Pengalaman Mistik Yang Sangat Mengerikan....
Bertemu Hantu Rambut
Pirang di Sungai
Mahakam
Setiap
senja, wanita berambut pirang itu
berdiri di bawah pohon kecapi depan kompleks Tembesu Indah. Kompleks perumahan di tengah hutan pinus di
kecamatan Tembesu, sebutlah begitu, di daerah Tenggarong, Kalimantan Timur.
Aku memperhatikan dia dengan seksama
setiap kali aku lewat di situ. Bahkan beberapa
kali sempat memotret dirinya dengan kamera handphone ku. Tapi hasilnya selalu buram. Gadis itu tidak
pernah bisa dipotret. Bahkan, dua unit handphone yang aku pakai untuk
memotretnya, menjadi rusak. System kamera handphone Nokia X2 itu rusak dan
tidak ada satu foto pun yang biasa aku selamatkan dengan baik.
Foto yang aku dapatkan hanya berbentuk
bulatan asap putih. Tidak pernah
berbentuk gadis cantik seperti dia. Hanya latar belakang pohon kecapi dan pohon sengon dari kejauhan. Setelah aku foto dan menatapnya dengan dalam.
dia lalu menghilang dalam hitungan detik. Lenyap seperti masuk ke dalam
rerimbunan hutan di depan kompleks perumahanku itu. perahu-perahu nelayan yang
terlihat di foto handphone ku. Bahkan, satu telpon genggam ku jadi rusak,
kehilangan tampilan lalu terpaksa diinstal ulang.
Hanya
beberapa menit dia di rakit. Wanita cantik, bertubuh seksi, berkulit kuning
langsat menggunakan sarung telesan. Sarung batik warna coklat tua yang biasa
digunakan untuk menutup jenazah. Dia nampak mengambil air dengan tangannya lalu
membasuh kulitnya yang terbuka di bagian dada. Dia mandi kecil, namun beberapa
saat kemudian, dia terjun ke sungai lalu menghilang entah ke mana. Lalu, senja
berikutnya, dia muncul lagi dengan posisi
yang sama dengan menggunakan sarung yang sama sebagai penutup tubuhnya yang
sintal.
Sejak
dipecat dari perusahaan pengelolaan kayu ilegal di Paggilang, Samarinda Utara,
Kalimantan Timur, aku bekerja sebagai kuli bangunan di P.T.Expan, anak
perusahaan Pertamina di Sanga-Sanga, kabupaten Kutai Kertanegara. Aku
mengerjakan bangunan dengan menjadi kernek tukang, merenovasi rumah-rumah
kompleks yang perlu renovasi. Istriku, Maimunah, tidak tahan melihat aku hidup
kekurangan uang, maka itu dia menuntut cerai dan pindah ke Banjarmasin.
Belakangan aku mendengar dia menikah dengan pengusaha batubara di Martapura,
Kalimantan Selatan. Seorang anak kami, Hermina, dibawanya ke Martapura dan anak
tunggal ku itu hidup bersama ayah tirinya, Subhan Wijaya, seorang pria
keturunan China yang sejak lahir suda di wilayah Martapura.
Saat
aku digugat cerai, karena merasa harga diriku terinjak=injak, maka aku langsung
memenuhi tuntutan cerai itu. Hakim pengadilan agama memutuskan cerai setelah
tiga kali sidang. Hak asuh kepada anak tunggal ku, karena masih berumur dua
tahun dan masih menyusu, maka jatuh ke tangan mantan istriku itu. Saat berpisah
dengan anakku, aku menangis tersedu dan nyaris kehilangan kesadaran ku. Hatiku
begitu sedih berpisah dengan anakku dan aku sangat berat berpisah dengannya.
Sedang dengan istri, aku tidak mempersoalkannya lagi. Pikirku, jika seorang
istri sudah tidak cinta dan yang ada hanya kebencian, buat apa dipertahankan
lagi. Untuk itu, cerai hanya menjadi satu-satunya kata kunci bagi hubungan kami
yang sudah berjalan empat tahun.
Dendam?
Tidak. Aku tidak dendam kepada Maimunah. Aku malah memaafkannya sejak divonis
cerai oleh pengadilan agama. Aku malah mengjakanya untuk tetap bersaudara,
seperti kakak dan adik, karena dia adalah ibu kandung dari anakku Hermina. Aku
pun, bapak kandung anak kandungnya, maka itu kami haruslah tetap bersaudara.
Sebab, suatu saat, entah kapan, kami pasti harus bertemu karena urusan anak.
“Kelak, jika Hermina menikah, akulah yang harus menikahkannya. Jika aku
meninggal, yang akan menikahkan Hermina saudara laki-laki ku atau pamanku,”
kataku, kepada Maimunah.
Maimunah
tidak menjawab dengan kata sepatah kata pun. Namun kepalanya menunduk sedikti
tanda setuju. “Titip Hermina dan jagalah, besarkan dia dengan baik. Jika Abang
sudah ada pekerjaan tetap dan menghasilkan uang, Abang akan kirim uang untuk
Hermina,” imbuh ku, yang sekali lagi dianggukkan kepala oleh Maimunah.
Di
Banjarmasin dan Martapura, Maimunah
banyak memiliki famili. Dia lahir di Banjarmasin dan besar di kota itu. Ibu dan
ayahnya pindah ke Jakarta dan sekarang mereka berdagang sembako di Pasar Koja,
Jakarta Utara. Saat aku mengantarkan mereka di pelabuhan kapal Kombiang, Samarinda,
aku tidak tahan menahan tangis. Dadaku terasa sesak dan batinku terasa ngilu,
di mana dengan sangat terpaksa berpisah dengan anak tunggalku yang masih
balita. Hermina memeluk erta tubuhku saat aku menggendongnya untuk terakhir kali.
Di luar dugaan, Hermna menangis dan dilau a sangat bersedih berpisah dengan ku,
ayah dan teman mainnya selama dua tahun. “Papa, papa, papa,” teriaknya, terus
menangis saat kapal motor Kabila 99 beranhkat meninggalkan dermaga.
Tidak
terasa airmataku terus tumpah saat aku melambaikan tangan kepada anakku.
Keadaan ini kontras dengan ekspersi Maimunah yang nyantai. Dia nampak
bersemangat pergi dan anakny ditutupinya dengan jaket agar tidak terus menangis
saat melihat diriku.
Detik
demi detik, menit demi menit kapal motor Kabila 99 meninggalkan dermaga.
Menjauh dan mengecil hingga tidak terlihat lagi dari pandanganku. Namun, walau
hatiku begitu sedih dan sesak, tapi mulutku berzikir kepada Allah Azza Wajalla.
Berserah diri kepada-Nya, mengharap pertolongan-Nya, agar kelak kami bertemu
lagi. Agar kelak, entah kapan, kami bersama lagi baik dalam suka maupun di
dalam duka. Mulutku berkomat kamit mendoakan agar Maimunah dan hermina sehat
walafiat, hidup bahagia, damai, aman dan sentosa di daerah mereka yang baru,
yang jauh dariku.
Mungkin
karena terlalu lelah perasaan, aku terduduk di dermaga dan tertidur di pojok
gudang. Saat itu aku bertekad untuk kuat, untuk tidak berputusasa, berdoa juga
ikhtiar untuk merajut kehidupan yang lebih baik. Seseorang membangunkan aku,
bertanya mengapa aku tidur di dermaga itu. Setelah aku ceritakan keadaanku,
yang baru saja mengantarkan anak tunggal ku pergi dengan ibunya ke Banjarmasin,
lelaki itu nampak terharu. Dia jatuh kasihan kepadaku tetapi aku tidak
menghrapkan belas kasih nya. Namun aku mengatakan, bahwa aku butuh kerjaan dan
pekerjaan apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan makan.
Alkisah,
ternyata pria itu bernama Mansyur Hamid, seorang ahli bangunan. Tukang bangunan
yang mengerjakan perumahan di daerah Kalimantan Timur. “Saya sedang menggarap
renovesi perumahan P.T.Expan di Sanga-Sanga. Jika kau mau, kau ikut denganku,
menjadi kernek ku, tiap hari aku akan memberi mu makan dan uang saku, Rp 50
ribu. Berminat tidak?” tanya Mansyur Hamid, serius, kepadaku.
Sejak
hari itu aku ikut Mansyur Hamid. Kami berangkat pada malam harinya menuju
Sanga-Sanga, 34 kilometer dari dermaga. Dengan sepeda motor Kawasaki Binter
Mercy 200 CC miliknya, aku dibonceng menuju Sanga-Sanga. Hamid Mansyur rupanya beristri dua. Satu istrinya tinggal di Sanga-Sanga
yang satu lagi di Samarinda. Rumah mereka di Sanga-Sanga di tepi sungai. Sungai Mahakam yang deras dan
luas. Sebuah rumah panggung dari kayu ulin yang kokoh dengan lima kamar lumayan
besar. Aku ditempatkan di satu kamar bagian depan. Dan Mansyur menawarkan bila
aku mau, selamanya aku boleh tinggal di situ selagi bekerja untuknya.
Besok
hari nya, pagi-pagi, pukul 08.00 Mansyur mengajak aku ke rumah direktur P.T.Expan.
Rumah dinas direnovasi, tambah kamar dan menmabha garasi. Aku diberi pengarahan
oleh Mansyur tentang apa yang harus kukerjakan dan aku lakukan. Jika aku belum
mendapat tugas, aku yang jsutru bertanya kepadanya, apalagi yang harus aku
kerjakan.
Mansyur
adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Hatinya tulus dan orangnya sangat
baik. Begitu juga dengan istrinya, Mbak Nilawati, yang juga sangat ramah,
menghargai semua teman-teman suaminya. Sarapan pagi bersama di meja makan dan
kami berbincang akrab. Batinku, Mansyur itu bukan orang biasa. Wajahnya tidak
ganteng dan kulitnya hitam seperti orang Kamerun, Afrika, tetapi istrinya
cantik sekali. Sementara foto istri tuanya, juga sangat cantik. “Banyak
mantra-mantar sakti mandraguna utnuk memikat gadis cantik. Aku selalu
menggunakan ilmu gaib untuk mendekati
gadis-gadis cantik,” desis Mansyur, jujur. Mansyur menawarkan ilmu-ilmu gaibnya
kepadaku, khusus untuk memikat gadis cantik, tapi aku masih mengelak. Pikirku,
tahap pertama ini aku harus bekerja dan mendapatkan penghasilan tetap.
Bagaimana menikah lagi jika untuk merokok saja aku tidak punya uang.
Yana Yuliani Malimping

Komentar
Posting Komentar