KISAH PENYANYI KAMPUNG YANG KAYA RAYA. Seorang artis dangdut senior memaki maki dia depan publik. Dia menangis dan sujud di kaki senior itu. Namun, banyak yang membela dirinya. Presiden pun membantu. Membela dirinya yang hinadina dan menuding si senior itu. Maka, keajaiban terjadi....
Jadi Bintang
Top Setelah Dizolimi
Untuk memperbaiki nasib,
aku meninggalkan Desa Karangmojo, Jombang, Jawa Timur, sebutlah begitu, untuk
pindah ke Jakarta.
Mulanya keputusan ini cukup berat untuk diambil. Sebab aku harus
meninggalkan ibu dan ayahku yang miskin di Karangmojo, desa kecil yang sunyi di
Jawa Timur. Tapi suamiku, Mas Idham sudah nekad mengajak aku pindah. “Jika
tidak sekarang, kapan lagi kita akan merubah nasib kita Dik,” desisnya, kala
itu.
Batinku menjerit. Sebab kedua orangtuaku itu sudah tua
semua. Pikirku, mungkin mereka tidak lama lagi dapat bertahan hidup. Ayahku
berumur 67 tahun, menderita diabetes dan jantung. Sedangkan ibuku, umur 60
tahun, menderita penyakit lambung dan maag yang akut.
Sebenarnya ibuku sangat keberatan jika aku hijrah ke
ibukota. Apalagi bermukim di Jakarta yang diketahuinya sebagai kota yang sangat
kejam. Namun Mas Idham, suamiku, punya keyakinan bahwa nasib kami akan berubah
di ibukota. Perinsipnya, asal mau kerja keras, di Jakarta adalah tempatnya
untuk menggapai juga mencapai kesuksesan hidup.
Mungkin karena tekad baja Mas Idham untuk pindah
inilah, maka sebagai istri, aku pun terpacu untuk mengikutinya. Apalagi, kata
para kyai, seorang istri itu harus menuruti kemauan suami. Seorang istri harus
mematuhi perintah suami, selagi perintah itu baik. “Pahala seorang istri itu
tergantung kepada pelayanan kepada suami. Pahala seorang istri itu akan didapat
dari bagaimana dia mematuhi ajakan baik suaminya. Suami adalah imam yang harus
diikuti oleh makmum. Makmum itu, adalah aku. Sedangkan Mas Idham adalah imamku.
Aku ceritakan kepada kalian bahwa aku adalah penyanyi
seronok. Seorang penyanyi pengamen panggung dangdut koplo yang banyak dihujat
oleh kaum ibu-ibu di Jawa Timur. Kenapa aku dihujat? Karena aku berani tampil sensual
dengan pakaian ketat dan bergoyang gila-gilaan di atas panggung. Dengan
menyanyi seronok, goyang hot seperti itu, aku mendapatkan uang saweran dari
lelaki hidung belang. Para pria menyawer dengan uang banyak kepadaku, karena
keberanianku menari, keberanianku berpakaian sensual dan keberanianku untuk
dipegang-pegang. Padahal semua itu aku lakukan dengan sangat terpaksa dan
terdesak kebutuhan hidup. Kami butuh makan, pakaian dan biaya pendidikan untuk
anak-anakku yang masih kecil.
Karena beberapa keberanian itu, maka para lelaki
berebutan untuk menyawerku. Bahkan ada beberapa kali yang berkelahi karena
berebut dan bersaing ketat untuk menyawer sambil berjoget denganku. Maka
itulah, satu kali manggung, aku bisa mengumpulkan uang puluhan juta. Bahkan pernah
per-malamnya mendapatkan Rp 50 juta. Tapi, uang sebesar itu dibagi dengan
puluhan personal band dangdut. Ada pemain keyboard, pemain rampak, suling,
gitar melody, gitar bass, mandolin, maracas dan dua pemain perkusi, drum dan
kendang. Lain dari itu, kru sound system juga dibagi, para pembantu sound dan
beberapa orang keamananan band. Penyanyi pun, tidak hanya saya sendiri, tapi
ada lima penyanyi yang lain, yang semuanya mendapat bagian jatah dari uang
saweran.
Karena jogetku paling seru, paling hot dan punya khas
dengan nama Goyang Ulekan, sebutlah begitu, maka aku paling banyak mendapatkan
perhatian penonton. Karena banyak mendapat perhatian itulah, maka aku paling
banyak mengumpulkan uang. Aku selalu diteriaki, diminta tampil terus-terusan
oleh penonton. Khususnya yang mau joget sambil nyawer bersamaku di atas pentas.
Sedangkan teman penyanyiku, lima wanita yang lain, memahami dan memaklumi
keadaan ini. Untuk itu, mereka selalu meminta aku yang lebih banyak tampil agar
banyak mengumpulkan uang saweran.
Sekali lagi aku akui, bahwa sangat terpaksa melakukan
hal ini. Mas Idham pun, sebagai suami, tentu tidak ingin istrinya seronok, bisa
diobok-obok oleh penyawer di atas panggung. Aku tahu, hati Mas Idham terpukul
akan keadaan itu. Tapi karena keadaan keuangan kami
susah, Mas Idham tidak kerja dan hanya mengandalkanku menyanyi, maka kenyataan
itu mau tidak mau haruslah kami hadapi.
Karena penampilan seronokku di panggung-panggung
hiburan di Jawa Timur, maka ada saja orang iseng dan memposting videoku ke mesin
video internet Youtube. Dari video ku itulah maka aku menjadi heboh
se-Indonesia. Semua pria membicarakanku, menggunjingkan videoku yang beradegan
seronok, mirip perempuan sedang kerasukan setan dalam permainan seks. Sekali
lagi aku minta, jangan meniru kelakuanku itu. Namun, perlu kalian tahu, bahwa
aku bukanlah perempuan binal, bukanlah perempuan nakal dan aku bukanlah
perempuan lacur. Semua adegan yang aku lakukan itu hanyalah sandiwara, aksi
panggung dan gaya menghibur. Padahal, keadaan sehari-hari, aku wanita biasa,
istri yang normal yang menyayangi suami dan disayangi suami.
Aku bukan perempuan nakal, aku bukan perempuan binal
yang bisa diajak kencan dengan bayaran. Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku tidak
melakukan seperti apa yang dibayangkan orang. Demi Tuhan, aku wanita baik-baik,
istri baik-baik dan menolak keras diajak kencan pria bukan muhrimku. Aku hanya
tidur dengan Mas Idham, aku hanya mau dijamah Mas Idham dan bercinta dengannya
sepenuh hati.
Memang banyak pria hidung belang yang menganggap aku
perempuan murahan. Memang banyak laki-laki yang berusaha menjajal aku. Ya,
mereka menguji, mereka menebar bujukan, berusaha merayu aku dengan sejumlah
uang untuk tidur denganku. Namun, aku menolak, aku menampik dan menghardik
mereka dengan kata-kata kasar jika terpaksa. Bahkan bila sangat terpaksa. Jika
masih bisa dalam batas yang wajar, aku hanya menolak, tidak sampai aku naik
darah.
Memang begitulah dunia hiburan kelas bawah. Dangdut
koplo dari panggung ke panggung kecil yang murah meriah. Bayaranku sebagai
penyanyi, jujur saja, hanya Rp 200 ribu. Tapi jika penyawer banyak, aku
sendirian bisa mengantongi sejuta sekali tampil. Pernah aku mendapatkan Rp 5
juta, ketika banyak calo tanah dan raja tanah di Jombang sedang kumpul dan aku
disawer dengan rangkaian uang pecahan seratus ribuan dan sekali sawer Rp 10
juta.
Namun, aku juga jenuh dengan cara menyanyi seperti
ini. Aku dan Mas Idham sepakat untuk merubah nasib dengan menyanyi rekaman di
ibukota. Sudah saatnya aku harus pergi meninggalkan kampung halaman dan merajut
kehidupan lebih baik sebagai penyanyi di kota besar Jakarta.
Namun, sebelum kami berangkat hijrah, aku mendapatkan
impian. Mimpiku itu buruk sekali dan aku hampir membatalkan niat pindah karena
takut. Mimpi itu seperti kenyataan. Mimpiku adalah, dimaki-kami seorang bintang dangdut laki-laki
yang popular dan jadi panutan musik dangdut Indonesia. Bahkan aku disuruh sujud
di telapak kakinya untuk minta maaf karena aku telah merusak citra baik musik
dangdut. Karena penampilan seronokku di video Yutube, maka aku dianggapnya
perusak dangdut dan tidak pantas menyanyi dangdut di Ibukota Jakarta.
Tapi, seorang nenek tua berambut putih, memelukku
sambil memberi dorongan. “Pergilah ke Jakarta dan nasibmu akan berubah total.
Nanti ada seorang waliyulah, aulia yang akan menghakimimu, mencercamu dan
mempermalukanmu, namun dari situlah kau akan sukses. Kau akan menjadi besar dan
menjadi ratu di musik dangdut. Percayalah kepada nenek dan pergilah ke ibukota, pindahlah bersama suamimu dan hidup
prihatinlah. Tapi jangan lupa kepada Allah, berdzikir
yang rutin, sholat wajib dan sholat sunnah dan beramallah ekpada anak yatim
ya?” desis Si Nenek Uban, kepadaku.
Mimpi ini aku ceritakan kepada suamiku, Mas Idham. Mas
Idham tertawa dan sumringah. Kata Mas Idham, itu mimpi bagus, pertanda kita
akan sukses di Jakarta. “Ayo kita percepat keberangkatan ini dan kita cari
rumah kontarakan yang harganya terjangkau selama kita di Jakarta,” kata Mas
Idham, penuh semangat.
Benar saja, setelah minta dan minta doa restu ibu dan
ayah, di Jakarta aku diadili, dihakimi dan dipaksa sujud di kaki si pencipta
lagu tenar, penyanyi tenar dangdut pria yang juga sangat agamis. Aku memangis
di kakinya, meminta ampun, minta maaf dan setengah menyembah kepadanya. Aku
mendatangi rumahnya dan dia menumpahkan kekesalannya setelah melihat video
seronokku di Youtube. Selain di Youtube, video VCD bajakan juga beredar luas ke
seluruh Indonesia. Video penyanyi dangdut koplo Runul Dura Dura, tampil seronok
seperti orang hubungan intim di atas panggung. Video itulah yang membuat Pak
Haji Dhuma Gumira, sebutlah begitu, marah besar. Pak Haji Dhuma murka dan
nyaris menempelengku di depan umum. Setelah itu, dilakukan press conference dan
aku dicaci habis.
Seumur hidup, saat itulah aku merasa sangat sedih,
pahit, getir dan gundah gulana. Batinku menjadi galau berat dan Mas Idham
meneduhkan perasaanku. “Tenanglah sayang, jangan sedih, inilah skenario hidup
yang harus kita jalani,” desis Mas Idham, sambil mencium keningku. Mas Idham
memang pria segala-galanya bagiku. Dia bukan hanya suami, tapi juga managerku,
boss ku juga sahabat paling setia dalam kehidupanku.
“Ingat, mimpimu waktu itu, mimpi diadili wali, aulia
yang murka kepadamu. Dialah, pak Haji Dhuma. Wali itu, yang menumpahkan
kemarahan dan kau sudah minta maaf, minta ampun dan semuanya sudah selesai,”
bisik Mas Idham, ke telingaku, lembut sekali.
Media heboh dan semua stasiun televisi memberitakan
aku dimaki-maki Pak haji Dhuma. Banyak tokoh yang membela aku, termasuk Kyai
Haji Abdurrahman Wahid, Anwar Fuadi, Roy Marten dan tokoh-tokoh besar lain
membelaku lalu menyerang balik Pak Haji Dhuma yang
dianggap mereka semena-mena. Tokoh spiritual terkenal pun, Pak Permadi SH juga
membelaku dan memarahi Haji Dhuma yang dianggapnya lalim, kejam dan jumawa.
Namaku langsung melambung, meroket bagaikan meteor,
naik planit neptunus. Semua orang simpati dan empati kepadaku yang dimaki-maki
dan nyaris ditempeleng oleh Pak Haji Dhuma. Hanya sedikit orang saja yang
mencerca aku, yang berfihak kepada Pak Haji, terutama antek-antek nya di
industri dangdut.
Karena tekanan Pak Haji inilah, maka aku menuai
sukses. Alhamdulillah aku dipakai untuk rekaman, acara televisi tanpa
terkecuali, semua stasiun TV meliput dan menjadikan aku nara sumber. Tarifku
langsung meroket dibuat oleh Mas Idham dan semua daerah ngantri untuk mengajak
aku show dangdut. Karirku meledak dan alhamdulilah rejeki pun mengikuti. Album
dan single ku laku keras dan VCD ku, terjual merata ke antero negeri.
Karena acara off air, acara program televisi dan
penjualan album, alhamdulillah aku bisa membeli rumah mewah di Pondok Indah.
Aku membeli kendaraan bagus, tanah dan studio rekaman untuk pribadiku. Dan yang
paling aku syukuri, semua usaha karaoke, music longue ku di seluruh Indonesia
meledak. Semua sukses dan tidak ada yang sepi. Kini, aku bisa membantu banyak
anak yatim, orang miskin dan rumah jompo di beberapa daerah dan beberapa titik.
Alhamdulillah, aku tampil tertutup, busana santun dan
menyanyi tidak seronok lagi. Aku menyanyi dengan anggun, normal dan jauh dari
kemaksiatan seperti yang aku lakukan ketika masih di Jawa Timur.
Tadi malam, nenek rambut putih datang lagi kepadaku.
Dia memeluk aku dan mengatakan bahwa aku telah bertemu wali dan sudah diadili.
Karena caci maki dan siksaan wali itulah, maka aku menjadi sukses. Demikian
pesan gaib yang disampaikan nenek uban itu ketika akan hijrah ke Jakarta, benar
adanya. “Wali” Oh Tuhan, benarkah Pak Haji Dhuma itu
wali? Wali yang menyebarkan agama Islam dan telah menghukum serta menghakimi
aku?” batinku.
Mas Idham sepakat, bahwa wali yang dimaksdu mimpiku,
adalah Pak Haji Dhuma. Dialah wali yang mengantarkan kesuksesanku ke Jakarta.
Jika tidak ada campur tangan wali itu, kata Mas
Idham, aku akan terpuruk dan tetap menjadi penyanyi koplo yang seronok seumur
hidup. Astagfirullahhal’azim.
Kini aku sujud syukur dan terus berdzikir kepada
Allah, berterima kasih atas karunia terindah ini dan aku abdikan diriku untuk
kemanusiaan, membantu anak-anak yatim yang belum beruntung. Selain itu, aku
telah bertobat Nasuha, bersujud kepada Tuhan, sambil menangis di sejadah dan
menyesali semua perbuatan masa lalu yang hitam. Aku berjanji kepada Allah untuk
berubah dan tak akan lagi seronok dan menebarkan sensualitas dan pornografi.
Saya harap jangan ada yang meniru perjalanan kelamku ini dan tidak memilih
jalan salah ini untuk menjadi popular. ***
(Kisah artis beken Runul Dura Dura, bukan nama
sebenarnya, kepada Yudhistira Manaf yang menulis untuk portal-mystery.blogspot.com

Komentar
Posting Komentar