindah tugas ke Jakarta. Otomatis kekasihku itu ikut pindah pula ke Jakarta. Dia pindah kuliah ke Universitas Jayabaya, cempaka Putih, Jakarta Timur, juga tetap di fakultas hukum.
          Perpisahan itu sangatlah berat. Bang Azhar Fuady dan aku nyaris tidak siap. Tapi karena keadaan memaksa, karena ayahnya mendapatkan tugas sebagai hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, maka mau tidak mau aku harus merelakannya pergi. Mulanya, Bang Azhar Fuady ngotot akan tetap di Unsri dan minta indekost. Tapi ayahnya yang keras dan pemarah, tidak memperkenannya tetap di Palembang. Maka itu dia pindah ke Jakarta dengan tangis dan airmata.
          Tiga tahun kami berpisah, ada sebelas kali Bang Azhar mengunjungiku di Palembang. Diam-diam dia pergi tanpa sepengetahuan orangtuanya untuk menjengukku di rumahku. Ayah dan ibuku pun, sangat suka kedatangan Bang Azhar Fuady. Bahkan ibuku sudah menganggap Bang Azhar sebagai anaknya sendiri.
          Tahun ke empat tinggal di Jakarta, Bang Azhar menjadi sarjana hokum. Dia magang sebagai pengacara di kantor advokat Temmy Hendrawan SH. Bang Azhar Fuady belajar menangani kasus dan membela klien di pengadilan. Setelah tiga kali menangani klien sebagai wakil dari Temmy Hendrawan SH, Bang Azhar pun resmi menjadi pengacara. Dia mendapatkan sertifikat kepengacaraan dan membuka kantor sendiri.
          Sementara itu, aku yang juga sudah sarjana hokum, tetap tinggal di Palembang dan bekerja sebagai karyawan Pemerintah Kota Madya Palembang di divisi hukum. Kami telpon-telponan secara intensif dan terkadang di sela kesibukannya, Bang Azhar Fuady datang pula ke rumah menemui kami sekeluarga.
          Karena banyak menangani kasus besar dan berat, maka nama Bang Azhar Fuady sebagai advokat cepat melesat. Apalagi banyak perkara yang dimenangkannya. Hukuman kliennya yang seharusnya berat, jadi ringan karena kecerdikan Bang Azhar membela klien. Malah ada klien yang bebas murni, akibat pembelaan yang jitu dari Bang Azhar Fuady.
          Seiring nama besarnya, rejeki Bang Azhar Fuady pun mengikuti. Dia menjadi pengacara termahal dan menangguk banyak kekayaan harta dan uang. Setelah aku selidiki, bagaimana kekasihku itu bisa kaya raya sebagai pengacara. Tarip bayarannya mahal dank lien tidak segan membayar jumlah yang besar karena kemampuannya yang prima sebagai penasehat hukum.
          Pada saat menanjak begitu, baik nama maupun keuangan, Bang Azhar Fuady melamarku. Dia dating bersama ayah dan ibunya meminang aku di Palembang. Dan kamipun menikah. Resepsi dibuat di Hotel Sanjaya, Jalan Kapten A.Rivai dan sangat meriah.
          Sebagai istri, aku diboyong ke Jakarta. Orngatuaku memperbolehkanku iktu suami dan aku pun siap untuk keputusan itu. Sejak itu aku berhenti bekerja di pemda Kota Madya Palembang dan ikut bekerja di kantor suamiku. Bang Azhar Fuady membesakan aku di Jakarta. Terserah memilih, mau bekerja atau mau menjadi ibu rumah tangga total diam di rumah. Namun, karena biasa sibuk kerja, maka aku memilih bekerja. Untuk kebaikan bersama, Bang Azhar memutuskan aku bekerja di kantornya, sebagai sekretaris dan pendamping saat dia berperkara di peradilan memebela klien.
          Setelah tiga puluh tahun usia pernikahan kami, tidak terasa kami punya anak empat. Tiga wanita dan satu lelaki.  Anak pertama kami, Rasya, ke dua Tia, ke tiga Erma dan ke empat kelaki, Rasyidin. Tidak berapa lama, Rasya menikah dengan pilihannya sendiri dan punya anak setelah setahun menikah. Sementara itu, usaha kami sebagai advokat menurun. Kami kurang klien dan bayaran pun turun drastis karena persaingan yang ketat di kalangan sesama pengacara.
          Setelah semua anak menikah dan mempunyai pekerjaan tetap, kami berniat pensiun. Pekerjaan benar-benar turun dan pasaran menjadi sepi sunyi. Kami lalu sepakat untuk kembali ke Palembang, kampung halaman kami. Sisa uang di deposito kami jadikan tanah perkebunan durian montong di Ogan Ilir, kampung asalku. Kami membuat rumah sederhana tetapi dengan kebun luas, 34 hektar.  Selain durian montong, kami menanam mangga, jeruk siam, pisang dan tambak udang.
          Namun di laur dugaan kami, ternyata tanah tempat bangunan rumah kami, adalah tanah keramat. Ternyata ada makam di bawah rumah kami. Makam seorang pembunuh. Tentara Jepang yang sadis dan membantai banyak pribumi pada tahun 1943 lalu. Saat Jepang berkuasa di Indonesia. Tanah wilayah Desa Keminang, Ogan Ilir itu, terkenal sebagai daerah angker. Di mana semua warga tetua adat setempat, mengetahui bahwa ada makam keramat di situ dan hantu Jepang sering maujud dan memakan korban nyawa warga.
          Sayang sekali hal ini baru kami ketahui setelah rumah kami jadi dan kamu sudah tempati. Sebelumnya tidak ada seorang pun warga, termasuk kepala desa, pak camat dan tokoh adat setempat. Mereka kami undang setika sdekahan dan tak seorangpun yang menceritakan keadaan itu.
          Pertama kali aku bertemu hantu mengerikan itu pada Malam Jumat Kliwon tanggal 31 Januari 2014. Malam itu adalah Malam Tahun Baru Imlek dan suasana daerah kami sangat sepi dan wingit. Biasanya pada malam tahun baru imlek di Jakarta, kami biasa pesta di rumah relasi suamiku yang keturunan Tionghoa. Mereka merayakan malam tahun baru Imlek dengan makan-makan enak dan pesta minuman khas Tiongkok. Berikut hiasan jeruk kuning kecil yang indah dan memenuhi ruang rumah.
          Pada malam Jumat Kliwon, 31 Januari 2014 itu, sekitar pukul 23.00, rumah kami diketuk. Malam itu hanya kami berdua di rumah. Pekerja perkebunan sedang pulang ke rumah mereka, semuanya cuti karena malam tanggal merah. Malam hari besar, Hari Raya Imlek yang sejak jaman presiden Gus Dur, diliburkan secara nasional.
          Begitu diketuk, aku langsung memanggil suamiku yang sedang menonton berita di televise. Bang Azhar Fuady langsung bangun dan menghambur ke pintu depan. Kami mengira karyawan perkebunan yang dating. Soalnya biasa, mereka mengetuk malam hari jika anak mereka sakit. Selain pinjam uang juga pinjam mobil untuk pergi membawa anak ke rumah sakit.
          Bang Azhar Fuady berjalan di depan aku di belakangnya mengikuti. Kepingin tahu siapa yang mengetuk pada waktu menjelang tengah malam tersebut. Apalagi, di sekitar rumah kami hutan perkebunan luas, tanpa ada tetangga dan jauh dari warga yang lain.
          Dengan langkah pasti, Bang Azhar membuka kunci pintu depan dan melihat ke luar. Jantung ku berdetak hebat ketika melihat sosok perempuan rambut panjang, mata sipit dan berkulit kuning langsat berdiri di depan.
          “Maaf, siapa Anda dan dating dari mana?” Tanya Bang Azhar, lugas, kepada wanita misterius itu. Wanita itu menyibak rambutnya dan melototkan matanya yang ke biru-biruan.
          “Saya wanita asli Jepang, nama saya Kucihi Sakke Onna. Saya hanya mau Tanya kepada kalian berdua, apakah saya cantik?” kata wanita itu, sambil menutup mulutnya.
          Dengan agak gugup, aku justru yang menjawab pertanyaan wanita itu. “Anda cantik, ya sangat cantik,” kataku. Suamiku melirik kepadaku dan mengangguk. “Ya..ya, Anda cantik,” kata suamiku juga. Memang, karena dia Nampak cantik, maka kamipun harus mengatakan apa adanya. Menjawab pertanyaannya, dan kami menyebut: bahwa dia memang cantik.
          “Cantik kata kalian? Meski mulutku begini?” katanya, sambil membuka tangannya yang tadi menutup mulutnya itu. Duh Gusti, jantungku terasa mau copot melihat wajah gadis yang tadinya cantik itu. Ternyata, mulutnya sangat lebar karena sobek di kiri dan kanan mulutnya. “Cantik seperti ini?” bentaknya, dengan nada marah besar.
          “Ayo katakana, saya cantik dalam keadaan mulut seprti ini?” desaknya. “Tidak, tidak, tidak cantik,” imbuh Bnag Azhar. “Hei, kamu, perempuan, apakah saya cantik dengan mulut sobek seperti ini?” tekannya. “Ya, ya, tidak cantik, seram,” kataku, jujur.
          Saat itu matanya menyala semakin biru dan mulutnya menganga, persis seperti mulut ikan mas kepanasan. Beberapa saat kemudian, dalam hitungan detik, tangan kanannya mengambil pedang samurai dan langsung menyabet suamiku dan setelah itu mengejar aku. Samurai itu menyabet punggungku dan kami berdua bersimba darah.
          Untunglah nyawa kami dapat diselamatkan. Rumah sakit Inderalaya membantu kami dari pendarahan hebat dan seminggu kemudian kami berdua diperbolehkan pulang. Setelah menyabet kami, wanita bermulat lebar itu menghilang entah ke mana.
          Belakangan kami mendengar, ternyata Kucihi Sakki Onna itu ternyata hantu Jepang yang bergentayangan di daerah kami. Kenapa hantu Jepang itu ada di daerah kami, karena Raja Samurai, makam di bawah rumah kami, adalah makam kakek Kucihi Sakki Onna. Tentara Jepang yang ahli samurai dan membunuh ratusan orang Indonesia di tahun 42-43, jaman pra-kemerdekaan Indonesia.
          Sejak tahun 43 lalu, hantu perempuan Jepang ini sudah bergentayangan di daerah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. Selama dia bergentayangan, dia mendatangi siapapun yang perlu didatangi untuk dijadikan korban. Membacok mulut korban dengan samurainya. Maka itu, warga setempat menyebut namanya sebagai Hantu Samurai. Atau, hantu perempuan bermulut lebar.
          Sejak tahun 70-an, seorang kiyai ahli supranatural mengusir hantu samurai itu. Dan makam di bawah rumah kami itu juga dibersihkan dari hantu-hantu berbahaya. Maka itu, sejak tahun 76, hantu itu tidak muncul lagi. Warga setempat meyakini bahwa makhluk gaib itu terbang kembali ke Kyoto, Jepang, kampung halamannya.
           
         
         
          Warga menceritakan bahwa sudah lama Hantu Samurai itu tidak maujud. Bahkan puluhan tahun tidak memakan korban. Namun, awal tahun 2014, pada saat kami membangun rumah di atas tanah Raja Samurai, arwah hantu Jepang itu kembali lagi. Dan kami lah orang pertama yang menjadi korban.
          Tanah pemakaman Raja Samurai, kakeknya Sakki Onna, dipasang tiang besi dan menancam tulang belulang tentara Samurai Jepang dan sadis itu. Arwah marah lalu memanggol cucunya di Kyoto untuk kembali ke Sumatera Selatan.
          Hantu mulut lebar Sakki Onna terus bergentayangan. Dia menemui semua orang yang dapat ditemuinya dan bertanya. “Apakah saya cantik? Jika orang menjawab cantik, dia akan membuka tangannya dan memperlihatkan mulutnya yang lebar. Cantik walaupun mulut saya seperti ini? Sambil memperlihatkan mulutnya yang sobek panjang. Karena orang akan menjawab tidak cantik, seram, maka dia akan mengeluarkan Samurai dari punggungnya dan membacok mulut korban.
          Belakangan diketahui dari dukun setempat bahwa, bila bertemu hantu Sakki Onna, harus mengatakan “cantk” walau apapun yang terjadi. Sang Dukun, Faisol Masdi, 45 tahun, ketika bertemu Hantu Samurai itu menyatakan, cantik, walau setelah melihat mulut Sakki Onna lebar seperti mulut ikan mas.
          “Apakah saya cantik?” kata Sakki Onna kepada Faisol Masdi. “Cantik sekali.” Jawan Faisol, suatu malam yang sepi di Jalan Timbangan, Ogan Ilir. “Saya cantik katamu? Walau mulut saya lebar seperti ini?” tanyanya lagi. Faisol Masdi menjawab. “Tetap cantik bahkan kamu sangat cantik dengan mulut seperti itu,” desis Faisol Masdi.
          Hantu itu tertawa gembira dan bahagia mendengarkan ungkapan Faisol Masdi. Karena saking gembiranya, Hantu Samurai memberikan tumpukan uang Jepang, yen, kepadanya. Tumpukan uang itu setelah ditukar ke money changer di Palembang, berjumlah Rp 500 juta dan Faisol Masdi langsung membeli mobil dan membangun rumah, tanah dan membeli sawah di Ogan Ilir. Kini Faisol Masdi menjadi orang kaya di daerahnya karena beberapa kali bertemu Sakki Onna dan meminta uang gaib dari Jepang itu.
          Pada Malam Jumat Kliwon, 20 Juni 2014 pukul 24.00, Sakki Onna mengetuk lagi rumah kami. Aku dan Bang Azhar membukakan pintu untuknya. Begitu terbuka, dia berdiri dengan kimono Jepang khasnya di depan kami. Dengan menutup mulutnya, dia bertanya lagi kepada kami. “Apakah aku cantik?” tanyanya. “Cantik, cantik sekali,” jawab suamiku. “Walau mulutku seperti ini?” tambahnya. Suamiku, Bang Azhar malah bersemangat. “Makin cantik, bahkan sangat cantik dengan mulut lebar seperti itu,” imbuh suamiku. Sakki Onna tertawa lalu mengeluarkan uang dari punggungnya. Uang yen yang setelah ditukar berjumlah Rp 600 juta.
          Hantu Samurai, atau Hantu Mulut Lebar, atau Hantu Sakki Onna itu, dalam cerita legenda Jepang diketahui oleh kami dari relasi suamiku warga Kyoto, Jepang. Ternyata semasa hidupnya, dia istri seorang Raja Samurai yang tersohor karena kaya raya di Jepang. Sakki Onma istri Raja Samurai yang cantik jelita tetapi berhianat tidur dengan lelaki lain, staff kerajaan yang tampan.
          Raja Samurai menjadi murka. Raja marah besar lalu menyabetkan samurai ke wajah Sakki Onna. Mulut Sakki Onna sobek panjang, hingga dari telinga kiri menembus telinga kanannya. Sakki Onna meninggal dan bangkit dari kuburnya. Dia bangkit dengan memakai kimono terakhir yang digunakan, kimono Jepang kembang merah bermotif bunga sakura. Setiap malam Jumat Kliwon yang seram, Sakki Onna bergentayangan mencari orang untuk meminta pendapat. Jika orang menyatakan dia seram dan menakutkan, maka dia akan marah dan membacok orang yang ditanyainya itu. Jika orang menyatakan baik-baik, bahwa dia tetap cantik dengan mulut lebar seperti itu, maka Sakke akan senang dan memberi uang yang banyak. Uang itu sangat banyak dan disimpan dipunggungnya. Uang dari suaminya, Raja Samurai yang kaya raya.
          Hingga Januari 2015  ini, hantu Sakke Onna tidak muncul lagi. Walau banyak anak-anak muda yang bertualang untuk bertemu dengannya. Faisol Masdi, Sang Dukun, dengan ilmunya, mengunci Sakki Onna untuk tidak kelayapan lagi. Tidak dimanfaatkan orang lain untuk mencari kekayaan dari gaib. Tapi, Faisol Masdi, hingga sekarang menghilang. Kabarnya dia pindah ke Jakarta dan memiara Sakki Onna di tepi Sungai Angke, Jakarta Barat. Sawah, rumah dan tanahnya diberikan kepada istri dan anak-anaknya di kampung.
          Hingga sekarang, Faisol Masdi tidak ditemukan. Paranormal Palembang yang investigasi supramistik menyangkut Faisol menyebut bahwa lelaki ayah dua anak itu, mukswa, masuk ke alam gaib. Dia tidak hidup tidak juga mati. Dia dikatakan hidup dengan Sakki Onna di alam gaib tepi Sungai Angke dan bisa melihat orang banyak tapi dia tak dapat dilihat lagi. Istrinya, Maimunah Hamid, ikut bersama saya membangun usaha pertanian. Dia investasi bersamaku untuk menanam bibit pohon karet di tanah 40 hektar di Burai, Ogan Ilir. Kami selalu mengharapkan untuk bertemu lagi Sakki Onna, tapi hantu mulut lebar itu tidak lagi maujud, hingga detik ini.*****
(Kisah Mama Rasya, Henny Nawani menulis untuk portal-mystery.blogspot.com)
         
         
         
           
         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAJI BULGANON HASBULLAH AMIR ORANG KAYA RAYA YANG DERMAWAN..

Dunia Supramistika Tia Aweni D.Paramitha

Pengalaman Abang Bulganon Amir Mursyid Spriritual Tangguh Yang Dapat Bisikan Masuk Neraka